Alexa Kethzie

Alexa Kethzie
Chapter 71 : Dunia Bulan Merah


__ADS_3

Dingin... Sakit... Seluruh tubuhku seperti mati rasa...


Semuanya juga terasa sangat sepi dan gelap tanpa adanya suara...


Apakah aku sudah mati dengan mudahnya?


Pangeran Shun membuka matanya perlahan, dia mengerjapkan matanya berkali-kali hingga nyawanya kembali terkumpul.


"Hee aku tadi kan ada di... Tunggu dulu ciuman pertamaku sangat... Huaa tidak sesuai ekspektasi!" Sesal Pangeran Shun sambil memegang bibirnya, kemudian terlihat sangat frustasi.


"Ternyata selama ini kau sudah besar yah... Senang bertemu kembali denganmu Shun!" Kata seseorang dihadapannya.


Suara ini... suara ini sangat dikenali olehnya. Seseorang yang sangat berharga dalam kehidupannya. Gurunya yang sangat dihormati olehnya, Hans Whiteheart, ( Sedikit dibahas di Chap. 37 ).


"Aku sedang bermimpi, hahaha," Elak Pangeran Shun sambil menepuk pipinya. Nah kan benar tidak sakit, sepertinya dia memang sedang bermimpi.


"Tidak berguna! Kau melakukan hal itu pada ruhmu dan bukan ragamu, jelas saja kalau hal itu tidak akan sakit!" Terang Elaine sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Heeee... Oh iya kau habis men--"


"Shhhhttt!!" Cegah Elaine sambil memberikan isyarat untuk tidak melanjutkan perkataannya.


"Pangeran Shun jangan berani bicara macam-macam atau kau akan kubunuh sekarang juga!" Ancam Elaine.


Pangeran Shun tersenyum tipis, "Ternyata ada yang lebih bodoh dari aku fuufufu," ejeknya.


"Siapa?"


"Kamu!"


"Kenapa?"


"Ruh itu kan gak bisa mati b o d o h 😌😏" Ejek Pangeran Shun.


Elaine melipat wajahnya jengkel, tetapi ucapan Pangeran Shun sangat benar. Ruh itu kan bukan raga yang bisa mati, bahkan ruh yang lama tidak kembali lagi ke dalam raganya akan menjadi Rukh.


Dia hanya punya waktu 24 jam untuk membuat mereka terjebak di dunia ilusi ciptanya. Jika mereka tidak bisa keluar, maka selamanya akan berada di sana, hingga raga dan ruh mereka pecah menjadi sekumpulan Rukh.


"Agghhh!!!" Teriak Pangeran Shun tiba-tiba.


Elaine tersentak kaget, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Pangeran Shun yang sedang kesakitan sambil memegangi lehernya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Hans sambil melirik ke arah Elaine.


"Tidak tahu, aku tidak melakukan apa-apa tuh," balas Elaine santai.

__ADS_1


"Shun kau tidak apa-apa?" Tanya Hans panik.


"Sakit huhu, kayak digigit nyamuk jumbo!" Jawab Pangeran Shun membuat Hans menyeritkan alisnya.


"Nyamuk jumbo?" Tanyanya pada diri sendiri.


Pangeran Shun bangkit untuk berdiri sambil tetap memegangi bagian lehernya. Dengan cepat dia menyerang Elaine dan Elaine bahkan tidak sempat mengelak hingga terpelanting jauh.


"Hahahaha bagaimana? Aku bisa menyerang sesuka hati kan! Soalnya kau juga hanya ruh!" Ucap Pangeran Shun sambil menyeringai.


"Apa yang kau lakukan Shun!!" Pekik Hans sambil menarik keras dasi milik Pangeran Shun hingga mencekik lehernya.


"Uhuk!!..."


Katanya gak sakit kok aku malah ngerasa tercekik gini. Batin Pangeran Shun.


"Aihh sialan!" Decak Elissa kesal sambil berdiri.


Dia merasakan sakit di sekujur tubuhnya akibat dari ruhnya terluka, walaupun tidak bisa mati, ruh yang masih hidup itu terhubung dengan raganya. Jika ruhnya terluka maka raganya akan merasakan sakit.


"Jawab aku! apa yang barusaja kau lakukan?!!" Bentak Hans.


Pangeran Shun tertegun, "Maaf saja tapi aku hanya membalas perbuatan lancang adikmu," jawab Pangeran Shun dengan dingin. Dia menepis kasar tangan Hans yang menempel di dasinya.


Hans menggertakkan giginya geram, " Kau itu adalah seorang pria, tidak boleh menyerang seorang wanita yang lebih lemah darimu!"


"Shun..." Lirih Hans sambil menatap lekat ke arah Pangeran Shun.


"Berhenti menatapku seperti itu!! Aku tidak suka!" Titah Pangeran Shun sambil balas menatap tajam kearah Hans.


"Berani-beraninya kau melihat kakakku seperti itu!!" Elaine tidak terima.


"Hans yang kukenal dulu tidak mungkin melihatku dengan pandangan seperti itu! dia tahu hampir segalanya tentangku..." Tukas Pangeran Shun dengan nada yang melemah.


"Tapi kau tidak tahu segalanya tentang dia kan! Kau bahkan membunuhnya, ayah dan ibuku kau bantai tanpa ampun, kau adalah monster! Menjijikkan!!!"


Pangeran Shun tersentak, "Kau adalah monster..." Itu adalah kata-kata yang sering didengarnya sewaktu dia kecil, hampir setiap hari.


Hanya Hans saja yang mau dekat dengannya, mengajarkannya banyak hal, tetapi dia malah dengan mudahnya membunuh orang itu. Hanya karena tidak bisa mengendalikan kekuatan Saintnya.


Pangeran Shun menundukkan kepalanya, "Benar, kau benar... Aku adalah seorang monster, aku hanyalah sebuah alat..."


Elaine tersenyum licik, "Kalau begitu apakah kau ingin jadi alatku?"


"Tidak mau!"

__ADS_1


"Kenapa?!"


"Karena kamu jelek, perilakumu jelek!" Jawab Pangeran Shun.


"Kalau aku baik, kau mau jadi alatku?"


"Gak mau!


"Kenapa?!!!!"


"Karena kamu masih kurang cantik, aku sukanya orang super duper cantik 😃!"


Karena kesal Elaine kemudian beranjak pergi dari tempat yang penuh warna gelap kemerahan itu.


Tidak lama setelah itu, sebuah tanaman rambat yang terlihat hidup menyambar kaki Pangeran Shun dan mengikatnya.


"Ha! apa-apaan ini!" Pekiknya heran.


Berkali-kali tanaman itu ditebas namun berkali-kali lipat dia tumbuh hingga seluruh tubuhnya terikat pada tanaman itu dan tidak bisa bergerak.


"Makanlah," kata Hans palsu tersebut sambil menyuapkan paksa sebuah buah kecil ke dalam mulut Pangeran Shun dengan tangannya.


Buah ilusi! Itu buah ilusi?! Kalau aku memakannya maka aku akan terjerumus ke dalam mimpi burukku dan tidak pernah bisa sadar!.


"Uhukkk uhukk! Kegedean buahnya!" Keluh Pangeran Shun.


"Udah makan aja!"


"Tapi seorang pangeran sepertiku harus di potongin dulu buahnya biar bisa masuk ke mulut!"


"Haduh manja sekali!" Hans langsung memotong-motong buah itu dengan susah payah menggunakan pedang miliknya. Sementara Pangeran Shun, berusaha untuk mencari kelemahan tanaman itu selagi perhatian Hans teralihkan.


.


.


.


*****


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2