ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Keputusan Bram


__ADS_3

Kai mengangguk dan mendengarkan dengan baik semua yang Kalingga sampaikan. Bocah itu berusaha mengerti kekhawatiran Kalingga. Hubungannya akan selalu terancam selagi mereka belum memutuskan ikatan dengan keluarga Bram.


Sesampainya di rumah Bram, mereka berempat di sambut Olivia dan mamanya, Nesya. Kalingga dan ketiga adiknya menyalami keduanya dan dipersilahkan masuk.


Mereka dibawa masuk ke ruang makan dan disambut oleh Bram. Laki-laki paruh baya itu tersenyum hangat dan memeluk Kalingga beserta yang lainnya.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Bram sambil meminta semuanya mengambil tempat duduk. Dengan cepat, Olivia memposisikan diri di samping Kalingga dan duduk tepat di samping laki-laki itu.


"Kami sehat. Bagaiman denganmu, Tuan?" tanya Kalingga sopan.


"Ya, beginilah, tetap bekerja keras di masa tua karena Olivia enggan menjalankan perusahaan. Ah, andai ada yang bisa menggantikan kami," keluh Bram dengan tatapan penuh harap.


Kalingga hanya mengangguk, ia sangat paham arah pembicaraan mereka.


Tidak berselang lama, beberapa pelayan datang membawa banyak sekali menu makan malam. Mereka dijamu dengan berbagai makanan mewah dan rasa kekeluargaan yang nyaman.


Meski begitu, Kalingga dan ketiga saudaranya merasa canggung. Makanan yang tampak begitu nikmat itu terasa hambar, mereka sedang tidak berselera makan, bahkan Kai yang selalu makan dengan porsi besar pun hanya mengambil seperlunya.


"Ah, kami senang kalian bisa datang dengan formasi lengkap. Ngomong-ngomong, apakah Kai akan lulus SMA tahun ini?" tanya Nesya.


"Ya, saya lulus tahun ini," jawab Kai.


"Wah, apa kau akan melanjutkan ke perguruan tinggi?"


"Atas dorongan calon kakak ipar saya, saya siap melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Lagi pula, ini demi masa depan saya agar bisa sukses seperti ketiga kakak saya," jelas Kai dengan rasa bangga.


"Calon kakak ipar?" Nesya bertanya dengan raut wajah penasaran. Ia tidak pernah mendengar rumor apapun tentang empat bersaudara di depannya.


"Kita bicarakan nanti," sela Bram tegas. Ia tidak mau membuat suasana makan malam mereka terganggu.


Semua orang kembali diam dan fokus pada apa yang ada di piring mereka masing-masing, sementara Olivia, ia mulai mencuri-curi pandang dan meletakkan sebelah tangannya di atas paha Kalingga.


Kalingga menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Ia berusaha mengontrol diri agar tidak terbawa emosi. Beberapa kali Kalingga menepis tangan Olivia di bawah meja, wanita itu berusaha terus merabanya.

__ADS_1


Merasa kesabarannya sudah menipis, Kalingga meraih lengan Olivia dan mendekatkan kepala mereka.


"Jangan melewati batas. Kau tahu aku tidak tertarik," bisik Kalingga dengan penuh penekanan. Terdengar dengkusan kasar keluar dari mulut Olivia, membuat semua orang melihat mereka dan berpikir yang bukan-bukan.


Setelah makan malam selesai, Bram meminta mereka semua berkumpul di ruang tengah. Laki-laki paruh baya itu ingin meluruskan segala yang seharusnya ia jelaskan sejak awal pada Kalingga, serta tujuannya mengundang mereka semua datang ke rumah ini.


"Kami dengar, karirmu makin bagus, Keenan. Kami turut senang dan bangga kau sukses dengan caramu," ucap Bram saat mereka semua sudah duduk di sofa panjang mengelilingi meja kaca.


"Terima kasih. Ini berkat dukungan ketiga saudara saya," jawab Keenan.


"Dan kau, Kylan. Namamu sudah terdengar hingga ke luar negeri sebagai fotografer yang handal."


"Terima kasih, Tuan. Itulah gunanya bekerja keras," jawab Kylan dengan sopan tanpa mengurasi kesombongan.


Kai tersenyum kecil dengan apa yang baru saja Kylan katakan. Bagaimana kakaknya bisa setenang ini saat suasana ruangan terasa panas bagai duduk di dalam lingkaran api.


"Apa kalian sudah menentukan ke arah mana tujuan hubungan kalian?" tanya Bram pada Kalingga dan Olivia.


"Tidak, Tuan. Kami hanya sebatas teman, dan selamanya akan tetap begitu. Tidak ada sesuatu yang terjadi di antara kita," tegas Kalingga.


"Selama ini dia mengabaikanku, Pa!" seru Olivia. Ia sudah tidak sabar ingin mengeluarkan segala rasa kesal dan kekecewaannya terhadap Kalingga. Bram mengangkat tangan, meminta putri tunggalnya untuk diam.


"Bukankah kau menjanjikan sesuatu pada kami, Kalingga?" tanya Nesya.


"Saya berjanji akan menjaga Olivia, menganggapnya sebagai keluarga. Namun dia bisa mengurus dirinya sendiri, dan saya lebih senang menganggapnya sebagai seorang adik."


"Kau keterlaluan!" gumam Olivia.


"Apakah calon kakak ipar yang dimaksud oleh Kai adalah wanita yang merebut hatimu?" Bram kembali bertanya.


"Benar."


"Apa kami mengenalnya?"

__ADS_1


"Kalian tidak mengenalnya, tapi mungkin pernah mendengar namanya," sela Keenan.


"Hah, dia maid di rumah mereka, Pa." Olivia memberi jawaban.


"Dulunya, tapi sekarang dia calon kakak ipar kami dan model terkenal. Namanya Jovanka, dia juga pernah menjadi model Anyelir beberapa waktu lalu," jelas Kai dengan senyum kemenangan. Ia tidak akan membiarkan siapapun merendahkan keluarganya.


Bram memandang Olivia dan Kalingga secara bergantian. Ia paham jika putrinya sangat menginginkan Kalingga, namun bagaimanapun mereka berusaha, memaksakan perasaan orang lain tidak akan pernah bisa berakhir baik.


"Kita sudah mendengarnya. Baiklah, tidak masalah," ucap Bram setelah beberapa menit terdiam dan tenggelam dengan pemikirannya sendiri.


"Pa!" seru Olivia kesal. Bagaimana bisa papanya akan melepaskan Kalingga begitu saja.


Bram hanya melirik Olivia sambil menggeleng samar. Meminta anaknya untuk tidak memaksakan segala kehendaknya.


"Saya tahu anda kecewa, tapi saya berterima kasih atas segala pengertiannya." Kalingga mengangguk sopan dan menyalami Bram.


Laki-laki paruh baya dengan tubuh sedikit tambun dan rambut sepenuhnya beruban itu tersenyum kecil pada Kalingga. Jauh sebelum hari ini, ia menganggap lelaki muda di depannya ini seperti anaknya sendiri.


Olivia nampak sangat marah, wajahnya memerah dengan kedua tangan mengepal erat. Ia sangat kecewa dengan Kalingga, namun lebih kecewa dengan keputusan yang diambil oleh papanya.


"Terima kasih sudah mengundang kami. Maaf jika kami mengecewakan anda," ucap Keenan sebelum pergi.


Mereka akhirnya pamit, meninggalkan rumah megah dengan tiang-tiang besar menjulang tinggi. Kalingga merasa lega, pada akhirnya semua berakhir baik.


"Pa, kenapa membuat keputusan tanpa menanyakan perasaanku?" tanya Olivia pada Bram.


"Bagaimana bisa kalian hidup bersama jika Kalingga bahkan tidak menaruh hati padamu sama sekali?" tanya balik Bram. Ia tahu putrinya begitu kesal, namun sebagai orang tua yang bijak, ia tidak bisa melakukan lebih dari ini. Baginya, keputusan tetap ada di tangan Kalingga.


"Papa hanya perlu memaksanya menikahiku. Setelah itu, aku akan membuatnya mencintaiku," rengek Olivia. Ia menangis dan memohon pada Nesya.


"Tidak semudah itu, Olivia. Ada wanita lain di hatinya. Berhentilah memaksakan kehendakmu!"


"Aku akan melakukannya sendiri dengan caraku!" seru Olivia sambil berjalan keluar dari rumah.

__ADS_1


🖤🖤🖤


__ADS_2