
Sepanjang perjalanan pulang, Kalingga tidak terlalu banyak bicara. Laki-laki itu terlihat murung dan banyak merenung. Jojo hanya berusaha menghibur, namun membiarkan Kalingga menyesali setiap sikapnya pada Merlinda.
Sesampainya di rumah, Jojo melihat banyak sekali hadiah berbungkus dari yang ukuran kecil hingga ukuran besar. Hadiah itu berasal dari para tamu undangan pesta pernikahan mereka yang dikirim oleh seorang pesuruh Kalingga.
Jojo menunda membuka semua hadiah karena sudah merasa lelah. Sementara itu, ia berjalan ke kamar lamanya berniat memindahkan barang-barangnya.
"Apa yang kau cari, Sayang?" tanya Kalingga sambil memeluk Jojo dari belakang. Gadis itu hanya berdiri melihat isi lemari yang telah bersih.
"Sayang, apa kau memindahkan semua barang-barangku?" tanya Jojo sambil menelengkan kepalanya.
"Tentu saja, agar kita bisa cepat tinggal di dalam kamar yang sama," jawab Kalingga.
Laki-laki itu lalu menggandeng tangan istrinya naik ke lantai atas. Kini Jojo semakin terkejut melihat perubahan kamar Kalingga. Bahkan laki-laki yang baru saja resmi menjadi suaminya itu mengganti banyak sekali furniture miliknya. Termasuk ukuran tempat tidur yang lebih luas, dekorasi kamar yang lebih cerah dan beberapa foto prewedding mereka tergantung besar di dinding.
"Ah, aku terkejut," gumam Jojo. Ia tersenyum dan menatap Kalingga hangat.
"Kau suka?"
"Tentu, aku suka. Apa kau melakukan semua ini saat kita berpisah sementara?"
"Hmm, aku melakukan apa saja untuk mencari kesibukan. Jika aku duduk diam, aku akan kesal karena merindukanmu," jelas Kalingga.
Jojo memeluk Kalingga, menenangkan hati laki-laki yang kini diselimuti dengan berbagai perasaan yang membuatnya lelah dan tertekan.
Setelah melihat Kalingga bisa tersenyum, Jojo segera meminta laki-laki itu pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selama Kalingga di kamar mandi, Jojo menghapus riasan di wajahnya. Membersihkan wajah dengan pembersih dan pelembab untuk menyegarkan kembali kulitnya. Kini ia memiliki suami yang harus selalu di manjakan dengan penampilannya, Jojo berusaha sebaik mungkin agar Kalingga tidak akan pernah bosan melihatnya selama dua puluh empat jam seumur hidupnya.
Saat asik di depan cermin, ponsel Jojo berdering. Rupanya Kai meneleponnya.
"Kakak Ipar, jangan datang ke rumah sakit. Hari ini sampai besok pagi kami akan menjaga Mama. Kirimkan saja pakaian ganti dan keperluan aku, Kak Keenan dan Kak Kylan. Kalian bisa datang besok pagi," jelas Kai. Bocah itu bahkan tidak memberi kesempatan Jojo untuk menyela.
"Tapi, Kai." Jojo berniat protes, namun Kai menghentikannya.
__ADS_1
"Hei, ini malam pertama kalian. Nikmati saja duduk manis di rumah, jangan khawatirkan kami. Lagi pula Mama sudah mendapatkan perawatan bagus. Kami yakin Mama akan baik-baik saja," tegas Kai. Tanpa menunggu Jojo memberi jawaban, bocah itu mematikan ponsel tanpa pamit.
Jojo menghela napas panjang. Sebenarnya ia tidak keberatan jika merelakan hari-hari pertamanya menjadi seorang istri untuk ikut membantu mengurus Merlinda. Namun sepertinya saudara dari suaminya itu sangat pengertian.
"Siapa, Sayang?" tanya Kalingga saat ia baru saja keluar dari kamar mandi. Laki-laki itu bertelanjang dada dengan tangan sibuk menggosok rambutnya yang basah.
"Ah, Kai. Dia bilang kita tidak perlu ke rumah sakit, mereka akan ada di sana sampai besok pagi. Jadi kita akan ke sana untuk menggantikan mereka," jelas Jojo.
"Baiklah," jawab Kalingga lirih.
Laki-laki itu masih sibuk menggosok rambutnya dengan handuk kecil, sementara bagian bawah tubuhnya ditutupi oleh handuk putih berukuran sedang.
Karena Jojo sudah pernah melihat Kalingga dalam keadaan seperti ini saat berada di Amerika beberapa waktu lalu, gadis itu tidak merasa gugup.
Kalingga berdiri di belakang Jojo sambil memperhatikan istrinya menyisir rambut di depan cermin. Setelah selesai dengan urusan rambut, Jojo berdiri. Ia meminta Kalingga istirahat sementara dirinya mandi.
"Apa kau akan ke kamar mandi dengan gaun ini?" tanya Kalingga.
"Aku akan melepasnya di dalam, Kak."
Jojo baru sadar, ia meraba punggungnya dengan tangan, namun sayangnya ia butuh bantuan.
"Kemari, aku akan membantumu," ucap Kalingga. Ia menarik tubuh Jojo dan berdiri setengah menunduk di balik punggung istrinya.
Perlahan, Kalingga mulai menurunkan resleting gaun milik Jojo. Namun sepertinya hal itu tidak mudah bagi Kalingga, ia menelan ludah kasar saat memperhatikan punggung cantik sang istri.
Sementara Jojo, wanita itu berdiri dengan tubuh dingin. Ia gugup sekaligus malu. Ia merasa tangan di punggungnya tidak berniat membantunya, melainkan mempermainkan perasaannya.
"Kak, bisakah kau cepat?" tegur Jojo.
"Kenapa?" tanya Kalingga. Tiba-tiba tangan laki-laki itu bergerak nakal meraba punggung istrinya. Sesekali, ia bahkan mendaratkan kecupan lembut hingga membuat sekujur tubuh Jojo terasa berdesir.
Saat bagian punggung terbuka, kini Kalingga mendekatkan tubuh mereka. Laki-laki bertelanjang dada itu merapatkan tubuh pada punggung wanita yang telah sah menjadi istrinya beberapa jam lalu.
__ADS_1
Dengan gerakan lembut, Kalingga mencium Jojo dari tengkuk leher hingga telinga. Wanita itu ingin bergerak menjauh, melanjutkan niatnya untuk segera mandi. Namun kakinya seakan dipaku bumi, sangat berat meninggalkan laki-laki yang mulai bertingkah di belakangnya.
Bergerak pelan, Kalingga membalik tubuh Jojo hingga mereka berdiri saling berhadapan.
Keduanya bertatapan lama dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan. Banyak cinta dan pengharapan yang tergambar untuk impian masa depan mereka. Dan kini keduanya telah dipersatukan dalam sebuah ikatan sakral.
"Boleh aku menciummu?" tanya Kalingga lirih.
"Sepenuhnya, aku adalah milikmu!"
Jojo mengalungkan kedua tangannya di leher Kalingga. Sementara laki-laki itu mulai menurunkan tangan hingga ke pinggang Jojo.
Mereka melakukan sesuatu yang lebih dari sebuah kecupan. Keduanya saling mengecap, meresapi setiap rasa dalam gairah yang sama.
Beberapa menit berlalu, mereka hanya saling mencumbu. Memastikan jika apa yang kini sedang keduanya rasakan adalah kebahagiaan yang nyata.
"Aku harus mandi, Sayang," ucap Jojo.
"Mau ku temani?" tawar Kalingga.
"Nakal!" Jojo mencubit pinggang laki-laki itu. Namun karena terlalugemas dan bersemangat, Jojo tidak sengaja menarik handuk yang terselip di pinggang suaminya.
"Sayang!" ucap Kalingga sambil gelagapan membenarkan posisi handuknya. Beruntung, handuk itu hanya sedikit lepas namun tidak sampai terjatuh.
"Ah, aku melihatnya," gumam Jojo sambil berkedip cepat. Ia menelan ludah kasar, pikirannya mulai dipenuhi dengan sekelebat bayangan di balik handuk Kalingga.
"Kau sunggu melihatnya?" tanya Kalingga dengan mata melotot lebar.
"Tidak, Sayang. Aku tidak melihatnya," ucap Jojo sambil berbalik. Ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi dan mengunci pintunya rapat.
"Aku tidak hanya melihatnya, aku bahkan bisa merasakannya saat kau memelukku," batin Jojo sambil memejamkan mata.
Ia mulai gelisah, karena ini adalah pertama kali dalam hidupnya, melihat dan merasakan sesuatu yang tidak biasa.
__ADS_1
Sementara Kalingga, ia bergegas masuk ke ruang ganti untuk mengambil pakaian. Mengapa ia malu saat Jojo tidak sengaja melihat bagian terbaik dalam tubuhnya? Laki-laki itu merasa heran pada dirinya sendiri.
🖤🖤🖤