
Pikiran Jojo kini dipenuhi dengan prasangka buruk tentang Kai. Gadis itu merasa gelisah.
"Oh, ya. Ke mana motormu, Kai?" tanya Kylan. "Semalam aku tidak melihatnya ada di garasi," lanjutnya.
"Ada di bengkel, Kak," jawab Kai.
"Ada apa? Apakah ada yang rusak? Bukankah baru satu bulan yang lalu kau mengganti oli dan melakukan servis rutin?" sela Kalingga.
Semua orang mengalihkan pandangan pada Kai. Tidak hanya Jojo, rupanya yang lain juga merasa curiga. Kai sangat menyayangi motornya, motor itu terawat dengan baik dan selalu rutin melakukan pengecekan kondisi. Bagaimana bisa tiba-tiba berada di bengkel?
"Motornya ambruk di parkiran sekolah. Jadi, ada yang harus di perbaiki. Bodi samping ada yang retak," jawab Kai.
"Kapan selesai?"
"Nanti sore kemungkinan sudah bisa diambil, Kak."
"Minta struk tagihannya. Aku akan membayarnya," sela Keenan. Kai mengangguk, namun tidak menunjukkan rasa senang meski Keenan bersedia membayar. Seharusnya bocah laki-laki itu bahagia karena tidak perlu meminjam uang pada Jojo.
Setelah sarapan, semua kembali ke kamar masing-masing. Jojo membereskan semua bekas piring dan gelas lalu mencucinya dengan cepat. Ia mendatangi kamar anak-anak asuhnya untuk mengambil baju kotor mereka.
"Kak, apa Kai baik-baik saja?" tanya Jojo pada Keenan. Laki-laki itu sedang duduk di sofa dengan laptop menyala di atas pangkuannya.
"Dua hari lalu aku sempat memarahinya, sekolah dari pagi sampai pukul delapan malam baru pulang. Memangnya apa yang dilakukannya di sekolah," gerutu Keenan.
"Dia bilang apa?"
"Katanya ada kegiatan ekstrakulikuler di sekolah."
"Dia sudah kelas tiga, Kak. Biasanya pihak sekolah tidak memberi kegiatan seperti itu untuk siswa akhir tahun, karena khawatir akan mengganggu kegiatan belajar mengajar inti. Kelas tiga biasanya fokus untuk persiapan ujian," jelas Jojo.
"Lalu menurutmu bagaimana?" tanya Keenan. Dalam hal seperti ini saja Keenan merasa kesulitan mengendalikan adiknya.
"Jangan khawatir. Aku akan bicara padanya," ucap Jojo. Ia membereskan pakaian Keenan yang berserakan di ruang ganti dan memasukkannya ke dalam keranjang.
Setelah keluar dari kamar Keenan, Jojo masuk ke dalam kamar Kylan. Ia sudah tidak melihat batang hidung laki-laki itu. Kamar Kylan lebih berantakan dari yang lain. Kabel charger laptop berserakan di lantai. Kylan bahkan tidak pernah membereskan kasur dan selimutnya setelah bangun tidur.
__ADS_1
Jojo keluar dari kamar Kylan membawa setumpuk baju kotor dan mencampurnya dengan milik Keenan. Saat akan masuk ke dalam kamar Kai, ia mendengar suara bocah laki-laki itu berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon.
Kai terdengar sedang memarahi seseorang, Jojo segera masuk dan menangkap basah anak bungsunya.
"Hei, Jojo. Aku baru akan berangkat," ucap Kai. Ia mematikan ponselnya dan meraih tas sekolah yang tergeletak di atas kasur.
"Kenapa terlihat marah? Apa kau sedang punya masalah?" tanya Jojo.
"Tidak, siapa yang marah. Baiklah, aku pergi dulu," pamit Kai. Ia berjalan melewati Jojo.
"Hei, kau tahu, Kai. Aku bisa membaca gerak-gerik pembohong. Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu," ucap Jojo. Kai mengabaikan ucapan gadis itu dan segera keluar dari kamar.
Jojo menyusul Kai, mengantar bocah laki-laki itu sampai ke depan gerbang. Pagi ini sudah ada seorang teman sekolahnya yang menunggu di depan gerbang rumah. Mereka berangkat bersama karena Kai sedang tidak memiliki tumpangan.
Setelah memastikan Kai sudah pergi, Jojo kembali masuk. Ia melihat Keenan sudah bersiap, laki-laki itu akan pergi ke lokasi syuting sebuah reality show.
"Bagaimana penampilanku?" tanya Keenan saat ia berpapasan dengan Jojo di bawah anak tangga.
"Tampan, seperti biasa," jawab Jojo. Tidak ada jawaban lain untuk menilai penampilan laki-laki itu setiap waktu. Selalu tampan seperti biasa.
Jojo tertawa kecil, ia membiarkan Keenan pergi sebelum laki-laki itu terlambat, sementara dirinya kembali ke kamar Kai untuk melanjutkan pekerjaannya.
Di antara Keenan, Kylan dan Kai. Orang yang menghasilkan baju kotor terbanyak adalah Kai. Selain seragam sekolah, bocah itu juga suka berganti pakaian jika sedikit saja terkena keringat.
Jojo membawa satu keranjang penuh baju kotor ke dalam ruang cuci. Ia membagi pakaian berwarna putih dengan warna lain, kemudian memasukkannya ke dalam mesin cuci secara terpisah. Selama mesin berputar, gadis itu terus memikirkan Kai. Ia melamun sembil duduk di depan mesin.
"Jo, sedang apa?" suara Kalingga yang datang tiba-tiba membuat Jojo terkejut.
"Hei, Kak. Aku tidak mendengarmu datang," jawab Jojo.
"Ada apa? Kenapa melamun di sini?" Kalingga penasaran, ia duduk berjongkok di depan Jojo.
"Ah, tidak. Kenapa kau belum pergi bekerja?"
"Aku baru akan pergi. Oh ya, ini pakaianku, tolong kau cuci, ya?" ujar Kalingga. Ia menyerahkan satu keranjang kecil berisi beberapa pakaian pada Jojo.
__ADS_1
"Baik, Kak."
"Pukul berapa kau berangkat kuliah?"
"Nanti, pukul sembilan. Sepertinya aku akan pulang sedikit terlambat karena harus mengejar beberapa tugas yang aku tinggalkan saat kita pergi, Kak," jelas Jojo.
"Tidak apa-apa. Jangan memasak untuk makan malam, aku akan membelinya nanti," ucap Kalingga.
"Terima kasih, Kak. Kau pengertian sekali."
"Jaga diri baik-baik. Aku pergi dulu," pamit Kalingga. Jojo melambaikan tangan tanpa berpindah posisi. Ia melihat Kalingga meninggalkan ruang cuci dan berjalan keluar.
Kini rumah kembali sepi, semua penghuninya telah pergi untuk melakukan kegiatan mereka. Sementara Jojo, ia sibuk dengan pikirannya tentang Kai.
Tepat pukul sembilan, semua pekerjaan Jojo telah selesai. Ia juga sudah bersiap dan hendak pergi ke kampus.
Saat keluar dari rumah, ia melihat mobil Kalingga memasuki halaman.
"Kak, apakah ada yang tertinggal?" tanya Jojo.
"Ya, beberapa berkasku ketinggalan. Kau mau berangkat?" tanya balik Kalingga. Jojo mengangguk.
"Bagus. Aku akan ke kamar untuk mengambil berkas dan akan mengantarmu ke kampus. Tunggu di sini," pintanya. Kalingga berlari masuk ke dalam rumah.
Tidak lebih dari lima menit, laki-laki itu sudah kembali. Ia membuka pintu mobil untuk Jojo dan mempersilahkan gadis itu masuk.
"Berkas apa yang kau ambil?" tanya Jojo. Karena ia melihat Kalingga masuk dan keluar rumah tanpa membawa apapun.
"Ah, ya. Rupanya berkas yang aku cari juga tidak ada di kamar. Entah, mungkin aku lupa meletakkannya di mana," jawab Kalingga. Laki-laki itu menggaruk rambutnya dan tersenyum kaku.
"Aku bisa membantumu mencarinya, Kak. Ayo, kita cari," ucap Jojo. Ia hendak membuka pintu mobil berniat keluar, namun Kalingga segera mencegahnya.
"Tidak perlu, Jo. Aku akan menanyakannya pada sekretarisku. Siapa tahu dia menyimpan salinannya," tolak Kalingga.
🖤🖤🖤
__ADS_1