
Selama perjalanan, Jojo tidak merasa curiga sama sekali. Lagi pula sopir di bangku depannya terlihat baik dan sopan. Bahkan ia menanyakan kegiatan Jojo hari ini.
Tidak terlalu jauh dari tempat Jojo dijemput, mobil masuk ke halaman sasana, yaitu gelanggang atau tempat berlatih tinju. Di saat ini, Jojo merasa aneh, sejak kapan Kalingga menyukai tinju?
Gadis itu berdiri cukup lama di samping body mobil dan mengirim pesan pada Kai, ia mengirim lokasi terkininya pada bocah itu. Jojo memperhatikan sekitar, ia juga mulai menghafal plat nomor dari mobil yang membawanya.
"Silahkan, Nona." Laki-laki yang sejak awal menjadi sopir itu memimpin jalan dan memintanya masuk.
Tempat yang cukup luas dan menyediakan beberapa ruangan khusus untuk di sewa sebagai tempat latihan ini tidak tampak menakutkan bagi Jojo. Gadis itu terus berjalan masuk mengikuti langkah kaki orang di depannya.
Saat masuk ke sebuah ruangan luas berdinding kaca transparan4, Jojo tidak terkejut melihat seorang wanita berpakaian olahraga ketat sedang melatih pukulan tangannya pada sebuah samsak, yaitu karung berisi pasir yang digunakan untuk berlatih tinju.
Jojo tersenyum samar sambil menggelengkan kepala pelan, tidak menyangka jika ini menjadi sebuah kejutan yang tidak pernah ia pikirkan.
"Jika kau perlu bicara, seharusnya tidak perlu repot-repot menyuruh orang menjemputku," ucap Jojo.
Wanita yang ia ajak bicara masih belum menjawab, dengan tubuh berkeringat dan rambut di kuncir kuda, wanita itu tampak sangat kuat memukulkan sarung tinjunya.
Beberapa menit menunggu, Jojo mulai merasa bosan karena Olivia mengabaikannya.
"Jadi, kau membawaku ke sini untuk bicara atau memamerkan kemampuanmu?" tanya Jojo lagi. Ia mendekati Olivia tanpa rasa takut.
Olivia menghembuskan napas kasar, ia mengambil botol air minum lalu membersihkan keringat di wajahnya dengan handuk. Ia menatap Jojo dengan tatapan penuh kebencian.
"Orang tuaku melepaskan Kalingga begitu saja, dan mereka mengancam akan memblokir semua kartu kredit serta mengambil semua fasilitas jika aku mengganggu Kalingga," jelas Olivia.
"Bagus, ternyata mereka orang tua yang bijak," jawab Jojo.
"Anggap saja kita sedang bermain-main sebelum aku benar-benar merelakan Kalingga. Kau setuju?" tawar Olivia.
__ADS_1
Wanita itu memberi isyarat pada laki-laki bertubuh besar di ujung ruangan untuk membawakan Jojo pakaian ganti. Selang beberapa detik, Olivia melempar sebuah pakaian olahraga berwarna hitam ke wajah Jojo.
"Untuk apa?" tanya Jojo.
"Bermainlah denganku, kita harus bersenang-senang."
"Tidak ada gunanya melakukan ini bersamamu. Aku harus pergi," tolak Jojo sambil membuang pakaian yang dilempar oleh Olivia.
Saat Jojo hampir mendekati pintu keluar, dua orang bertubuh besar menghalangi pintu. Mereka tidak mengizinkan Jojo keluar dari sana.
"Apa kau takut? Takut jika aku melukai wajahmu yang begitu dicintai oleh Kalingga?" ejek Olivia.
Jojo menarik napas panjang, ia segera berbalik dan mengambil pakaian di depan Olivia.
"Pilihan bagus. Cepatlah, aku sedang sangat bersemangat," ucap Olivia senang. Wanita itu terlihat sangat percaya diri dan merasa menang bisa membawa Jojo ke tempat ini.
Selang beberapa menit, Jojo sudah berganti pakaian dan kembali. Gadis itu mendekati Olivia dan menatap tajam mata wanita itu.
"Dalam persaingan yang sudah dipastikan kekalahannya, mundur adalah jalan terbaik," bisik Jojo. "Bermainlah dengan adil, jika tidak, kau akan menyesalinya."
Saat Olivia dan Jojo baru saja naik ke atas ring, terdengar Kai berteriak dari arah luar sambil memukul dinding kaca. Olivia memberi isyarat pada penjaganya untuk membawa Kai masuk, namun dengan cepat, kedua penjaga merampas ponsel Kai.
"Hei, kembalikan ponselku," seru Kai. Ia terlihat marah saat melihat Olivia menjadi dalang dari semua ini.
Kai marah dan memberontak, ia berusaha merebut ponselnya namun tenaga dan tubuhnya tidak sekuat penjaga Olivia.
Jojo kembali turun dari atas ring dan menghampiri Kai. Gadis itu khawatir jika orang-orang itu melukai calon adik iparnya.
"Jangan menyentuhnya!" seru Jojo memperingatkan. Ia menyeret Kai menjauhi dua orang bertubuh kekar di samping pintu.
__ADS_1
"Bagaimana dengan ponselku? Aku harus menghubungi Kakak," ucap Kai.
"Kita akan menghubunginya setelah aku selesai dengannya," jawab Jojo. Ia meminta Kai duduk diam dan tidak melakukan apapun, setelah memastikan calon adik iparnya akan baik-baik saja, Jojo kembali ke atas ring.
"Kau sangat berani rupanya," decak Olivia dengan senyum miring.
"Aku ingin kita bermain dengan adil, lepas sarung tanganmu. Kita bermain dengan tangan kosong!" seru Jojo.
Olivia tertawa, ia menerima tantangan Jojo. Memangnya apa yang bisa gadis itu lakukan? Olivia begitu percaya diri karena ia sudah sangat terlatih.
Sementara di bawah ring, Kai mengutuk kebodohannya. Seharusnya ia menghubungi ketiga kakaknya saat merasa ada yang mencurigakan. Bukannya sok jagoan ingin menolong Jojo seorang diri.
Kai begitu kesal, ia tidak tahu harus berbuat apa. Kini, bocah itu hanya bisa duduk diam dan melihat Jojo di atas ring sedang melawan Olivia.
Dua orang di atas ring itu memulai aksi mereka, Olivia begitu percaya diri menyerang Jojo bertubi-tubi, namun Jojo begitu lihai menangkis setiap pukulan dan menghindari tendangan. Meski begitu, Kai tidak merasa tenang.
"Jangan menghindar, lawan aku!" tantang Olivia.
"Jangan banyak bicara, lakukan saja sesukamu!"
Jojo mengamati pola gerakan Olivia sambil mencari celah sampai wanita itu lengah. Jojo sangat berhati-hati karena Olivia sangat gesit dan terus menyerang tanpa memberinya kesempatan.
Saat Olivia mengatur napasnya perlahan, Jojo mendapatkan kesempatan dan memberi satu tendangan keras dengan kaki kanannya, tendangan itu berpusat pada tumit dan telapak kaki Jojo, tubuh gadis itu miring lebih rendah dari kakinya hingga menyasar tepat di bawah dagu Olivia.
"Wooooooaaaahhhh." Kai berteriak keras dengan mata melotot lebar. Bocah itu itu bersorak gembira dan bertepuk tangan. Hampir satu menit, Kai merasakan sesak napas karena takut terjadi sesuatu pada calon kakak iparnya. Namun sekarang, Kai begitu bersemangat.
Olivia meludah, merasakan nyeri di rahang bawahnya. Namun rasa sakit itu membuatnya semakin marah. Dan kemarahan itu membuat Olivia memukul dan menendang tanpa perhitungan, hingga memudahkan Jojo membaca gerakan wanita itu.
"Kau salah memilih lawan!" seru Jojo.
__ADS_1
"Ayo Kakak Ipar, ayo!" teriak Kai memberi semangat. Bocah itu mengepalkan kedua tangan sambil memukul angin.
🖤🖤🖤