
"Aku tidak bisa berjanji, tapi akan ku usahakan," jawab Jojo. Gadis itu menutup telepon dan bingung. Tidak mungkin ia tega meninggalkan Keenan di rumah sakit sementara anak asuhnya yang lain sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.
Tanpa Jojo sadari, Kalingga mendengarkan percakapan singkat gadis itu dan langsung memeluknya dari belakang. Kalingga meletakkan dagunya di bahu Jojo dan tersenyum.
"Pergilah, Keenan akan baik-baik saja."
"Aku tidak tega meninggalkannya," ujar Jojo. Bagaimanapun, Keenan seperti ini juga akibat dari kecerobohannya.
"Tapi kau tega meninggalkanku."
"Kak, kapan aku melakukan itu?" Jojo melepaskan diri dari pelukan Kalingga.
"Kau memang tidak meninggalkan ragaku, tapi sempat meninggalkan hatiku," ucap Kalingga manja.
"Itu masalah lain, Kak." Jojo membantah. Kalingga kembali mendekati gadis itu dan merapatkan tubuh mereka.
"Bukankah sudah ku bilang bahwa kau tidak boleh menyentuh kulit laki-laki lain? Kenapa masih ingin melakukannya?" tanya Kalingga.
"Kapan? Aku tidak pernah ingin seperti itu," kilah Jojo.
"Aku baru mendengar hal itu tiga puluh menit yang lalu. Kau ingin memijat kepala Keenan?"
"Kak, dia adikmu!" seru Jojo heran. Mengapa laki-laki ini sangat sensitif, menyentuh Keenan saja Kalingga merasa cemburu.
"Sama saja. Tidak ada yang tahu apakah dengan sentuhan itu nantinya Keenan jadi jatuh cinta padamu. Bisa saja, kan?"
Jojo hanya menggeleng pelan. Kini hidupnya akan semakin sulit demi menjaga perasaan laki-laki yang resmi menjadi kekasihnya sejak dua jam yang lalu.
"Ah, dia sangat kekanak-kanakan. Tapi aku suka!" batin Jojo.
Jojo tidak bisa mengubah rasa cemburu laki-laki itu, namun ia berusaha meyakinkan jika Keenan tidak akan punya perasaan lebih padanya. Karena selama ini, mereka berdua sudah selayaknya seorang kakak dengan adiknya.
"Aku percaya padamu."
Setelah percakapan yang cukup meresahkan, Jojo meminta Kalingga pergi dan menemani Keenan. Sementara ia harus melakukan revisi untuk skripsinya yang selalu tertolak.
Malam ini, Kalingga meminta Jojo beristirahat di kamar khusus keluarga, sementara ia akan tidur di sofa dekat tempat tidur Keenan agar bisa memantau langsung adiknya.
Keenan terlalu banyak tidur di siang hari, jadi ia merasa kesulitan tidur saat malam, dan Kalingga dengan sabar menemaninya mengobrol.
🖤🖤🖤
Pagi-pagi, Jojo terbangun dan tidak mendapati Kalingga ada di samping Keenan. Gadis itu mencari ke dapur hingga lorong depan ruangannya.
__ADS_1
"Apa kau kehilangan sesuatu?" tanya Keenan. Ia melihat Jojo mondar mandir dan keluar masuk ruangan tanpa mengatakan apapun.
"Apa kau melihat Kakak?" tanya Jojo.
"Dia keluar untuk membeli makanan. Kakak tidak suka makan rumah sakit," jawab Keenan.
"Kenapa tidak menyuruhku saja atau aku bisa memasak sendiri," gumam Jojo.
Gadis itu akhirnya duduk di sofa dan bermain ponsel. Beberapa pesan masuk dari Kai sejak semalam bahkan lupa ia balas. Kalingga benar-benar mengalihkan konsentrasinya.
Selang beberapa menit, Kalingga masuk ke dalam ruangan dengan dua nasi kotak di dalam kantong plastik.
"Kak, seharusnya kau membangunkanku," protes Jojo.
"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri," ucap Kalingga sambil mengusap pucuk kepala gadis itu. Ia tahu jika Jojo sudah melewati hari yang amat melelahkan selama seharian, dan Kalingga tidak tega membangunkan gadis itu pagi-pagi sekali.
Kalingga menyerahkan satu kotak nasi untuk Jojo dan memintanya untuk segera sarapan.
"Kenapa kau tidak membeli untuk kak Keenan juga, Kak?" tanya Jojo.
"Makanan dari rumah sakit ini sangat banyak, biarkan dia menghabiskannya," jawab Kalingga. Jojo hanya bisa melongo mendengar jawaban itu. Tega sekali, batinnya.
Jojo mendekati Keenan dan menawarkan nasi kotak miliknya untuk Keenan, namun laki-laki itu menolak karena tidak berselera makan, ia lebih memilih makan bubur ayam dari rumah sakit.
Jojo hanya mengangguk dan menyusul Kalingga yang sudah duduk di ruang menonton televisi. Tempat perawatan Keenan ini begitu besar dan luas, dalam satu area saja terdapat dua televisi yang terletak di ruang Keenan dan ruang khusus keluarga.
"Makan yang banyak. Kau terlihat kurus akhir-akhir ini," ucap Kalingga.
"Benarkah?"
"Hmm. Apa kau tersiksa karena sempat menolak cintaku?"
"Kak!" seru Jojo. Gadis itu melotot. Mengapa pembahasan laki-laki ini selalu tentang hal itu.
Setelah menyelesaikan sarapan, tiba-tiba Kylan datang. Laki-laki itu datang sendirian dan menanyakan kabar Keenan.
"Aku bisa menjaga Kakak dan libur hari ini. Kau bisa pergi ke kampus, Jo!" ujar Kylan.
"Tidak. Aku akan menemani Kakak."
"Hei, ini semester terakhirmu. Cepat pergi dan urus tugas kuliahmu."
"Apa kau yakin tidak apa-apa jika hari ini libur?" tanya Jojo lagi. Ia sendiri sudah punya jadwal untuk menemui dosen pembimbing pagi ini.
__ADS_1
"Aku tidak akan jatuh miskin hanya karena libur selama beberapa hari," ucap Kylan.
"Sombong!" gumam Jojo. Gadis itu mendekati Keenan dan mengatakan jika dirinya harus pergi ke kampus beberapa jam, lalu datang ke kantor agensi dan berjanji akan kembali dengan cepat.
"Pergilah, aku akan baik-baik saja." Keenan tersenyum.
"Aku akan mengantarmu," sela Kalingga tiba-tiba.
"Kak, temani Kylan di sini!" tegur Jojo.
"Aku harus ke kantor untuk mengurus sesuatu. Kylan bisa di sini sendirian." Kalingga bersikukuh.
Menghela napas panjang, Jojo harus mengakui jika Kalingga benar-benar punya seribu cara agar bisa mendapatkan waktu berduaan dengannya dengan mencuri-curi kesempatan.
Setelah dokter datang dan melakukan pemeriksaan, Jojo dan Kalingga akhirnya pergi. Mereka harus pulang lebih dulu untuk berganti pakaian.
Selama perjalanan pulang, Kalingga terus melirik Jojo dan mengulum senyum. Sebelah tangan laki-laki itu tidak pernah lepas menggenggam tangan Jojo. Mereka seperti pasangan yang dimabuk cinta, menenggak sepuluh botol alkohol tentu tidak akan semabuk ini.
"Apakah pergi ke kantor hanya alasan untuk bisa pergi mengantarku?" tanya Jojo.
"Bisa ya, bisa tidak. Aku memang ada sedikit keperluan di kantor, tapi tidak terlalu penting. Karena sembilan puluh persen kepentingannya ada padamu," jawab Kalingga sambil tersenyum samar.
"Setelah dari kampus, aku akan ke kantor agensi, Kak. Kau harus kembali ke rumah sakit dan menemani Kylan."
"Tidak, aku akan menemanimu. Mereka sudah besar, Jojo. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kondisi Keenan stabil, dia hanya butuh perawatan agar cepat pulih."
"Baiklah, terserah apa katamu, Kak!" Jojo menyerah.
"Kau semakin cantik saat kesal padaku, Sayang."
Sayang, sebuah panggilan yang asing dan menggelikan di telinga Jojo. Dan saat ini, wajah gadis itu memerah seperti kepiting rebus, dadanya berdebar dengan senyum mengembang sempurna.
"Jangan memanggilku seperti itu, Kak."
"Kenapa? Kau suka, kan?"
"Aku merasa malu dan aneh mendengarnya." Jojo menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menyembunyikan perasaan gugup sekaligus senang.
🖤🖤🖤
Habis gelap terbitlah terang,
Tim Jojo Kalingga mana suaranya?
__ADS_1