
Jojo tidak paham ke arah mana pembicaraan anak asuhnya, ia bingung karena hanya mendengar percakapan secara samar-samar.
"Bagaimana Kylan?" tanya Kalingga. Dalam hal ini, Kylan adalah penanggung jawab pemotretan. Seluruh model dan properti akan menjadi tanggung jawabnya.
"Aku tidak yakin dia bisa melakukannya," jawab Kylan.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Jojo ikut bergabung dan kembali ke tempat duduknya. Gadis itu meminta penjelasan pada semua anak asuhnya tentang apa yang sedang mereka bahas dan mengapa harus menyebut namanya.
"Begini, Jojo. Kau mau uang?" tanya Kai sok berkuasa. Ia melihat Jojo sambil tersenyum dengan kedua alis digerakkan naik.
"Uang? Siapa yang bisa menolak uang," jawab Jojo tegas. Bagaimana mungkin gadis sepertinya menolak uang. Dalam segala hal, Jojo memang menyukai uang. Jika ia tidak suka uang, mungkin ia tidak akan pernah bertemu ke empat anak asuhnya.
"Kalian dengar?" Kai menunjuk Jojo dan mengedarkan pandangan pada ketiga saudaranya. "Jojo mau uang, artinya dia setuju," lanjutnya.
"Setuju? Untuk apa?" tanya Jojo.
"Apa kau masih menyimpan cita-citamu sebagai seorang model?" Kini Keenan mulai bertanya, ia masih mengingat percakapan mereka beberapa waktu yang lalu.
"Kalian serius? Ini Jojo loh!" seru Kylan.
"Cukup, kita akan membahasnya besok. Aku perlu memikirkannya," sela Kalingga. Ia tidak mau Keenan dan Kai memaksa Jojo untuk mengikuti apa yang mereka minta, meski Kalingga merasa berminat untuk merekrut Jojo, namun ia butuh waktu untuk membujuk Kylan agar setuju.
"Oke!" Kylan setuju. Ia mengambil sebotol minuman soda dari lemari pendingin dan bergegas kembali ke kamarnya.
"Ah, aku lupa. Aku harus menelpon seseorang." Keenan pergi setelah Kylan.
Kini, di meja makan hanya tertinggal Kalingga, Kai dan Jojo. Kalingga nampak memperhatikan Jojo.
"Kami berencana merekrutmu sebagai model pakaian perusahaan kami, Jo. Bagaimana menurutmu?" tanya Kalingga. Kai begitu bersemangat saat Kalingga mulai mempertimbangkan idenya.
"Aku? Kalian tidak salah orang?" tanya Jojo. Apa ke empat anak asuhnya ini sehat? tanyanya dalam hati. Jojo tertawa kecil, belum apa-apa, ia sudah membayangkan dirinya meliuk-liuk di depan kamera.
"Ah, ya. Jika boleh jujur, alasan kami adalah untuk menekan biaya pemasaran. Tapi jangan khawatir, kami tetap akan membayarmu, hanya saja, tidak sebesar model profesional," jelas Kalingga.
__ADS_1
"Kak, tapi bagaimana aku bisa melakukannya?"
"Coba saja dulu, Jo. Kau bisa belajar dari Kak Keenan. Lagi pula, Kak Kylan juga akan membantumu," sela Kai.
"Ya, Kylan bisa menjadi pengarah gaya. Keenan juga akan mendampingimu selama pemotretan," ucap Kalingga. Laki-laki itu mengharapkan banyak hal dari gadis di depannya, ia bahkan merasa cukup serakah karena terlalu membebankan banyak hal pada Jojo.
"Tapi, Kak. Aku ...."
"Tenang saja. Aku akan memilih gaun pesta dan dress-dress yang sopan untukmu. Selebihnya, ada dua model profesional sebagai model pakaian seksi."
"Please, kau harus setuju. Ini awal karirmu." Kai memberi semangat.
"Karirku sudah cukup bagus sebagai pengasuh," jawab Jojo.
"Ini masalah lain, Jojo. Aku serius!" seru Kai.
"Baik, akan aku pikirkan, Kak. Tapi aku tidak menjanjikan apapun untukmu." Jojo berusaha memberi harapan, namun ia tidak yakin bisa melakukannya.
"Baik, aku akan kembali ke kamar," ucap Kalingga gugup. Ia segera mengambil langkah cepat sebelum mendengar Kai mengatakan hal yang bukan-bukan.
"Apa terjadi sesuatu di antara kalian?" tanya Kai sambil menyipit. Ia menatap Jojo penuh rasa curiga.
"Tidak! Jika kau iri karena kakak menggenggam tanganku, kau juga bisa melakukannya," jawab Jojo sambil mengulurkan telapak tangannya.
"Ih, sok cantik!" ejek Kai sambil bertingkah merinding. Bocah laki-laki itu berdiri dari tempat duduknya dan hendak kembali ke dalam kamar. Namun sebelum Kai melangkah, Jojo sudah menarik tangan bocah itu dan menyeretnya ke dapur.
Gadis itu sudah tidak tahan ingin mengintrogasi anak bungsunya. Seharian ini, ia terlalu banyak memikirkan Kai hingga kesulitan konsentrasi saat sedang di kampus.
"Kau ini kenapa?" tanya Kai. Ia menepis tangan Jojo yang mencengkram pergelangan tangannya dengan kuat. Kai memperhatikan Jojo yang menoleh ke kanan kiri dan mengamati situasi sekitarnya.
"Jawab pertanyaanku, apa kau membuat masalah?" tanya Jojo. Ia menuding tepat di depan wajah Kai. Seketika, bocah laki-laki itu gugup.
"Tidak! Masalah apa? Aku tidak melakukan apapun!" seru Kai. Sayang sekali, Jojo tidak mempercayai perkataan bocah itu.
__ADS_1
Jojo berjalan dan mengamati lantai anak tangga, ia takut ada yang mendengarnya. Setelah memastikan keadaan benar-benar sepi, Jojo menyeret pergelangan tangan Kai ke dalam kamarnya.
"Kita aman bicara di sini. Kau bisa mengatakannya dengan jujur," desak Jojo. Ia memberi Kai ruang aman agar bocah itu mau mengakui apa yang sedang ia rahasiakan.
"Aku tidak melakukan apapun, Jo!" tegas Kai.
"Benarkah? Lalu, kenapa beberapa hari lalu kau pulang malam? Jangan mengatakan alasan yang tidak masuk akal, tidak ada kegiatan ekstrakulikuler tambahan untuk siswa akhir tahun. Aku tahu itu."
"Dari mana kau tahu?" tanya Kai. Ia mulai panik dan resah.
"Jawab dengan jujur, atau aku akan mencari tahu semuanya sendiri dan mengadukanmu pada Kakak!" Jojo mulai mengeluarkan senjata pamungkasnya, pengaduan pada Kalingga.
Kai diam, ia semakin terlihat gelisah. Jojo bisa membaca gerak gerik bocah itu dengan baik. Rasa curiganya terjawab sudah, Kai merahasiakan sesuatu yang buruk.
"Apa kau yakin motormu hanya roboh di tempat parkir?"
"Bagaimana jika aku datang ke sekolahmu dan mencari tahu pada teman-temanmu? Aku tahu kakak-kakakmu terlalu sibuk, tapi aku punya banyak waktu longgar untuk mengurusmu," desak Jojo.
Kai cukup dibuat resah dengan semua pertanyaan dan ancaman Jojo. Bagaimana jika gadis itu benar-benar melakukannya? Lebih baik ia berkata jujur daripada harus melibatkan Kalingga.
Kai menceritakan semua hal yang ia alami saat Jojo pergi bersama Kalingga. Pertama kalinya selama menjadi pelajar, Kai mencoba ikut balapan motor bersama beberapa temannya, saat itulah ia mendapatkan amarah dari Keenan karena pulang malam.
Kai tidak hanya jatuh dari motor dan kalah, bocah laki-laki itu bahkan kalah taruhan yang mengharuskanya berhutang pada pembalap yang menang.
"Aaaaaaaww!" teriak Kai. Jojo refleks menarik telinga Kai dengan keras. Ia geram, ia kesal karena sikap tidak bertanggung jawab bocah itu.
"Anak nakal!" seru Jojo. "Apa kau sudah gila? Bagaimana bisa kau bertindak sejauh itu? Apa kau tidak memikirkan ketiga saudaramu?"
"Aku hanya coba-coba," lirih Kai.
Jojo menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur dengan kasar. Ingin sekali tangannya menghajar bocah nakal itu dengan sapu jika perlu.
🖤🖤🖤
__ADS_1