
Pagi hari di negara orang, membuat Jojo sulit beradaptasi karena perbedaan waktu yang terlalu jauh dari negara asalnya. Ia kesulitan tidur dan bangun karena merasa tidak nyaman.
Ini adalah hari kedua Kalingga dan Jojo menginap di hotel. Mereka akan kembali mengunjungi dua gerai lagi milik keluarga Aslan.
Tok ... Tok ... Tok ....
"Jojo, kau sudah bangun?" tanya Kalingga dari balik pintu.
Jojo masih berada di bawah selimut dengan tubuh meringkuk kedinginan. Badannya terasa nyeri dan tidak nyaman. Hampir semalaman, gadis itu kesulitan tidur dan gelisah.
Mendengar pintu diketuk berkali-kali, Jojo berjalan malas untuk membukanya. Ia melihat laki-laki tampan sudah berdiri di depan pintu sambil membawa sekotak kue. Tubuh laki-laki itu berkeringat dengan handuk kecil mengalung di lehernya.
"Kak, apa kau baru berolahraga?" tanya Jojo. Ia mengedipkan mata cepat sambil mengamati penampilan Kalingga.
"Ya, aku baru saja dari ruang fitness. Apa tidurmu nyenyak?" tanya Kalingga. Laki-laki itu masuk ke kamar Jojo dan meletakkan kue di atas meja.
"Insomnia," jawab Jojo. Ia memutar leher dan punggungnya di depan Kalingga.
"Aku membeli kue di bawah. Ini enak, coklat dan karamel, kue buatan orang Amerika."
"Ah, kelihatannya enak. Aku akan cuci muka dan gosok gigi sebentar, kau bisa tunggu di sini, Kak," ucap Jojo sambil berlalu menuju kamar mandi.
Saat di kamar mandi, gadis itu tercengang dengan apa yang terjadi pada dirinya pagi ini.
"Ya Tuhan, aku lupa. Bagaimana ini?" batin Jojo. Gadis itu mengurungkan niatnya untuk cuci muka dan gosok gigi. Ia melepas celananya yang kotor karena bercak darah.
Rupanya, Jojo melupakan satu hal yang sangat penting dalam periode wanita. Menstruasi!
"Ah, apa yang harus aku lakukan?" Jojo melingkarkan handuk di pinggangnya, ia berjalan mondar mandir di dalam kamar mandi.
Hampir setengah jam berlalu, Jojo masih di dalam kamar mandi sambil mencuci celananya.
"Jo, apa kau baik-baik saja?" tanya Kalingga. Laki-laki itu khawatir dan mengetuk pintu kamar mandi.
"Ya, aku baik-baik saja, Kak." Jojo berteriak dari dalam.
"Kenapa lama sekali? aku akan kembali ke kamar dan bersiap. Setelah ini kita turun untuk sarapan."
__ADS_1
Jojo gelisah, apa yang harus ia lakukan. Ia bahkan lupa untuk membawa pembalut.
"Tunggu, Kak!" seru Jojo. Ia mengeluarkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi dan mencegah Kalingga saat akan keluar dari kamarnya.
"Kau kenapa?"
"Bolehkah aku minta tolong?" tanya Jojo. Bagaimana cara mengatakannya? Bagaimana menjelaskannya? Jojo kebingungan.
"Ada apa?" tanya Kalingga. Ia tidak mengerti mengapa Jojo mendadak bersikap aneh.
"Emm, apakah minimarket di bawah juga menjual pembalut?" tanya Jojo. Ia tersenyum lebar dan menampakkan seluruh giginya.
Kalingga melongo, apa tidak salah Jojo menanyakan hal itu? Dia 'kan laki-laki, dari mana dia tahu hal semacam itu?
"Ada masalah apa?" tanya Kalingga lagi. Sepertinya Jojo benar-benar sedang butuh bantuan.
"Bolehkah ... kau membantuku membeli pembalut?" tanya Jojo malu-malu. Gadis itu seperti kehilangan wajahnya di depan Kalingga. Ini akan menjadi hal paling memalukan sepanjang hidupnya.
"Apa aku tidak salah dengar?" gumam Kalingga.
"Apakah ini benar-benar keadaan darurat?" tanya Kalingga. Ia mengusap wajahnya dan menghela napas panjang.
"Aku tidak mungkin berjalan ke bawah lalu masuk ke dalam minimarket dalam keadaan seperti ini, Kak. Bagaimana kalau ...."
"Baik, stop. Bagaimana bentuk atau merek benda itu?" tanya Kalingga.
Jojo meminta laki-laki itu mendekat dan meminjam ponselnya. Gadis itu mencari berbagai merk pembalut serta gambar kemasannya sebagai contoh agar Kalingga mengerti.
"Di sebelah mana biasanya benda ini disusun?" tanya Kalingga lagi.
"Di deretan kebutuhan wanita, Kak. Kau bisa tanya pada petugas minimarket jika kesulitan mencarinya. Beli pembalut yang panjangnya dua puluh sembilan sentimeter, karena ini adalah hari pertamaku," jelas Jojo.
"Apakah aku harus mengukurnya sebelum membeli?"
"Tidak, ada tulisan pada kemasannya."
"Ya Tuhan." Kalingga mengeluh dalam hati. Menjadi wanita ternyata sangat rumit, hal semacam itu saja harus memperhatikan ukuran. Apakah semua hal harus diukur?
__ADS_1
"Apakah Jojo juga akan mempermasalahkan ukuran ...."
Ah, Kalingga mulai berpikir yang tidak-tidak. Laki-laki itu berjalan cepat keluar dari kamar Jojo dan menuju ke minimarket yang berada di lantai dasar.
Minimarket ini lebih besar dari yang ia bayangkan. Berbagai kebutuhan terjual lengkap di sini. Kalingga mulai menyisir setiap lorong untuk mencari apa yang Jojo butuhkan.
Ia merasa malu saat beberapa wanita melihatnya sedang mengamati rak berisi berbagai macam pembalut dari berbagai merek. Kalingga membaca setiap kemasan pembalut, memastikan jika ukurannya sesuai dengan apa yang dipesan oleh Jojo.
Kalingga menelan ludah kasar saat ia sampai di kasir. Ia melihat beberapa wanita sedang mengantre. Laki-laki itu ikut mengantre dan mendekap pembalut di depan tubuhnya. Ia berharap orang lain tidak akan melihat apa yang sedang ia bawa.
Kalingga terus melirik sekitar. Seorang kasir yang kebetulan wanita juga menatapnya sambil mengulum senyum. Kalingga berpikir jika kasir itu pasti sedang menertawakan dirinya.
"Ketampananku seakan memudar tiga puluh persen!" batin Kalingga.
Setelah satu kemasan pembalut berisi beberapa biji sudah masuk ke dalam kantong belanjaan. Kalingga langsung membawanya dan mengabaikan tatapan para wanita cantik di sekitarnya.
Laki-laki itu berkeringat dingin, situasi ini lebih menegangkan daripada sedang berada di dalam ruang sidang. Ia mengusap penuh di dahinya dan bergegas kembali ke kamar Jojo.
"Kak, terima kasih banyak." Jojo menerima apa yang Kalingga bawa dengan perasaan bahagia. Entah bagaimana jadinya dirinya jika Kalingga tidak berbaik hati menolongnya pagi ini.
Setelah menyerahkan apa yang Jojo butuhkan, Kalingga tidak langsung kembali ke kamar. Ia menunggu hingga Jojo selesai dan keluar dari kamar mandi.
Setelah selesai dari kepentingannya di dalam kamar mandi, Jojo segera menemui Kalingga. Wajah laki-laki itu terlihat datar, Jojo mengira jika laki-laki itu pasti malu sekali membeli pembalut di minimarket.
"Kak, maaf sudah merepotkan," ucap Jojo dengan perasaan sedih. Ia benar-benar tidak enak hati.
"Aku tidak percaya akan melakukannya." Kalingga berucap lirih sambil menggelengkan kepala pelan. Harga dirinya seakan sedang dipertaruhkan pagi ini.
"Maaf, Kak."
"Ini akan menjadi rahasia di antara kita. Jangan ceritakan apapun pada Keenan, Kylan, atau bahkan Kai," tegas Kalingga.
"Baik, aku mengerti." Jojo mengangguk.
Membeli pembalut tentunya bukan hal yang memalukan jika itu dilakukan demi istrinya. Namun dalam situasi seperti ini, Jojo bahkan bukan siapa-siapa. Dan bagaimana pendapat wanita-wanita di dekat kasir tadi yang melihat Kalingga penuh rasa ingin tahu?
🖤🖤🖤
__ADS_1