
Jojo tidak ingin melarang, juga tidak ingin berusaha merebut foto yang hampir terbakar habis di tangan Kalingga.
Wanita itu berusaha memahami perasaan Kalingga dengan baik, meski pada dasarnya ia kurang setuju dengan sikap gegabha suaminya.
Jika dilihat dari pengamatan singkat Jojo, sepertinya hanya Kalingga yang mengetahui tentang Maria,wanita yang diduga sebagai ibu kandung empat bersaudara.
Kalingga memandang foto yang mulai habis terbakar di tangannya, api itu hampir mengenai tangan Kalingga jika Jojo tidak butu-buru menampik tangan laki-laki itu.
"Sayang, ayo istirahat."
Jojo menggandeng tangan laki-laki itu dan mengajaknya keluar dari kamar. Tidak seorang pun mengetahui apa yang sedang Kalingga pikirkan. Laki-laki menunjukkan sikap nyata jika ia tidak bisa menerima kenyataan tentang siapa ibu mereka yang sesungguhnya.
Di dalam kamar, Jojo menuntun Kalingga untuk duduk di sofa. Wanita itu membantu Kalingga melepaskan jas dan membuka kancing kemejanya.
"Istirahatlah. Aku akan membuat minuman," ucap Jojo lembut. Sebelum wanita itu beranjak pergi,.ia menyempatkan diri untuk memeluk Kalingga selama beberapa saat.
Selama ini, hidup sulit, serba kekurangan, dan segala kepahitan hidup lainnya sudah pernah Jojo rasakan. Ia bisa menahan semua beban itu berkat dukungan dan kasih sayang kedua orang tuanya. Namun saat ini, Jojo bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya menjalani hidup seperti Kalingga dan ketiga adiknya.
Kenyataan hidup mereka dan kehilangan orang terakhir yang sangat mereka harapkan merupakan pil pahit yang harus ditelan dan tak terhindarkan. Hal ini seakan menghancurkan hidup mereka menjadi kepingan tajam yang selalu menyayat perasaan.
Bahkan tanpa istirahat sedikitpun, Jojo membuat minuman hangat untuk empat laki-laki itu. Wanita itu mengetuk kamar ketiga saudara iparnya, namun mereka kompak untuk tidak memberi jawaban, hingga memaksa Jojo masuk tanpa izin dan meletakkan minuman di meja mereka masing-masing.
"Minum ini, Kai. Kita semua pasti bisa melewati ini, kau harus ikhlas," ucap Jojo sambil mengusap selimut yang menutupi tubuh Kai. Meski tidak terdengar suara bocah itu, Jojo bisa tahu jika Kai tidak benar-benar tidur.
Saat Jojo berjalan menjauhi tempat tidurnya, Kai bangun dengan cepat, membuat Jojo refleks menoleh.
"Rasanya sakit sekali," gumam Kai. Wajah kusut dan berantakan itu tidak pernah Jojo lihat selama ini.
__ADS_1
Jojo kembali mendekati Kai, wanita itu memeluknya dan menenangkannya.
"Terkadang, hidup memang tidak seperti yang kita inginkan. Ada saatnya kita ingin waktu berhenti berputar, namun nyatanya kehidupan akan terus berlanjut. Kita tidak bisa mengontrol hidup dan mati seseorang, tapi kita bisa mengontrol perasaan kita untuk belajar bagaimana menghargai kehidupan," ujar Jojo.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Kai.
"Melanjutkan hidup, meraih cita-citamu. Menjadi anak yang dapat dibanggakan, kau harus membuktikan pada dunia jika kau pasti bisa."
Kai terdiam beberapa saat, ia lalu menatap kakak iparnya dan tersenyum kecil.
"Terima kasih, Kakak Ipar. Aku pasti bisa melewati semuanya," ucap Kai. Jojo tersenyum dan menggenggam sebelah tangan bocah itu.
Tidak mudah bagi seseorang untuk ikhlas dalam hal kehilangan. Sebagian besar dari mereka bahkan mengalami kesedihan selama bertahun-tahun. Namun Jojo tidak akan membiarkan itu terjadi. Sedih memang diperbolehkan, namun hidup harus tetap berlanjut dan semua orang harus meraih kembali semua cita-cita dan mimpi mereka.
🖤🖤🖤
Pukul tujuh malam, semua makanan sudah terhidang di atas meja. Jojo mendatangi kamar Kai, Kykan dan Keenan untuk meminta mereka segera turun dan makna bersama.
Kalingga berbalik dan memeluk Jojo. Laki-laki itu mencium kening istrinya berkalu-kali.
"Hanya tinggal kau dan mereka yang paling berharga dalam hidupku. Aku mohon, jangan pernah tinggalkan aku," ucap Kalingga sedikit berbisik. Kalimat itu terdengar seperti sebuah ungkapan yang amat dalam dan menyesakkan.
"Aku di sini, Sayang. Aku akan ada di sampingmu sampai kapanpun. Kita bisa melewati semua ini, jangan khawatir." Jojo memeluk Kalingga erat.
Selang beberapa menit, semua penghuni rumah sudah berkumpul di meja makan. Tidak sedikitpun terdengar suara dari mulut mereka, membuat suasana makan malam menjadi hening dan dingin.
"Maaf, seharusnya aku memberitahu kalian semua itu lebih cepat," ucap Jojo. Ia merasa bersalah karena sudah menyimpan rahasia itu dari mereka.
__ADS_1
"Kau tidak bersalah, Jo. Semua itu keinginan Mama. Terima kasih sudah menepati janjimu," jawab Kalingga.
Kylan memandang wanita yang telah lama hidup serumah dengannya, laki-laki itu tersenyum tipis dan mengangguk. Ia tidak mempermasalahkan apapun tentang Jojo. Tidak ada yang perlu disalahkan. Ini semua sudah menjadi garis takdir mereka.
Sejak hari kematian Merlinda, rumah mereka seakan tak bernyawa. Tidak lagi terdengar candaan dan gurauan dari Kai dan Kylan. Tidak ada acara pesta makan pizza bersama seperti yang sering Keenan rencanakan. Seperti halnya Kalingga, mereka begitu terpukul dan saling menyalahkan diri sendiri.
Hari-hari berlalu begitu cepat. Kini Kalingga, Keenan dan Kylan mulai kembali pada rutinitas mereka untuk bekerja. Berlibur selama hampir satu minggu membuat jadwal pekerjaan mereka semakin menumpuk.
Dan Jojo adalah orang pertama yang harus menghadapi mereka semua setiap hari. Hal ini membuat wanita itu merasa sedih karena keadaan yang tak kunjung membaik.
Di sebuah kafe, Jojo duduk berdua bersama Angelina. Jojo butuh teman untuk berdiskusi, ia tidak ingin membiarkan empat laki-laki di rumahnya seakan menjadi mayat hidup tanpa semangat.
"Tidak satupun dari mereka saling bicara?" tanya Angelina. Jojo menggeleng sambil mengaduk minuman di hadapannya.
"Mereka menyalahkan diri mereka sendiri," gumam Angelina.
"Butuh lebih banyak waktu untuk memperbaiki keadaan," ucap Jojo.
Keduanya mulai diam dan berpikir. Mereka tidak bisa memaksa empat laki-laki itu untuk melupakan semua rasa sakit atas kehilangan Merlinda. Namun satu-satunya harapan mereka adalah teman-teman terdekatnya.
Jojo dan Angelina berharap jika kembalinya aktifitas dan pekerjaan mereka semula membuat mereka bisa sesaat melupakan kesedihan dan mulai melanjutkan hidup.
Angelina sadar, Jojo pasti merasa kesulitan jika mengurus empat laki-laki sekaligus dalam keadaan seperti ini.
"Apa kau pulang cepat hari ini?" tanya Angelina.
"Ya, Kak. Aku meninggalkan Kai di rumah sendirian. Aku ada janji syuting selama satu jam, setelah itu langsung pulang," jelas Jojo.
__ADS_1
Angelina mengangguk, ia berencana akan datang berkunjung ke rumah mereka dan berusaha menghibur. Bersedih berlama-lama adalah hal yang tidak baik, karena masih banyak cinta yang bisa diterima untuk membangkitkan kembali semangat menjalani hidup.
🖤🖤🖤