ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
BONCHAP-2


__ADS_3

Saat gerimis semakin deras, tiba-tiba seluruh lampu padam. Kai terkejut dan semakin kebingungan, di kondisi terang saja ia kesulitan menemukan jalan pulang, namun kini malah dalam keadaan gelap gulita.


Kai menyalakan senter di ponselnya dan berjalan menyusuri jalanan di depannya. Tidak ada seorang pun yang berjalan atau bersepeda melewatinya, dan Kai tidak tahu harus bertanya pada siapa, karena ia sendiri tidak tahu alamat rumah yang ia tinggali.


"Ah, sial!" gerutu Kai kesal. Bagaimana bisa ia pergi terlalu jauh dan bahkan lupa jalan untuk kembali. Padahal, tadi ia hanya berjalan lurus, lalu berbelok ke kanan, ke kiri, dan ia lupa.


Berpikir jika terus berjalan akan semakin menyulitkan, apa lagi kondisi jalan yang gelap gulita, ia memutuskan untuk sedikit berlari saat melihat sebuah tempat berteduh mirip gazebo yang terbuat dari bambu dengan atap jerami.


"Ah, basah," keluh Kai sambil membersihkan kaosnya. Ia juga mengibaskan rambutnya ke depan dan ke belakang untuk mengeringkan.


"Hei!" seru seseorang di belakang Kai.


"Hei, what?" Kai berjengit kaget. Ia hampir melompat dari tempatnya berdiri.


"Oh my god! Siapa kau?" tanya Kai. Ia melongo sambil menepuk pelan dadanya. Hampir saja ia terkena serangan jantung setelah melihat ada seorang gadis yang tiba-tiba duduk di belakangnya.


"Aku sampai di sini lebih dulu. Siapa kau?" tanya balik gadis itu.


"Kau manusia, kan?" Kai menyipitkan mata. Ia menyorot wajah gadis itu dengan senter di ponselnya.


"Hei, jangan kurang ajar. Kau pikir aku hantu?"


"Mungkin saja. Di sini malam-malam sendirian saat hujan dan lampu mati, siapa saja pasti mengira kau hantu," gumam Kai. Sementara gadis di belakangnya terlihat tidak peduli. Ia kembali diam dan memeluk lutut karena dingin.


Karena lelah berdiri, Kai memutuskan untuk duduk. Tempat yang tidak terlalu lebar ini membuat Kai dan gadis asing itu harus berbagi tempat duduk. Selagi menunggu hujan reda, keduanya hanya diam dan tidak saling menyapa.

__ADS_1


Kai terus bermain ponsel, ia asik berselancar di media sosial miliknya.


"Jangan bermain ponsel saat hujan turun," tegur gadis di sampingnya dengan sopan.


"Bukan urusanmu!" ketus Kai.


"Banyak pohon tinggi di sekitar sini. Tidak apa jika hanya kau yang mati tersambar petir, bagaimana denganku?"


"Kalau kau takut, pergilah!" ucap Kai tak berperasaan.


"Ah, dasar! Keras kepala!" gumam gadis itu.


Hampir satu jam berlalu, keduanya bertahan di tempat yang sama demi menghindari hujan yang cukup deras. Namun listrik tak kunjung menyala, mungkin ini karena hujan deras menimbulkan masalah di wilayah tertentu hingga menyebabkan listrik menjadi padam.


Saat air dari langit berangsur reda, gadis di samping Kai melompat lebih dulu dan hendak pergi. Kai yang merasa seperti seorang anak yang tersesat, ia pun mengikuti gadis itu di belakangnya.


"Apa kau sedang mengikutiku? Jika kau berbuat macam-macam, aku akan berteriak!" seru gadis itu mengancam. Ia khawatir Kai berbuat sesuatu padanya.


"Hei, jangan berburuk sangka! Apa aku terlihat seperti seorang penjahat?" tanya Kai.


"Jaman sekarang, penjahat identik berwajah tampan. Kau mencurigakan!"


"Ah, dia mengakui bahwa aku ini tampan," batin Kai tertawa.


"Sebenarnya aku tersesat, bisakah kau membantuku pulang?" pinta Kai. Ia memohon pertolongan.

__ADS_1


"Aku tidak pernah melihatmu, apa kau penduduk baru? Logat bahasamu juga berbeda. Bagaimana bisa kau tersesat?" Gadis itu penasaran.


"Aku baru sampai sore ini. Kakak iparku membeli rumah baru, rumah bercat putih dengan pagar kayu di dekat klinik kesehatan. Ke arah mana aku harus pergi agar sampai di sana?"


"Ah, klinik kesehatan. Kau salah arah, kau harus ke arah sana, lurus saja setelah ada pertigaan, belok kiri. Lurus lagi, jangan berbelok sebelum melihat rumah berwarna biru, belok kanan. Setelah itu, belok kiri lagi di gang pertama. Klinik sudah terlihat," jelas gadis itu.


"Lurus belok kiri, lurus belok kanan, lurus lagi belok kiri. Aku pasti akan tersesat lagi," gumam Kai sambil menghela napas berat.


"Pergilah," usir gadis itu. Ia berjalan dan meninggalkan Kai begitu saja.


Karena ini pengalaman pertama dalam hidupnya, Kai tidak ingin mengambil resiko. Ia berlari mengejar gadis yang sudah terlanjur pergi dan memohon agar gadis itu mau mengantarnya.


Kondisi pedesaan pukul sembilan malam ternyata sangat sepi, ditambah kondisi listrik padam membuat suasana semakin menyeramkan bagi Kai.


"Aku mohon, antar aku sampai ke klinik saja. Anggap saja kau ojek, aku akan membayarmu sebagai biayanya," rayu Kai.


"Baiklah kalau kau memaksa!"


Mereka berjalan cepat menyusuri jalanan yang gelap. Tidak terdengar suara manusia sedikitpun meski mereka telah melewati banyak rumah. Sepertinya suasana di desa sangat kontras dengan suasana tempat asal Kai. Di kota, aktifitas selama dua puluh empat jam selalu ada, sementara di sini sangat berbeda.


"Di mana rumahmu?" tanya Kai sambil mengikuti gadis yang berjalan cepat di depannya.


"Bukan urusanmu! Kau sendiri, dari mana asalmu?" tanya balik gadis itu.


"Itu juga bukan urusanmu!" jawab Kai ketus. Ia juga bisa bersikap angkuh dan jual mahal.

__ADS_1


Setelah sampai di dekat klinik, gadis itu meninggalkan Kai begitu saja tanpa menerima selembar uang upah yang Kai sodorkan.


🖤🖤🖤


__ADS_2