
Usai makan, Kai dan Kylan pamit untuk segera pergi. Kylan harus pergi ke studio untuk beberapa pemotretan model sementara Kai harus mengurus banyak sekali berkas yang ia persiapkan untuk kelulusannya.
"Sayang, bukankah kita terlalu tega?" tanya Jojo saat dua saudara iparnya sudah meninggalkan rumah. Ia sedang duduk bersama suami dan anaknya menikmati segelas susu.
"Pada siapa? Kai?" tanya balik Kalingga.
"Ya, bukankah tidak seharusnya kita mengirimnya terlalu cepat? Aku mengkhawatirkannya."
"Dia akan baik-baik saja, Sayang. Bukankah kau sendiri yang memiliki ide untuk mendewasakan bocah itu?"
"Ya, tapi bukan dengan mengirimnya ke tempat yang jauh, Sayang. Apa lagi di desa terpencil seperti kampung halamanku. Kau tahu di sana bukan tempat yang bagus, dan Kai tidak terbiasa hidup di daerah serba terbatas seperti itu," jelas Jojo.
Kai sudah tinggal dan besar di kota. Hidupnya serba enak dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang diberikan oleh saudara-saudaranya. Jojo merasa berat jika melepas ia pergi jauh, apa lagi ke tempat yang jauh dari saudaranya.
"Mungkin awalnya dia akan kesulitan. Tapi dia akan belajar, jangan terlalu mengkhawatirkannya," ucap Kalingga.
"Tapi, Sayang ...." Jojo berusaha protes, namun Kalingga meyakinkan wanita itu bahwa semua akan baik-baik saja.
Sejak awal, Jojo keberatan dengan ide untuk mengirim Kai menjadi dokter di kampung halamannya. Jojo sangat paham bagaimana kebiasaan Kai, apakah laki-laki itu bisa bertahan lama tinggal di daerah yang jauh dari fasilitas mewah?
Meskipun kini desanya sudah memiliki akses jalan yang lebar untuk keluar masuk mobil, Jojo tidak yakin Kai bisa bertahan tanpa mall, bioskop, kafe, dan tempat-tempat lainnya yang tidak akan ia temukan di desa.
Berulang kali Jojo membahas hal ini pada Kai agar laki-laki itu mempertimbangkan permintaan Kalingga, namun rupanya itu sia-sia. Kai bahkan menerima semua itu tanpa syarat, membuat Jojo semakin gelisah.
Setelah Jojo selesai membereskan semua dapur dan menyuapi Queen makan. Kalingga mengantar Jojo ke lokasi syuting bersama putrinya. Meski wanita itu dalam keadaan hamil muda, tidak menyurutkan semangatnya untuk bekerja.
"Aku ada rapat. Jangan terlalu lelah dan perbanyak waktu istirahat, aku akan menjemputmu pukul dua siang," ucap Kalingga saat sudah sampai di lokasi syuting Jojo.
"Om Kai kenapa belum datang, Ma. Apa Om lupa?" tanya Queen sambil menggoyangkan tangan Jojo.
__ADS_1
"Om tidak lupa, Sayang. Dia pasti datang," jawab Jojo.
Menjanjikan sesuatu pada Queen seperti sedang berhutang ratusan juta. Anak seusia Queen pandai sekali dalam hal mengingat, ia akan selalu ingat apa yang orang lain janjikan dan membuat gelisah jika terlambat sedikit saja.
Sebagai anak dari seorang model, Queen sudah mendapatkan banyak sekali tawaran untuk bekerja pada sebuah perusahaan pakaian dan aksesoris anak. Selain parasnya yang cantik dan menggemaskan, Queen juga selalu tampil modis dan bergaya layaknya model sungguhan. Hal itu membuat banyak orang tertarik dan menginginkan kehadiran Queen sebagai modelnya.
Namun meski begitu, Jojo dan Kalingga sepakat untuk tidak menerima tawaran apapun meski dengan bayaran yang sangat mahal. Ia ingin Queen menikmati masa kecilnya seperti anak biasa, mereka tidak akan menjadikan Queen sebagai penghasil uang di usianya yang sangat muda.
Selama Jojo menjalani proses syuting, Queen sangat pengertian dan memilih untuk bermain sendiri, atau terkadang ia ditemani oleh beberapa kru yang sedang senggang. Karena sudah satu bulan terakhir, pengasuh yang biasa menemani Queen mendadak harus mengambil cuti lantaran sedang hamil besar.
Pukul sebelas siang, Kai menjemput Quuen dan menepati janjinya untuk membawa gadis kecil itu pergi ke mall. Kai pamit pada Jojo dan akan langsung kembali ke rumah setelah mereka selesai.
"Jadi, apa yang mau kita beli, Queen?" tanya Kai.
"Queen mau beli baju balu, cepatu dan tas balu, Om."
"Ah, baiklah. Om akan membayar semuanya!" seru Kai. Ia melajukan mobilnya cepat menuju mall besar di tengah kota.
Hampir dua jam mereka menghabiskan waktu berkeliling mall untuk membeli apa saja yang Queen inginkan, akhirnya Kai mengajak gadis kecil itu masuk ke dalam kafe dan memesan minuman. Ia sangat senang berjalan-jalan bersama keponakannya dan menghabiskan waktu seharian.
"Om, ada kakak-kakak tantik," bisik Queen sambil menunjuk meja lain yang berisi tiga gadis remaja seusia Kai.
"Cantik?" ulang Kai. Ia tertawa mendengar ucapan keponakannya. Sejak kapan Queen bisa menilai gadis cantik?
"Iya, kakak itu tantik, Om."
"Hemm, menurut Om, yang paling cantik yang pakai baju merah. Rambutnya panjang seperti mamamu," ungkap Kai setelah memperhatikan dengan seksama ketiga gadis itu.
"Tidak, Mama lebih tantik!" seru Queen tidak terima. Kai hanya tersenyum mendengar ucapan bocah itu.
__ADS_1
Setelah menghabiskan minuman mereka, Kai pamit pada Queen untuk ke kamar kecil dan melarang keponakannya meninggalkan kursi itu apapun yang terjadi.
Setelah Kai tidak terlihat, Queen tiba-tiba turun dari kursinya dan menghampiri tiga gadis yang asik mengobrol satu sama lain.
"Kakak baju melah, kata Om kakak tantik," ucap Queen dengan polos. Ia hanya mengatakan hal itu dan kembali ke kursinya.
Mendengar ungkapan tiba-tiba dari seorang anak usia empat tahun, gadis berbaju merah pun tersipu malu. Ia memperhatikan Kai dan mencuri-curi pandang saat melihat laki-laki itu menghampiri Queen.
"Sayang, ayo pulang!" ajak Kai. Ia menggandeng keponakannya dan beranjak pergi.
Namun saat melewati meja tiga gadis. Kai terkejut melihat tatapan aneh gadis berbaju merah. Laki-laki itu merasa geli karena kedipan matanya.
"Cantik-cantik kok aneh," batin Kai.
🖤🖤🖤
Gaya Om dan Keponakan saat pergi ke mall
🖤🖤🖤
__ADS_1
Hai semuanya, detik-detik menjelang akhir cerita ya. Besok adalah hari terakhir sekaligus penutupan cerita. Terima kasih sudah memberi cinta dan dukungan pada author sejauh ini.
Sayang kalian semua ❤*