
Karena hujan yang tak kunjung reda, Kylan dan Sunny memutuskan menonton film di ruang tengah mereka. Karena suasana rumah yang terang benderang, Kylan tidak khawatir ketakutan karena film yang ia tonton. Laki-laki itu hanya perlu mengalihkan pandangannya dan tidak terlalu fokus untuk menangani ketakutannya.
Mereka asik di depan televisi sambil duduk berdua, sementara seorang pelayan dagang membawa berbagai macam buah-buahan segar, makanan ringan, hingga cappucino hangat.
"Kau tidak takut?" tanya Sunny.
"Tidak."
"Kenapa? Apa kau sudah mulai menyukai film horor?"
"Karena aku tidak melihat filmnya, melihatmu lebih menarik bagiku," jawab Kylan. Mendengar rayuan itu, Sunny hanya tersenyum samar.
"Kau semakin berani menggodaku," gumam Sunny.
Kylan mendekatkan dirinya hingga ia bisa duduk sangat dekat dengan Sunny. Laki-laki itu memegang kedua bahu Sunny dan menatap matanya dengan lekat.
"Apa selama ini kau berpikir jika semua kata-kataku hanya sebuah rayuan? Tidakkah Kau merasakan ketulusanku dan perasaanku?" tanya Kylan. Wajahnya nampak serius, ia mengatakannya dengan sungguh-sungguh.
"Benarkah? Aku belum bisa merasakannya," jawab Sunny. Ia tidak takut dengan tatapan tajam laki-laki di depannya.
Dengan gerakan lembut, Kylan mengangkat dagu Sunny dengan tangan kanannya, sementara tangan kiri laki-laki itu meraba di belakang tekuk leher gadis itu.
Pelan tapi pasti, Kylan mendekatkan wajah mereka. Tidak terlihat penolakan dari Sunny, gadis cantik itu memejamkan mata dan membiarkan Kylan menikmati ranum bibirnya yang mungil dan menggoda.
Hanya beberapa detik, kecupan itu berakhir. Sunny membuka mata dengan jantung berdetak kencang dan hati berdebar-debar. Ia menggigit bibir bawahnya dan mendapati wajah Kylan masih sangat dekat.
"Apa kau sudah merasakannya?" tanya Kylan.
__ADS_1
"Hah?" Sunny segera sadar, ia mengusap wajahnya dan meraba tengkuk lehernya yang terasa merinding. Gadis itu salah tingkah dan gugup.
"Aku tahu ini cara mengungkapkan cinta yang salah, tapi bisakah kau memikirkannya?" tanya Kylan lagi.
"Kau membuatku gugup," gumam Sunny.
"Itulah yang aku inginkan. Aku ingin kau gugup saat ada di dekatku, aku ingin kau berdebar-debar saat melihatku. Aku ingin kau merasakan apa yang aku rasakan."
"Kau sukses melakukannya," batin Sunny.
"Apa kau meragukanku?" tanya Kylan lagi. Sunny menggeleng lemah. Ia bahkan masih kesulitan meredakan detak jantungnya yang melompat-lompat, Kylan sudah menyerbunya dengan berbagai ungkapan dan pertanyaan.
Terlihat dengan jelas, Kylan bahkan tidak sabar mendapatkan jawaban gadis itu. Laki-laki itu meraih kedua tangan Sunny dan menggenggamnya, membuat gadis itu semakin gelisah.
"Beri tahu aku bagaimana perasaanmu," desak Kylan.
"Aku ... gugup," jawab Sunny. Gadis berusia dua puluh tahun itu dibuat tidak bisa berkata-kataku oleh sikap Kylan.
"Ya, ini pertama kali," jawab Sunny. Memangnya siapa yang mau menjalin hubungan dengan gadis yang memiliki seorang ayah super galak dan perfectionist, mereka semua akan menyerah setelah melihat Alex.
"Aku akan menjadi yang pertama. Kau menerima cintaku?"
Sunny tersenyum samar, ia tidak menyangka jika Kylan punya cukup keberanian untuk mendekatinya sampai di titik ini. Dan gadis itu tidak ingin usaha Kylan sia-sia, ia mengangguk dan membuat Kylan sangat bahagia.
Melihat wajah Sunny bersemu merah, Kylan memeluk gadis itu. Ia tidak peduli jika pelayan rumah ini melihat mereka, Kylan tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagianya.
Jika sering kali seorang wanita yang lebih dulu menyatakan perasaannya pada Kylan, namun ini sangat berbeda. Kylan menyatakan perasaannya lebih dulu karena ia bersungguh-sungguh. Ia tidak sedang memainkan hati seseorang.
__ADS_1
Setelah peristiwa penembakan dramatis, keduanya bersikap canggung dan malu-malu. Sunny menjadi salah tingkah dengan wajah terus merona, sementara Kylan tetap tampil berani dan percaya diri.
Mereka menghabiskan waktu bersama hingga pukul delapan malam, namun suasana romantis tiba-tiba berubah menjadi sangat menyeramkan saat pelayan rumah mereka memberitahu jika Alex dan Nora sudah pulang.
"Daddy!" Sunny dan Kylan melotot. Mereka segera berlari ke ruang tamu.
"Bukankah Mommy bilang kalian akan menginap?" tanya Sunny panik. Ia seperti sedang tertangkap basah bersama Kylan.
"Sayang, ada tamu rupanya," ucap Alex saat melihat Sunny dan Kylan menyambutnya.
"Selamat malam, Om, Tante," sapa Kylan sambil membungkuk sopan ke arah Alex dan Nora. Dua orang itu tersenyum ramah dan menyalami Kylan.
"Sejak kapan kau datang, Kylan?" tanya Nora.
"Sore tadi, Tante."
"Bukankah kalian sudah pergi bersama sejak siang? Apa Kylan berniat menginap jika kami tidak pulang?" Pertanyaan Alex membuat Kylan menelan ludah kasar.
"Daddy, dia mengantarku pulang sebelum malam. Karena hujan deras dan angin kencang, aku memintanya mampir sambil menunggu hujan reda," jawab Sunny.
"Apa itu alasannya? Sayang, dia mengendarai mobil. Dia tidak akan kehujanan atau bahkan terbang tertiup angin. Laki-laki tidak boleh takut hujan bahkan petir!" seru Alex.
"Sungguh calon mertua yang kasar dan tidak berperasaan," batin Kylan protes. Ia bahkan tidak punya alasan untuk memberi jawaban, karena apa yang Alex katakan memang benar. Ia membawa mobil, mengapa khawatir kehujanan?
"Sayang, tidak apa-apa dia bermain di sini. Lagi pula Sunny pasti kesepian karena adiknya tidak di rumah. Mengertilah, kau juga pernah muda," tegur Nora pada Alex. Kylan senang mendengar Nora membelanya.
"Baiklah, baiklah. Asalkan kau tidak berbuat macam-macam pada Sunny, kami senang kau datang. Lagipula ada CCTV di rumah ini, aku akan mengeceknya nanti," ungkap Alex dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"CCTV?" tanya Kylan terkejut.
🖤🖤🖤