ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
BONCHAP 1


__ADS_3

Di sebrang pulau, di sebuah desa yang letaknya cukup jauh dari perkotaan, Kai memulai kehidupan barunya untuk membantu Jojo dan Kalingga mengurus klinik kesehatan yang mereka dirikan.


Di sini Kai akan bekerja sebagai dokter pembantu, bergelar sarjana saja tidak cukup untuk menjadi dokter sungguhan, maka dari itu Kai mengurungkan niatnya untuk mendaftar di perguruan tinggi kedokteran untuk S2 dan memilih untuk melanjutkan pendidikan profesi selama kurang lebih dua tahun.


Karena niat Kai sudah bulat untuk pergi ke desa tempat kelahiran kakak iparnya, Kai memilih untuk menempuh pendidikan profesinya di kota terdekat dari desa. Ia akan segera mendaftarkan diri setelah menentukan pilihannya. Namun sambil berpikir, ia akan menikmati waktunya untuk melihat-lihat desa yang sering diceritakan oleh Kalingga.


"Apa kau sudah sampai? Bagaimana keadaanmu?" tanya Jojo dari sebrang telepon. Wanita itu begitu mengkhawatirkan keadaan adik iparnya.


"Aku sudah sampai, Kak. Aku bertemu Paman dan Bibi, setelah ini mereka akan mengantarku ke tempat tinggal baruku," jawab Kai.


"Syukurlah, jaga diri baik-baik. Kabari aku jika ada sesuatu," ucap Jojo. Kai merasa lega, perjalanan jauh sudah ia lalui dan kini ia akan segera menikmati hari barunya.


Saat sampai, Kai diantar oleh sopir yang sudah disewa oleh saudaranya untuk mengantar laki-laki itu ke rumah Jojo. Kedua orang tua Jojo mnyambut dengan antusias kedatangannya. Mereka sangat senang, pada akhirnya mereka seakan mendapatkan seorang anak laki-laki.


"Nak, bukankah sebaiknya tinggal di sini saja? Kami tidak keberatan kau tinggal bersama kami," ujar Ibu Jojo.


"Bi, aku akan merepotkan kalian jika tinggal di sini. Aku akan baik-baik saja tinggal sendirian. Lagi pula aku pergi jauh dari saudara-saudaraku karena ingin mandiri," tolak Kai secara halus. "Ah, bolehkah aku memanggilmu ibu?" lanjutnya.


"Tentu saja, tentu boleh. Anggap aku ibumu, kau juga anakku," jawab Ibu Jojo.

__ADS_1


Setelah melepaskan penat karena cukup lama duduk di dalam pesawat dan mobil, Kai memutuskan untuk pergi ke rumah yang sudah dibeli oleh Jojo dan Kalingga sebagai tempat tinggalnya. Kedua orang tua Jojo mengantar laki-laki itu pergi agar tidak salah jalan.


Untuk pertama kali dalam hidupnya, Kai akan hidup dengan keadaan sederhana. Tanpa mobil atau motor untuk sementara waktu, rumah yang tidak terlalu besar hingga kamar tanpa pendingin ruangan.


Setelah menurunkan semua barang-barang milik Kai, mobil beserta sopir kini meninggalkan rumah tembok sederhana yang baru saja dibangun. Kai tidak terlihat keberatan, ia penuh semangat masuk ke dalam rumah.


"Ini kunci rumahnya. Simpan baik-baik karena tempat ini jauh dari tukang kunci jika sampai hilang," ucap Ayah Jojo.


"Baik, Paman." Kai mengangguk paham, seolah orang tua Jojo paham jika Kai adalah tipe orang yang ceroboh dalam meletakkan barang-barangnya.


Karena hari sudah sudah menjelang malam, kedua orang tua Jojo pamit untuk kembali pulang setelah mengisi lemari es dengan beberapa makanan instan dan meletakkan makanan untuk makan malam Kai.


Setelah kepergian orang tua Jojo, Kai membersihkan diri dan merapikan barang-barangnya. Ia menyusun semua pakaian ke dalam lemari kayu, juga menyusun sepatu dan buku-bukunya dalam rak khusus.


"Aku pasti bisa, semangat!" gumam Kai untuk menyemangati dirinya sendiri.


Setelah semua beres, laki-laki itu melanjutkan makan malam sendirian. Ia termenung sesaat memandang jam kecil di dinding sambil mengaduk nasi serta lauk pauk di piringnya. Entah mengapa, ia merasa sedih, biasanya ia menikmati makan malam bersama saudara dan keponakannya.


"Ah, aku sudah merindukan mereka semua," gumam Kai.

__ADS_1


Untuk mengusir rasa kesepian, ia makan sambil menonton televisi berukuran sedang, tidak sebesar televisi di rumahnya sendiri. Ia makan dengan cepat lalu keluar dan berdiri di depan rumah.


Rumah berpagar kayu dengan halaman tidak terlalu luas ini hanya cukup untuk menampung satu mobil dan satu motor. Jarak rumah dengan tetangga kanan dan kiri berkisar tiga hingga lima meter. Terdapat beberapa tanaman bunga di sekeliling rumah, juga pohon kelapa di halaman depan.


Kai menghirup napas dalam-dalam, merasakan kesejukan dan kesegaran udara yang lebih baik daripada di kota.


Ia mengunci pintu rumahnya setelah mengambil ponsel, berjalan kaki menapaki jalanan paving untuk melihat-lihat.


Di tempat ini, ada beberapa orang duduk di depan rumahnya sambil bercengkrama dengan tetangga mereka. Anak-anak bermain di halaman sambil tertawa. Sebuah pemandangan yang asing bagi Kai yang sejak lahir berada dalam lingkungan mewah. Setiap melewati penduduk lokal, mereka tersenyum dan menyapa Kai dengan sopan meski tidak saling kenal. Sungguh membuat laki-laki itu semakin senang.


Saat berjalan-jalan melewati hampir sepuluh rumah, Kai melihat klinik milik Jojo dan Kalingga. Klinik kesehatan yang cukup besar untuk seukuran klinik desa ini terlihat sangat bagus dari luar. Terlihat beberapa pasien yang sedang mengantre, dan Kai memutuskan untuk tidak mendekat, ia akan ke sana besok pagi.


Karena sangat penasaran dengan sekitarnya, Kai terus melanjutkan langkah sambil sesekali bertukar pesan dengan kakak iparnya. Ia sangat menikmati pemandangan desa ini di malam hari.


Laki-laki itu menanggapi setiap orang yang menyapanya, berkali-kali ia melihat anak-anak dan bapak-bapak mengayuh sepeda mereka penuh semangat.


Namun tiba-tiba, Kai merasakan gerimis. Ia berlari ke arah lain untuk kembali, namun hujan semakin deras, dan ia kebingungan karena lupa jalan pulang.


🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2