
Setelah kepergian gadis itu, Kai menemui petugas yang berjaga di meja resepsionis. Laki-laki itu meminta untuk bertemu dengan kepala klinik tersebut.
Resepsionis tersebut menolak, karena hanya orang yang berkepentingan yang bisa menemui kepala bagian, sementara Kai sedari tadi hanya duduk diam dan mengamati orang-orang selama beberapa jam seperti pengangguran.
"Perkenalkan, nama saya Kaivan. Adik dari Tuan Kalingga dan Nona Jovanka." Kai tersenyum lebar sambil memberikan kartu namanya.
Resepsionis tersebut tersentak kaget, ia melotot dan mendadak gugup. Rupanya kabar kedatangan orang penting yang dirumorkan sangat tampan itu benar, dan orang tersebut berdiri di hadapannya.
"Ah, maaf. Mohon tunggu sebentar," ucap resepsionis itu dengan nada sopan dan senyum yang merekah. Ia lalu memanggil seseorang yang kebetulan lewat dan memintanya mengantar Kai.
Rupanya, Kai bertemu lagi dengan gadis yang mengantarnya pulang semalam.
"Kenapa kau ingin menemui kepala klinik?" tanya gadis itu.
"Bukan urusanmu!"
"Ah, menyebalkan." Gadis itu bergumam sambil menghela napas berat. Bertemu laki-laki seperti Kai membuatnya kesal sekaligus penasaran.
"Apa kau bekerja di sini? Siapa namamu?" tanya Kai.
"Bukan urusanmu!" timpal balik gadis itu. Membuat Kai membuang muka kasar sambil mencebik.
Setelah sampai di depan ruangan kepala bagian, Kai dipersilahkan masuk dengan sopan dan gadis itu pergi untuk kembali bekerja.
"Perkenalkan, saya Kaivan." Kai memperkenalkan diri pada laki-laki paruh baya yang menjabat sebagai kepala klinik.
"Tuan Kaivan, selamat datang. Saya Dokter Andi sekaligus pimpinan klinik ini," ucap Dokter Andi.
"Panggil Kai saja, Pak. Usia saya bahkan jauh lebih muda dari Bapak," jawab Kai sambil mengulum senyum.
"Wah, rupanya rumor itu benar. Anda sangat tampan," puji Dokter Andi.
__ADS_1
"Anda bisa saja, Pak. Oh ya, ngomong-ngomong, siapa perawat yang mengantar saya tadi?" tanya Kai.
"Apa ada masalah? Apakah dia bersikap tidak sopan pada anda?"
"Ah, sedikit," jawab Kai.
"Dia bekerja di bagian administrasi, namanya Kyara. Saya akan menegurnya jika membuat anda tidak nyaman."
"Tidak perlu, Pak. Bukan masalah besar. Saya kira dia perawat," jawab Kai.
Kedatangan Kai sangat dinantikan di klinik ini. Sudah tersebar rumor jika saudara dari pemilik klinik ini sangat tampan dan seorang calon dokter muda berbakat.
Kai mengatakan jika keberadaannya hanya membantu mengelola klinik ini. Ia harus menyelesaikan pendidikan profesinya terlebih dahulu sebelum benar-benar menjadi dokter yang sesungguhnya.
Setelah berbincang cukup lama, Kai diajak oleh Dokter Andi untuk berkeliling. Memperlihatkan semua ruangan dan apa saja yang ingin Kai ketahui.
Kai cukup puas, meski bukan klinik besar seperti klinik yang sering ia datangi di kota, namun tempat ini cukup bagus dalam segi pelayanan dan tata ruang.
"Permisi, ini tempat kerjaku," Suara seorang gadis yang sangat Kai kenali tiba-tiba sudah berada di belakangnya.
"Aku meminjamnya. Kepala klinik mengizinkanku," jawab Kai.
"Baiklah." Kyara menyingkir dan hendak pergi.
"Hei, Kyara!" seru Kai.
"Kyara? Dari mana kau tahu namaku?" Gadis itu berbalik sambil menautkan kedua alisnya.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang semalam," ujar Kai sambil tersenyum.
"Ah, ya." Kyara mengangguk lalu memalingkan wajah seketika, melihat senyum mengembang di bibir Kai membuat wajahnya memerah.
__ADS_1
Sejak pertemuan pertama mereka di malam hujan dan listrik padam, Kai dan Kyara mulai saling menyapa meski hanya sekadar mengucapkan "Hai".
Kyara adalah gadis berumur dua puluh tiga tahun yang tinggal tidak jauh dari klinik. Ia menempuh pendidikan akuntansi di Universitas yang terletak di kota terdekat dan memilih untuk bekerja di klinik ini sebagai staf akuntansi agar dekat dengan tempat tinggalnya.
Selama tinggal di desa ini, Kai hidup sehat dan makan dengan teratur meski tanpa pengingat dari kakak iparnya. Kai selalu bangun pagi dan menyempatkan jogging berkeliling desa, memamerkan ketampanannya pada penduduk desa yang sudah sangat mengenalinya.
"Kak, kenapa motorku belum juga dikirim? Aku bahkan selalu berjalan kaki kemana-mana," ucap Kai saat sedang sarapan pagi sambil menelepon Kalingga.
"Akan kukirimkan minggu ini, jangan rewel!" seru Kalingga dari sebrang telepon. Ia sedang sarapan pagi bersama anak dan istrinya serta Kylan, dan membiarkan panggilan Kai menyala dengan keras agar semua orang bisa mendengarnya.
"Ah, Kakak. Sebenarnya aku ingin kalian mengirim mobilku, tapi sepertinya itu terlalu mencolok," keluh Kai.
"Mobil? Kau pikir ukuran mobil sebesar bantal dan kami bisa mengirimnya dengan mudah. Kenapa tidak sekalian kau ingin kami memindahkan rumah ini?" sela Jojo.
"Kakak Ipar!" seru Kai sambil menjauhkan ponsel dari telinganya. Suara Jojo bahkan terdengar seperti aungan singa.
"Om Kai, Queen yindu!" ujar Queen.
"Ah, kesayangan Om. Om juga rindu."
"Hei, Kai. Apa di sana juga ada gadis-gadis cantik? Apa gadis desa juga secantik gadis di kota-kota?" sela Kylan bertanya.
"Tentu saja, aku bertemu gadis yang sangat cantik. Dia bahkan lebih cantik dari pacarmu," jawab Kai.
"Benarkah? Wah, aku jadi penasaran. Kapan-kapan aku akan mengunjungimu!"
"Tentu saja, kau harus datang melihatnya sendiri."
Meski hidup dengan sederhana dan banyak menemukan kesulitan, Kai tidak keberatan. Ada kalanya ia merasa rindu saudara dan keponakannya, ada kalanya ia rindu teman dan sahabat dekatnya, namun Kai berusaha menahan dan mengontrol diri agar bisa bertahan hidup mandiri.
🖤🖤🖤
__ADS_1