
Hari-hari berlalu cepat, kini Jojo sudah mendekati hari persalinannya. Meski begitu, wanita itu selalu saja membuat susah suami dan ketiga saudara iparnya. Setiap hari, selalu saja ada yang yang Jojo inginkan dan sulit ditemukan.
Meski permintaannnya selalu aneh dan memusingkan, semua orang berusaha keras menuruti apapun yang Jojo inginkan.
Tidak hanya Kalingga yang sering dibuat kewalahan dengan permintaan Jojo, bahkan Kai lebih sering dibuat pusing tujuh keliling oleh kakak iparnya.
"Kau tidak mandi?" tanya Jojo. Ia melihat Kai duduk di meja makan dengan kaos yang basah karena keringat.
Belum sempat Kai memberi jawaban, Jojo bergegas menuju wastafel dan memuntahkan seluruh makanan yang sudah terlanjur masuk ke dalam perutnya.
Dengan wajah pucat dan kebingungan, Kai mendekati Jojo dan berusaha membantu wanita itu. Namun dengan isyarat tangan, Jojo malah mengusir Kai dan memintanya pergi.
"Apa bau badanku seburuk itu?" batin Kai sambil menciumi ketiaknya kanan dan kiri. Bocah itu berlari menaiki anak tangga dan langsung masuk ke dalam kamar.
Sementara Jojo, ia berusaha menahan diri agar tidak terus menerus muntah. Kehamilannya semakin mendekati persalinan namun indra penciuman nya semakin peka hingga membuat wanita itu sangat tidak nyaman dengan aroma tertentu, termasuk aroma keringat laki-laki lain selain suaminya.
"Anda baik-baik saja?" tanya Bu Yura. Wanita paruh baya itu terkejut mendapati Jojo berdiri membungkuk di wastafel.
Dengan cekatan, Bu Yura memijat tengkuk leher Jojo sambil mengusap punggungnya. Ia juga mengambil minyak aromaterapi dan menmbalurnya di sekitar leher Jojo.
"Terima kasih, Bu," ucap Jojo. Ia membersihkan area sekitar mulutnya dan duduk dengan napas ngos-ngosan.
"Apa ada sesuatu yang tidak nyaman di dapur? Bagian mana yang perlu dibersihkan?" tanya Bi Yura khawatir.
__ADS_1
"Tidak, Bi. Kai baru saja pulang, sepertinya dia baru dari tempat gym. Bau keringatnya membuatku mual," keluh Jojo.
Melihat wanita itu sangat tidak nyaman, Bi Yura mengantar Jojo kembali ke kamarnya. Wanita paruh baya itu membuat segelas jahe hangat dan meminta Jojo menghabiskannya.
"Perkiraan dokter bayiku lahir dua minggu lagi, tapi kenapa aku masih sangat sensitif, ya, Bi? Apa ada yang salah?" tanya Jojo. Sejauh pengetahuannya, wanita hamil biasanya hanya mengalami mual muntah di trimester awal, namun berbeda dengan Jojo. Ia lebih sensitif di trimester ketiga.
"Tidak apa-apa, Nona. Setiap kehamilan itu berbeda, tidak ada patokan bagaimana seorang wanita akan menjalani kehamilannya. Semoga Nona kuat dan sabar sampai hari persalinan nanti," jawab Bu Yura. Ia meminta Jojo mengangkat kakinya naik ke atas kasur. Dengan penuh kelembutan, Bu Yura memijat kaki Jojo dan berusaha membantu wanita itu rileks kembali.
Selang beberapa menit, Kalingga pulang dan mendapati istrinya berbaring di atas tempat tidur. Tidak biasanya istrinya berada di atas kasur di siang hari. Melihat kedatangan Kalingga, Bu Yura pamit dan keluar dari kamar Jojo.
"Ada apa, Sayang? Kau sakit?" tanya Kalingga.
"Hanya muntah," jawab Jojo dengan lemah. Wanita itu terlihat pucat.
"Ada sesuatu yang tidak nyaman? Apa kita perlu pergi ke dokter?" Kalingga nampak khawatir. Ia mencuci tangan dan kakinya kemudian memeriksa kondisi Jojo.
Saat suaminya akan berganti pakaian, Jojo meminta Kalingga meninggalkan kemejanya di atas kasur. Wanita itu sangat menyukai aroma parfum yang sudah bercampur dengan keringat suaminya. Bagi Jojo, itu adalah aroma paling menenangkan yang pernah ia rasakan.
"Kau sungguh menyukainya?" tanya Kalingga sambil tersenyum. Laki-laki itu menggeleng pelan, merasa tingkah istrinya semakin hari semakin tidak masuk akal. Padahal pakaian yang sudah ia pakai selama setengah hari itu pasti memiliki aroma yang tidak sedap, namun Jojo terlihat sangat menyukainya.
"Bagaimana jika langsung mencium sumber aromanya?" tanya Kalingga lagi. Ia mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam kamar mandi dan mendekati Jojo yang duduk di pinggiran tempat tidur.
"Sumber aroma?" Jojo mengernyitkan dahi.
__ADS_1
Kalingga berdiri di depan Jojo. Laki-laki itu kemudian mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi dan mempertontonkan ketiaknya yang dipenuhi dengan bulu-bulu halus.
"Inilah sumber aroma sedap itu," ucap Kalingga sambil menahan tawa.
"Sayang!" seru Jojo sambil melotot. Ia mencubit pinggang suaminya lalu mendorongnya menjauh.
"Tega sekali menyuruh istrimu mencium ketiak? Itu tidak sopan," gumam Jojo.
"Sayang, ini lebih sedap dari kelihatannya. Kau belum mencobanya," bujuk Kalingga. Ia tertawa semakin keras saat melihat wajah kemerahan istrinya.
Jojo menutup wajahnya dengan kemeja Kalingga. Wanita menggelengkan kepala cepat sambil terus meminta suaminya segera pergi dan masuk ke dalam kamar mandi.
Hanya selang sepuluh menit, Kalingga sudah selesai mandi. Ia mendekati Jojo dan mencium istrinya.
"Bagaimana jika kita pergi berbelanja?" tawar Kalingga.
"Bukankah Bu Yura sudah membeli semua kebutuhan dapur?" tanya Jojo.
"Tidak, kita membeli kebutuhan bayi kita," jawab Kalingga.
"Terdengar menyenangkan," gumam Jojo. Wanita itupun setuju dan segera mengganti pakaiannya.
Berbelanja kebutuhan bayi adalah hal yang paling menyenangkan saat mendekati proses kelahiran. Hal itu akan menjadi moodbooster bagi ibu hamil agar semakin semangat menanti hari persalinannya.
__ADS_1
"Kalian mau ke mana?" tanya Kai tiba-tiba. Ia berdiri di anak tangga paling ujung sambil memperhatikan kedua Kakaknya yang sudah berpakaian rapi.
🖤🖤🖤