
Jojo dan Kalingga menikmati perjalanan di pesawat selama kurang lebih tiga jam. Setelah sampai di bandara, mereka di sambut oleh seorang sopir pribadi dengan mobil mewah.
Jojo tidak menyangka, jika Kalingga akan menyiapkan perjalanan mereka sebaik ini.
"Kak, seharusnya kita naik bus kota saja. Akan lebih hemat dan irit biaya," ucap Jojo.
"Mobil dan sopir ini dari Keenan dan Kylan. Mereka menyewa khusus untuk kita," jawab Kalingga. Ini bahkan lebih membuat Jojo terkejut.
Gadis itu bergegas mengambil ponselnya dari dalam tas saat mereka sudah masuk ke dalam mobil. Jojo mengirim pesan pada Keenan, Kylan serta Kai dan memberi kabar bahwa mereka sudah turun dari pesawat.
Jojo pun mengucapkan terima kasih pada dua laki-laki yang begitu baik memudahkan perjalanannya untuk sampai ke kampung halaman.
"Tidurlah, kau harus istirahat, Sayang." Kalingga mengusap rambut Jojo, meminta gadis itu menyandarkan kepala di pundaknya.
"Hanya aku yang tahu jalan pulang. Kalau aku tidur, kita bisa tersesat."
Kalingga tersenyum, ia menepuk pundak sopir di depannya.
"Pak, apakah anda tahu ke mana arah rumah calon istri saya?" tanya Kalingga.
Tanpa kesalahan, sopir memberikan informasi lengkap alamat rumah Jojo beserta arah-arah jalan yang akan mereka lalui. Mendengar jawaban sopir, Jojo berdecak kagum. Sepertinya kini empat laki-laki di rumah mereka menjadi detektif dadakan.
"Akses mobil masuk ke desa masih sulit, Kak. Jalannya tidak terlalu lebar," keluh Jojo.
"Jalan desamu sudah diperbaiki beberapa bulan lalu. Mobil bisa keluar masuk sesuka hati. Kau tidak tahu?" tanya Kalingga.
"Ah, begitu." Jojo menganggukkan kepala paham.
Maklum saja Jojo tidak tahu bagaimana kondisi kampung halamannya, karena sudah lebih dari setahun ia tidak bisa pulang. Kondisi keuangan yang sedang sulit dan jadwal kerja serta kuliah yang tidak memungkinkan, mengharuskan Jojo bertahan kuat melawan kerinduan pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Meski lebih dari setahun tidak pulang, pada akhirnya ia bisa pulang dan membawa calon menantu untuk kedua orang tuanya. Ini adalah hari yang sangat berkesan untuk gadis itu.
Sepanjang perjalanan, Jojo terus menggenggam tangan Kalingga sambil menyandarkan kepala di bahu laki-laki itu. Mereka kemudian memutuskan untuk mampir ke salah satu rumah makan sederhana untuk makan siang.
🖤🖤🖤
Hari ini, Keenan melakukan syuting iklan dan pemotretan untuk salah satu produk skincare ternama. Sementara Kylan harus bekerja di studio untuk jadwal pemotretan beberapa artis dan selebgram.
"Ken," sapa Angelina saat melihat Keenan sedang beristirahat di sela pemotretan.
"Hai, Angel. Apa kau sedang bekerja?" tanya Keenan. Ia tidak tahu jika akan ada wanita itu di lokasi ini.
"Tidak, aku mengantarkan makan siang untukmu. Kebetulan aku baru selesai wawancara di G-studio. Aku tahu kau belum makan siang," ujar Angelina. Ia memberikan kotak makan serta botol minum berisi jus jeruk. Wanita itu juga membawa sekotak salad buah.
"Hmm, dari mana kau tahu aku di sini?" tanya Keenan. Ia tidak pernah merasa memberitahu jadwal pekerjaannya pada orang lain.
"Maaf, Jojo memberitahuku," jawab Angelina. Wanita itu merasa tidak enak hati. "Jangan menyalahkannya, aku memaksa Jojo untuk memberitahuku karena aku ingin bicara denganmu," lanjutnya.
"Seharusnya kau menelepon. Kita bisa membuat janji," ucap Keenan. Ia merasa tidak nyaman karena Angelina membawakannya banyak makanan.
"Maaf, lain kali aku akan menelepon terlebih dahulu. Jika tidak suka makanannya, berikan saja pada staf studio. Aku menunggumu di kafe XXX sore nanti pukul empat, bagaimana?" tanya Angelina.
"Baik, aku akan datang. Terima kasih untuk makanannya." Keenan mengangguk dan tersenyum canggung. Ia membiarkan Angelina pergi begitu saja.
Setelah kepergian Angelina, Keenan langsung mengirim banyak pesan pada Jojo. Laki-laki itu mengeluh karena Jojo memberitahu lokasi pekerjaannya pada Angelina.
Namun bukannya merasa bersalah, Jojo malah menelepon laki-laki itu dan mengoceh panjang lebar. Menasehati Keenan agar melunakkan hatinya dan menjernihkan matanyanya agar bisa melihat ketulusan Angelina.
Keenan bahkan harus menjauhkan ponsel dari telinganya saat Jojo mulai berbicara tanpa titik dan koma, bahkan gadis itu berbicara cepat tanpa memberi kesempatan Keenan untuk membela diri.
__ADS_1
Niat Keenan untuk marah pun tidak tersampaikan karena Jojo lebih dulu marah padanya. Laki-laki itu hanya bisa menarik napas panjang dan mengusap dadanya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Kalingga setelah mendengar Jojo mengoceh panjang lebar saat menelepon seseorang.
"Kak Keenan, dia pasti kesal karena aku memberitahu Kak Angelina lokasi syutingnya hari ini. Padahal, Kak Angelina itu sangat baik, dia melakukan apapun demi orang yang dia cintai. Bahkan Kak Angelina rela menjaga Kak Keenan di rumah sakit saat kita pulang, dan datang ke rumah pagi-pagi sekali hanya untuk mengantar kue ulang tahun. Kalau memang Kak Keenan tidak suka, tidak perlu memanfaatkan kebaikannya," ucap Jojo panjang lebar.
Kalingga pun hanya ber-oh ria mendengar penjelasan Jojo. Ia tidak ingin membantah sebelum Jojo berbicara lebih banyak.
Sebenarnya, Kalingga juga merasa kurang setuju dengan sikap adiknya. Keenan bersikap seolah-olah menolak Angelina, namun sering meminta bantuan dan memanfaatkan kebaikannya. Itu adalah salah satu tanda laki-laki tidak berperasaan.
Setelah menyelesaikan makan siang dan mengirim pesan pada Keenan agar laki-laki itu lebih terbuka dan menghargai perasaan Angelina, Jojo dan Kalingga melanjutkan perjalanan. Mereka masih butuh sekitar tiga hingga empat jam lagi untuk sampai.
Selama perjalanan, Jojo menceritakan tentang orang tuanya. Tentang masa kecil dan saat-saat berharganya menjadi seorang putri tunggal keluarga sederhana.
"Kau begitu dicintai orang tuamu, bagaimana bisa aku membuatmu lebih bahagia dari saat kau bersama mereka?" tanya Kalingga.
"Aku sudah bahagia bersamamu, Kak."
"Apakah kedatanganku tidak akan membuat mereka repot?" tanya Kalingga.
"Ah, ya. Sepertinya ada satu masalah," gumam Jojo. Ia baru ingat, jika di rumahnya hanya ada dua kamar. Satu kamar milik kedua orang tuanya, dan satu kamar miliknya. Meskipun sudah di renovasi, tapi Jojo tidak punya pikiran untuk menambah jumlah kamar.
"Masalah apa?" tanya Kalingga.
"Hanya ada satu kamar kosong," gumam Jojo.
"Tidak apa-apa, kita bisa berbagi ranjang," jawab Kalingga dengan senyum mengembang. Sepertinya masalah yang dimaksud oleh Jojo merupakan anugerah yang diinginkan Kalingga.
"Ih, maunya!" seru Jojo sambil mencubit gemas pinggang Kalingga.
__ADS_1
🖤🖤🖤