ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Merlinda


__ADS_3

Setelah membaca surat singkat dari pemberi hadiah, Jojo menelan ludah kasar dengan dua bola mata melotot lebar.


"Angelina sangat pengertian," gumam Kalingga.


Bahkan semua hadiah lingerie ini berasal dari brand Anyelir. Jojo merasa sedikit geli, kenapa hadiahnya harus selucu ini?


"Kau akan memakainya, kan, Sayang?" tanya Kalingga.


"Memakai ini?" Jojo balik bertanya. Akan aneh rasanya bagi Jojo jika memakai pakaian kurang bahan seperti ini.


"Akan ku pikirkan, Sayang." Jojo meringis. Ia membereskan hadiah pemberian Angelina dan memasukkannya ke dalam lemari.


Hari semakin larut, Jojo dan Kalingga memutuskan untuk duduk santai di depan televisi sambil menunggu kurir pengantar makanan datang.


"Apakah Mama akan baik-baik saja?" tanya Kalingga dengan lirih.


"pasti, Sayang. Mama kalian wanita yang kuat," jawab Jojo. Hatinya mendadak kembali sedih jika mengingat Merlinda.


"Aku masih merasa ada yang menggajal, banyak sekali pertanyaan yang ingin ku sampaikan pada Mama. Tapi hubungan kami selama ini tidak baik, tentu sejak kepergiannya meninggalkan kami," jelas Kalingga dengan suara lirih.


Ada banyak rasa sakit yang dihadapi laki-laki itu perihal kepergain Merlinda. Meski ia sudah dewasa, kasih sayang dan kehadiran seorang ibu masih sangat dibutuhkan baginya.


Jojo memeluk Kalingga, mengusap punggung dan menenangkannya. Ia akan menceritakan segalanya jika memang sudah waktunya. Meski tanpa mereka tahu pun, mereka sudah sangat menyesali sikap mereka selama ini.


Setelah beberapa menit menunggu, seorang kurir pengantar makanan pun datang. Rupanya Kalingga memesan beberapa makanan berat dan camilan. Laki-laki itu juga memesan makanan untuk dikirimkan ke rumah sakit agar adik-adiknya tidak perlu repot.


Jojo mengirim banyak pesan pada Kai, ia menanyakan bagaimana kondisi perkembangan Merlinda.


Kai mengatakan jika kini kondisinya sudah membaik dan stabil. Kau meminta agar Jojo dak Kalingga tidak perlu khawatir.


"Ayo istirahat. Kita harus ke rumah sakit pagi-pagi sekali," ajak Jojo. Kalingga mengangguk setuju, ia menggandeng istrinya menaiki anak tangga dan masuk ke dalam kamar.


Ini adalah hari yang paling bersejarah dalam hidup mereka. Suatu kebahagiaan yang tidak pernah mereka rasakan sebelumnya, karena cinta mereka kini mnjadi cinta yang suci dan penuh berkah.


Kalingga berbaring dan meminjamkan lengannya sebagai bantal untuk Jojo. Beberapa menit, keduanya hanya diam dengan pikirannya masing-masing.

__ADS_1


Jojo tahu jika ini adalah malam pertama bagi mereka. Namun mengingat bagaimana kondisi Merlinda, membuat Jojo benar-benar tidak berselera melakukan apapun.


"Sayang," lirih Jojo sambil mengusap wajah Kalingga.


"Hmm."


"Bisakah kita menundanya?" tanya Jojo. Kalingga menunduk dan mengusap kepala Jojo, ia melihat wajah cantik yang tampak lelah.


"Baiklah." Kalingga mengangguk dan tersenyum. Ia tahu jika kebahagiaan dan kesedihan ini datang secara bersamaan, namun Kalingga sendiri merasa tidak bisa fokus saat mengingat bagaimana kondisi Merlinda saat ini.


Keduanya tidur di bawah selimut yang sama dengan tubuh saling memeluk sampai pagi menjelang.


Pukul empat pagi saat langit bahkan masih gelap, Jojo meninggalkan Kalingga yang masih terlelap. Wanita itu bergegas membersihkan rumah dan memasak banyak makanan untuk dibawa ke rumah sakit.


Ia juga membereskan kamar milik Keenan, Klan dan Kai. Hanya beberapa hari ia tidak di rumah ini, lemari pakaian mereka bertiga seperti kapal yang baru saja terkena badai tsunami.


Setelah semua kamar telah rapi dan masakan telah siap. Jojo kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Ia juga menyiapkan segala keperluan Kalingga sebelum laki-laki itu terbangun.


"Sayang, ayo bangun," bisik Jojo. Ia membuka selimut yang menutupi kepala laki-laki itu dan mengusap rambutnya.


"Hmm." Kalingga meregangkan otot-otot tubuhnya. Saat matanya mulai terbuka, ia melihat wanita pujaan hatinya sudah tersenyum menatapnya.


"Seumur hidup, inilah pagi terbaikku," gumam Kalingga. Jojo tersenyum, ia menarik tangan Kalingga agar laku-laki itu segera bangun. Mereka harus sampai di rumah sakit dengan cepat karena Jojo sudah menyiapkan sarapan untuk semua orang.


"Ayo bangun!" ucap Jojo sambil berusaha menopang tubuh Kalingga agar laki-laki itu mau bangun.


"Beri aku ciuman selamat pagi," pinta Kalingga dengan manja.


"Tidak, cepat mandi!" tolak Jojo. "Aku akan siapkan makanan yang harus kita bawa," lanjutnya.


"Ah." Kalingga cemberut, namun saat Jojo akan turun dari tempat tidur, laki-laki itu segera menghentikannya dan mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Jojo. Lagi-lagi wanita itu harus mengendalikan detak jantungnya yang berpacu tak terkendali.


"Baiklah, aku akan mandi." Kalingga tersenyum cerah, lebih cerah dari mentari pagi yang masih bersinar malu-malu.


Jojo berjalan keluar kamar dengan perasaan tidak karuan. Ia benar-benar masih harus beradaptasi dengan kebiasaan baru Kalingga sebagai suaminya.

__ADS_1


Sambil menunggu Kalingga mandi dan bersiap, Jojo memasukkan makanan untuk sarapan ke dalam wadah kedap udara. Ia memasak cukup banyak hingga cukup di makan untuk lima sampai enam orang.


"Aku akan segera ke sana. Kau sudah lapar? Aku membawa banyak makanan untuk sarapan." Jojo mengirim pesan untuk Kai.


Setelah semua siap, Jojo dan Kalingga segera berangkat ke rumah sakit. Mereka beruntung karen ini masih belum genap pukul enam pagi, kondisi jalan masih lenggang dan sepi, membuat keduanya sampai di rumah sakit dengan cepat.


Setelah sampai, mereka bergegas membawa semua barang ke ruangan Merlinda. Johnathan memilih sebuah ruangan VIP yang sangat mewah, lengkap dengan semua fasilitas dan berbagai perlengkapan. Karena kondisi Merlinda yang membutuhkan banyak sekali alat medis untuk menunjang hidupnya, maka biaya yang dikeluarkan juga sangat banyak.


"Kakak Ipar, kau sudah sampai?" tanya Kai. Bocah itu sudah berada di luar ruangan untuk menyambut kedatangan kakaknya.


"Ini untuk sarapan, cepat ajak yang lain makan," ucap Jojo sambil menyerahkan apa yang ia bawa.


"Hmm, dari aromanya saja ini pasti sangat enak," gumam Kai.


Jojo dan Kalingga masuk, ia melihat Kylan sedang menyuapi bubur untuk Merlinda.


Kalingga berjalan mendekat. Ia melihat Merlinda setengah duduk dan lemah. Wanita itu nampak pucat dengan rambut berantakan.


"Ma," lirih Kalingga. Dadanya terasa sesak, ia lalu memeluk Merlinda. Terukir senyum tipis di wajah wanita paruh baya itu, membuat hari-hari terakhirnya terasa semakin berarti.


"Mama baik-baik saja?" tanya Kalingga. Merlinda mengangguk lemah. Wanita itu tersenyum dan mengangkat tangannya untuk mengusap wajah anak sulungnya.


Kalingga sangat senang. Entah sudah berapa lama ia tidak bisa merasakan lembut tangan wanita itu.


Jojo pun mendekati Merlinda dan menyisir lembut rambut wanita itu agar terlihat rapi.


Keenan dan Kylan mengajak Kalingga ke ruangan lain, sepertinya ada sesuatu yang memang harus mereka bicarakan terkait kondisi Merlinda sebenarnya.


Merlinda memberi isyarat agar Jojo mendekatkan wajahnya. Karena melihat bibir Merlinda bergetar seakan ingin mengatakan sesuatu, Jojo mendekatkan telinganya.


"Jaga rahasianya sampai waktunya nanti," lirih Merlinda dengan suara sangat pelan.


Jojo mengangguk dengan kedua mata berkaca-kaca. Hatinya sakit dan teriris melihat kondisi Merlinda seperti ini. Meski bukan orang tuanya, ia merasa sangat sedih.


🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2