ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Calon Adik Ipar Yang Licik


__ADS_3

Sejak Kalingga mengungkapkan perasaannya, Jojo sedikit menghindari laki-laki itu. Namun usahanya selalu terkalahkan dengan kerasnya tekad Kalingga untuk mendekatinya. Bagaimanapun, mereka tinggal di bawah atap yang sama dan selalu bertemu. Jojo bahkan semakin kesulitan berpikir jernih saat Kalingga di dekatnya.


Jika pekerjaan Kalingga sedang senggang, laki-laki itu selalu menyempatkan diri kembali pulang setiap pukul sembilan pagi untuk mengantar Jojo ke kampusnya. Dan ia akan pulang pukul tiga sore agar bisa bertemu dengan Jojo lebih awal.


Hampir seminggu ini, Kalingga benar-benar membuat Jojo gelisah. Laki-laki itu punya niat yang kuat, namun masih belum punya keberanian untuk mengambil tindakan yang serius.


Malam ini, Kalingga tidak bisa pulang lebih awal dan harus lembur untuk mengurus banyak hal di kantornya. Kini Jojo hanya menikmati makan malam bersama ketiga anak asuhnya.


"Bagaimana skripsimu?" tanya Keenan di sela makan mereka.


"Lumayan menguras tenaga dan pikiran, Kak. Dosen pembimbingku agak rumit, aku harus bekerja keras lagi," keluh Jojo. Sudah beberapa hari terakhir ia tidak bisa fokus belajar dan mengakibatkan pengajuan skripsinya selalu membuat dosen kesal.


"Semangat, Jo. Kau akan segera lulus," sela Kylan.


"Apa kau akan pergi setelah lulus kuliah?" tanya Kai. Tiba-tiba semua orang menghentikan aktivitas makan mereka. Keenan dan Kylan menatap Jojo menunggu jawaban.


"Masih belum terpikirkan bagaimana kedepannya nanti," jawab Jojo. Ia memang ingin kembali ke kampung halaman dan memanfaatkan ilmu yang sudah ia peroleh selama menempuh pendidikan.


Jojo tinggal di sebuah pedesaan yang memiliki jarak cukup jauh dari puskesmas bahkan apotek. Gadis itu hanya bercita-cita untuk membangun sebuah apotek dan membuat warga di sekitarnya bisa dengan mudah mendapatkan obat tanpa harus pergi jauh. Namun perasaannya seperti terikat di rumah ini.


"Aku akan sedih jika kau pergi," ucap Kylan. Wajahnya tampak menunjukkan perasaan yang sesungguhnya.


"Siapa yang akan mengurus kami?" tanya Kai.


"Kalian semua kan sudah besar. Nanti saat Kakak menikah, istrinya akan membantu kalian. Tenang saja," ujar Jojo berusaha menghibur ketiga anak asuhnya.


"Belum tentu. Jangankan istri, pacar saja Kakak belum punya," seloroh Kylan. Kai hanya bisa mengedipkan mata cepat sambil tersenyum ke arah Jojo.


"Kau saja yang menikah, Kak. Gadis-gadis sudah banyak yang mengantre di belakanmu," ujar Jojo melirik Keenan.


"No! Saudara tertua akan menikah lebih dulu. Jangan mengusik ketenangan hidupku," tolak Keenan mentah-mentah.

__ADS_1


"Apakah mantan masih membayang-bayangi hidupmu, Kak?"


"Ini bukan soal mantan, Jojo."


"Lalu apa, Kak? Mantan itu bukan pahlawan, mereka tidak untuk dikenang," canda Jojo. Kylan dan Kai menertawakan kakaknya.


Keenan hanya bisa melengos sambil melanjutkan makan. Beberapa bulan lagi Jojo akan segera menjalani sidang skripsi, jika ia berhasil, maka gadis itu akan segera lulus dan mendapatkan gelar sarjana. Semua orang menjadi khawatir saat memikirkan bagaimana langkah Jojo kedepannya nanti, apakah gadis itu akan pergi?


Saat Kalingga sedang tidak ada di rumah, Jojo memang merasa lebih bebas karena tidak melihat tatapan aneh laki-laki itu. Namun, seperti ada yang hilang dari kesenangannya. Biasanya, mereka selalu berkumpul berlima. Membicarakan banyak hal, dari yang penting hingga yang tidak berarti. Meski biasanya Kalingga tidak terlalu suka ikut berdebat, namun ia selalu menjadi pendengar yang baik dan wasit saat suasana debat mulai sengit.


Setelah makan malam berakhir, Jojo sibuk membantu Kai mengerjakan PR sekolahnya di ruang tengah. Sementara gadis itu berpikir keras mencari jawaban atas lembar soal di depannya, Kai malah asik menghabiskan keripik dalam toples.


"Kai, apa kau tidak ingat cara menyelesaikan ini?" tanya Jojo. Soal matematika memang sangat menjengkelkan.


"Tidak," jawab Kai dengan mulut penuh.


"Berhenti makan atau kerjakan sendiri," tegas Jojo. Ia menutup merebut toples dan menyingkirkannya dari pangkuan Kai.


"Kai, kerjakan dulu PR mu!"


"Ah, Jojo."


Dengan berat hati Kai hanya bisa menuruti perintah pengasuhnya. Jika tidak, akan ada angin topan yang akan membuat seisi rumah mereka ribut.


"Ngomong-ngomong, jam berapa Kakak pulang?" tanya Jojo dengan lirih. Kai mengabaikannya, bocah laki-laki itu hanya mengangkat bahu dan tetap sibuk menyelesaikan soal.


"Tumben sekali Kakak sampai lembur. Biasanya selalu pulang sore." Secara tidak sadar, Jojo mengeluh pada orang yang salah. Kai mendongak, menatap Jojo dengan rasa penasaran.


"Hmm, apa kau merindukannya?" tanya Kai. Ia mengulum senyum dengan tatapan mengejek.


"Tidak. Sama sekali tidak. Aku kan hanya bertanya," kilah Jojo.

__ADS_1


"Dasar, kepo!" seru Kai. Kali ini ia bisa meledek Jojo dengan kalimat andalannya.


"Kai!" Jojo memukul bahu bocah laki-laki itu dengan keras. Tawa Kai meledak menyadari wajah Jojo bersemu merah karena malu.


"Jika kau selalu baik hati padaku dan tidak suka mengomel padaku, aku akan menjadikanmu kakak iparku. Bagaimana?" tanya Kai memberi penawaran. Sungguh calon adik ipar yang licik.


"Aku tidak tertarik," jawab Jojo acuh.


"Sungguh? Kau yakin akan menolak penawaran menggiurkan ini?" tanya Kai. "Kau tahu, di luar sana banyak wanita mengantre dan saling berebut perhatian Kak Kalingga. Jika kau bersedia, aku akan membantumu," rayu Kai. Kalimatnya terdengar sangat meyakinkan, namun sedikitpun Jojo tidak tertarik.


"Dengarkan aku, Pembual. Tidak adakah penawaran yang lebih menarik daripada menjadi kakak iparmu? Misalnya mentraktirku jajan setahun, atau tiket ke bioskop setahun, begitu?"


"Aku penasaran, siapa wanita beruntung yang akan menjadi kakak iparmu. Jika calon-calon istri dari ketiga kakakmu tahu kalau pasangannya punya adik sepertimu. Aku yakin mereka akan mundur perlahan," ujar Jojo.


Kai menelan ludah mendengar perkataan Jojo.


"Oh, Jojo. Perkataanmu sangat kejam!" ucap Kai dengan ekspresi wajah sedih yang dibuat-buat. Bocah laki-laki itu setengah berdiri sambil menengadahkan tangan seperti orang berdoa.


"Ayo, berhenti membuat drama. Aku harus mengurus tugas kuliahku. Jika kau sudah selesai, aku akan kembali ke kamar," tegas Jojo.


"Tunggu, tunggu. Sebentar lagi, kau kan cantik. Jangan marah." Kai tersenyum lebar dan menghentikan sandiwaranya.


Jojo hanya bisa menggelengkan kepala pelan. Dalam hati ia berdoa, semoga kelak ia dijauhkan dari orang-orang dengan model seperti Kaivan. Sungguh akan sangat merepotkan hidupnya.


Setelah hampir satu jam duduk menemani Kai dan membantu pekerjaan rumahnya, akhirnya bocah laki-laki itu bisa menyelesaikannya dengan baik.


"Terima kasih, kakak ipar."


"Berhenti memanggilku seperti itu!" seru Jojo. Kai tidak peduli, ia menggendong tasnya dan menaiki anak tangga dengan tawa mengejek.


Dengan hati dongkol, Jojo masuk ke dalam kamarnya dan mengerjakan beberapa tugas kuliah yang harus segera tuntas. Menjadi mahasiswi akhir tahun memang akan sangat sibuk dan melelahkan. Namun Jojo tetap berusaha keras menyelesaikannya tanpa mengabaikan pekerjaannya.

__ADS_1


🖤🖤🖤


__ADS_2