
Jojo mengangguk sopan dan berusaha tersenyum sebaik mungkin. Ini semua sudah menjadi keinginannya, ia sendiri yang sangat ingin membawa Kalingga untuk meminta restu pada Merlinda.
"Selamat malam, Nyonya," ucap Jojo sopan.
Merlinda tidak ingin berkomentar. I lalu mempersilahkan Kalingga dan Jojo masuk. Di dalam rumah, Johnathan sudah menunggu di ruang tamu dan menyambut kedua tamunya dengan ramah.
"Akhirnya kau datang, Mamamu sangat tidak sabar menunggumu malam ini. Kami pikir kalian datang berempat," ucap Johnathan.
"Tidak, saya datang dengan tujuan berbeda," jawab Kalingga.
Johnathan memperhatikan gadis cantik yang berdiri di samping Kalingga dengan gugup. Laki-laki paruh baya berusia enam puluhan itu berusaha mengingat di mana ia pernah melihat gadis itu.
"Ngomong-ngomong, siapa gadis ini? Wajahnya tidak asing," tanya Johnathan.
"Ah, sebaiknya kita ke ruang makan terlebih dahulu. Kami menyiapkan makan malam untuk kalian," ajak Merlinda.
Namun belum sempat mereka berpindah tempat, suara deru mobil memasuki halaman. Merlinda dan Johnathan saling pandang, mereka tidak memiliki janji untuk bertemu dengan siapapun kecuali Kalingga.
Kalingga dan Jojo terkejut saat melihat siapa yang masuk ke dalam rumah. Rupanya Keenan, Kylan dan Kai menyusul mereka. Ini tidak seperti apa yang direncanakan.
"Apa ini kejutan? Kalian semua datang," ujar Merlinda senang. Ia segera meminta semua anak-anaknya segera ke ruang makan.
Di ruang makan, Kalingga berusaha mengobrol dan bersikap seramah mungkin pada Johnathan. Mereka membahas banyak hal tentang pekerjaan dan juga bisnis.
"Bagaimana denganmu, Keenan?" Johnathan melempar pertanyaan pada Keenan.
"Ah, saya menjalani hidup dengan baik. Pekerjaan yang bagus dan karir yang memuaskan," jawab Keenan.
"Kalian semua anak sukses. Mama kalian pasti bangga."
"Tentu saja, Mama bangga pada kalian semua," sela Merlinda.
__ADS_1
Jojo, Kalingga dan ketiga adiknya berusaha bersikap sebaik mungkin. Kylan dan Kai bahkan menjaga diri agar tidak berkata kasar dan berperilaku tidak sopan. Tujuan mereka datang ke rumah ini untuk mendukung Kalingga dan Jojo. Mereka tidak ingin merusak suasana.
Setelah makan malam selesai, Merlinda mengajak anak-anaknya ke sebuah ruangan yang cukup luas dengan sofa panjang dan televisi super lebar di lantai tiga rumahnha. Ruangan ini merupakan ruang santai sekaligus ruang keluarga.
Kalingga duduk di samping Jojo dan menggenggam tangannya. Ia berusaha menenangkan gadis yang sejak awal merasa gugup.
"Bagaimana sekolahmu, Sayang? Ke mana kau akan melanjutkan kuliah?" tanya Merlinda pada Kai.
"Kakak ipar menyarankan aku ke Universitas Negeri. Aku sudah mendaftar dan setuju," jawab Kai.
"Kakak ipar?" tanya Merlinda dengan wajah bingung.
"Ma, tujuan kami datang adalah untuk memberitahu bahwa kami akan segera menikah. Minggu depan, pesta pernikahan akan digelar di rumahku, lalu tiga hari setelahnya, kami juga menggelar pesta di rumah orang tua Jojo," sela Kalingga menjelaskan.
"Menikah?" ulang Merlinda. Wanita paruh baya itu tergagap, ia kehilangan kata-kata.
"Aku tahu Mama pasti keberatan. Tapi niatku sudah bulat, kami saling mencintai dan kami akan menikah, dengan atau tanpa restu Mama," lanjut Kalingga.
"Kami mendukung mereka. Mama berhak tahu, namun keputusan tetap ada di tangan Kakak," sela Keenan sambil menatap Merlinda.
Merlinda diam, memperhatikan sekelilingnya. Empat anak-anak yang kini tumbuh menjadi laki-laki dewasa dan sukses tanpa kasih sayangnya. Dan mereka masih berniat baik datang ke rumah ini meski dengan tujuan yang tidak disangka.
Wanita paruh baya itu menarik napas panjang. Ia sudah menelusuri semua tentang Jojo, pendidikan, keluarga, juga tentang kampung halamannya. Merlinda paham, kini ia tidak bisa meremehkan Jojo. Gadis yang awalnya ia pekerjakan sebagai seorang maid itu kini menjelma jadi model terkenal dengan bayaran yang cukup mahal. Ia tidak punya alasan lagi untuk menolak kehadiran Jojo.
"Jika memang itu keinginan kalian, Mama akan memberi restu," ucap Merlinda. Di akhiri dengan embusan napas panjang dan tenang.
"Terima kasih, Ma. Kami senang mendengarnya." Kalingga tersenyum, ia mengusap tangan Jojo dan merangkul pundak gadis itu.
Merlinda tidak punya pilihan lain. Ia tidak punya alasan untuk menentang pernikahan anaknya. Jika dulu, ia keberatan karena status sosial mereka yang berbeda. Namun kini, Jojo bahkan lebih sukses dari perkiraannya.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Merlinda pada Jojo. Gadis yang ditanya memandang Kalingga, dan laki-laki itu mengangguk samar.
__ADS_1
Jojo mengikuti langkah Merlinda menuju balkon rumahnya. Wanita itu mengajak Jojo duduk di kursi besi di bawah lampu.
"Kau mendapatkan hati mereka," ucap Merlinda.
"Maaf jika ini membuat anda tidak nyaman, Nyonya."
"Ah, tidak apa. Lagi pula, apa yang bisa aku lakukan. Aku tidak mau mereka semakin membenciku jika menentang hubungan kalian."
"Meski mereka membenci anda, tapi di dasar hati mereka sangat menyayangi anda. Bagaimanapun, anda adalah orang tuanya, mereka selalu butuh anda meski kini semua sudah dewasa."
"Mereka semua melindungimu, menyayangimu. Aku pikir, kau menjadi orang yang paling bisa mereka percaya," ujar Merlinda. Ia memandang Jojo, menatap gadis yang akan menjadi menantunya beberapa hari lagi.
"Aku akan menceritakan sebuah rahasia besar padamu. Kau harus menyimpannya selama aku hidup, jika nanti aku meninggal, ceritakan pada mereka bahwa mereka bukan anak-anak kandungku" lanjut Merlinda.
Sontak, hal itu membuat Jojo terkejut. Ia melongo, menatap nanar wajah wanita yang mulai keriput karena usia.
"Ma-maksud anda, apa?" tanya Jojo terbata-bata.
"Aku didiagnosa sebuah penyakit lima tahun setelah pernikahan, pada akhirnya aku merelakan rahimku untuk diangkat. Aku tidak bisa mengandung seumur hidupku. Itu seperti akhir dari hidup dan pernikahan kami. Karena tuntutan keluarga Abraham untuk segera memiliki penerus, kami sepakat mencari ibu pengganti. Aku menjalani pengobatan untuk sel telur di rahimku, lalu Abraham memberikan sel spermanya."
"Kami sepakat melakukan proses bayi tabung, lalu mencari ibu pengganti untuk mengandung dan melahirkan anak-anak kami. Sampai lahirlah Kalingga, Keenan, Kylan dan Kai."
"Kau tahu apa yang lucu, Jo?" tanya Merlinda dengan tersenyum pahit.
"Rupanya ibu pengganti yang kami pilih adalah istri kedua dari suamiku. Mereka menikah diam-diam setelah mengetahui aku tidak akan bisa melahirkan. Abraham memanipulasi segala prosedur medis agar seolah-olah wanita itu melahirkan bayi yang berasal dari sel telurku. Padahal kenyataannya itu adalah darah daging mereka sendiri."
"Aku dibodohi selama lebih dari dua puluh tahun. Melihat keempat anak-anak itu, seakan mengingatkanku pada rasa sakit dan penghianatan orang tua mereka."
Jojo meraba dadanya, ada percikan rasa sakit dan kemarahan yang ia rasakan. Jojo berusaha memahami Merlinda, menempatkan diri seperti ia yang merasakannya.
Terdengar Merlinda menghela napas berat. Matanya berkedip cepat sambil sedikit mendongak, menahan bulir-bulir bening yang sudah menganak sungai.
__ADS_1
🖤🖤🖤