
"Baik, baik. Aku mengakuinya!" seru Keenan. "Tapi sekarang tidak lagi," lanjutnya. Ia cukup kesal, memangnya apa yang tidak diketahui oleh adik bungsunya ini? Mengapa semakin hari Kai semakin meresahkan?
"Aku tahu, Kak," lirih Kai. "Karena kau sudah jatuh cinta pada Kak Angelina, kan?"
"Sekarang, dari mana lagi kau tahu hal itu?"
"Aku punya indra keenam."
"Bullshi*t," desah Keenan sambil menggeleng pelan. "Jika kau sampai buka mulut dan mengatakan hal itu pada Jojo atau Kakak, aku akan mencabut semua fasilitasi termasuk motor dan kartu kredit barumu," lanjutnya.
"Kejam sekali," gumam Kai. Tanpa membantah, ia berjalan keluar dari kamar Keenan.
Di antara semua orang, rupanya hanya Kai yang bisa memahami setiap gerak gerik orang-orang di rumah ini. Ia bahkan bisa mengartikan dengan jelas maksud kebaikan dan sikap Keenan pada Jojo sejak awal kedatangan wanita itu.
Namun karena sikap yang kurang tegas dan tidak mampu berterus terang, Keenan mengakui kekalahannya. Ia membiarkan Jojo lepas dan jatuh dipelukan Kalingga. Meski sejak awal ia paham jika Jojo tidak memiliki ketertarikan khusus padanya.
Pada awalnya, Keenan tidak memiliki perasaan apapun pada Angelina. Namun semenjak kematian Merlinda, ia melihat ketulusan Angelina pada ia dan semua saudaranya.
Lagi pula, Kalingga dan Jojo sudah bahagia. Ia butuh seseorang untuk membantunya melepaskan perasaan lamanya dan menggantinya dengan cinta yang baru.
Ketulusan dan kegigihan Angelina rupanya memberikan efek khusus pada Keenan, ia bisa lebih memahami mana wanita yang benar-benar cinta dan mana wanita yang hanya sekadar suka.
Setelah Kai meninggalkan kamar Keenan, ia menghampiri Jojo yang asik di dapur membuat salad buah seperti biasa.
"Kakak Ipar, apa kau punya kegiatan hari ini?" tanya Kai.
"Ya, sebentar lagi aku ke studio untuk foto, hanya dua sesi. Ada apa?" tanya balik Jojo. Tidak biasanya Kai menanyakan kegiatannya.
"Ah, aku mau pergi ke mall. Aku lama tidak berbelanja, semua kaos dan bajuku sudah terlihat seperti lap kompor," keluh Kai. "Kau bisa menemaniku?"
"Minta izin dulu pada Kakakmu."
"Ah, Kakak Ipar. Kau kan jalan bersmaaku, bukan laki-laki lain."
"Hei, dia harus tahu kemanapun aku pergi," tegur Jojo. Bagaimanapun, Kalingga adalah suaminya. Pergi tanpa izin darinya pasti membuat perasaannya tidak nyaman.
__ADS_1
"Baiklah, baiklah. Aku akan segera telepon Kakak dan meminta izin. Kirim pesan padaku jika kau sudah selesai pemotretan, aku akan menjemputmu," ujar Kai sambil berjalan pergi dari dapur.
Setelah kepergian Kai, Keenan dan Kylan pun menyusul. Mereka harus pergi bekerja dan menjalankan rutinitas mereka karena biaya kuliah Kai jauh lebih mahal dari biaya sekolah sebelumnya. Ini akan membuat ketiga kakak Kai harus bekerja lebih keras agar Kai bisa menyelesaikan kuliahnya dengan baik.
🖤🖤🖤
Pukul satu siang, Jojo sudah menyelesaikan pekerjaannya dengan baik dan menunggu Kai di depan kantor agensi. Wanita itu menolak ajakan teman agensinya untuk makan bersama karena sudah membuat janji pergi bersama adik iparnya.
Hanya selang sepuluh menit, Kai sudah sampai di depan Jojo dengan motor hitam besarnya. Bocah itu memakai helm full face yang hanya memperlihatkan kedua matanya saat kaca helm dibuka.
"Ayo naik," ajak Kai. Di pikiran orang lain, mungkin Jojo seakan sedang berboncengan dengan selingkuhannya, karena tubuh Kai yang lebih besar darinya.
"Sebelum pergi, kau harus tahu. Aku tidak membawa uang dan tidak akan membayar belanjaanmu," ucap Jojo memperingatkan.
"Ha ... Ha ... Ha." Suara tawa yang dibuat-buat oleh Kai terdengar seperti tidak mempercayai ucapan kakak iparnya.
Jojo memakai helm pemberian Kai dan melesat pergi bersama adik iparnya. Mereka menuju sebuah pusat perbelanjaan terbesar yang berada di pusat kota.
"Haruskah kau berpenampilan seperti ini?" tanya Kai. Ia melihat Jojo mulai mengenakan masker dan topi dari arah tempat parkir. Celana longgar dan sweeter jumbo tetap membuatnya tampil modis meski tidak terlihat mencolok.
"Ini untuk menjaga privasiku, sekarang aku tahu rasanya menjadi Kak Keenan," jawab Jojo. Sejak melambungnya namanya menjadi model terkenal, Jojo merasa tidak nyaman berada di tempat umum. Akan selalu ada saja orang yang mengambil gambarnya diam-diam, meminta tanda tangan, bahkan membuntutinya.
Jojo hanya tersenyum sambil merangkul Kai masuk ke dalam area belanja. Mereka menghabiskan waktu bersama untuk memilih pakaian untuk Kai.
"Kau suka warna apa?" tanya Jojo.
"Hitam atau putih saja, Kak."
"Ah, selera kalian semua sama," gumam Jojo sambil manyun. Entah mengapa empat bersaudara itu hanya punya dua warna di lemari pakaian mereka. Jika ada warna lain mungkin hanya dua sampai tiga setelan jas formal agar tidak terlihat monoton.
Karena Kai sudah mendaftar ke sebuah universitas terkenal, ia juga akan segera masuk kuliah. Jojo memilih beberapa kaos lengan pendek, beberapa celana jeans hingga kemeja warna polos.
"Apa uangmu cukup untuk membeli semua ini?" tanya Jojo. Ia hanya ingin memastikan jika Kai tidak akan menyuruhnya membayar.
"Cukup, cukup. Jangan khawatir, aku bahkan bisa membeli seluruh isi toko ini," jawab Kai.
__ADS_1
"Dasar berandal," lirih Jojo. Perkataan bocah itu sungguh sombong, terdengar seperti kebohongan yang ia ucapkan biasanya.
"Ah, aku juga akan membeli ini," ucap Jojo. Ia tiba-tiba menemukan dua setel piyama couple yang bagus. Ia berpikir Kalingga akan suka jika mereka memakai pakaian santai yang sama.
"Aku tidak akan membayar yang itu juga, kan?" tanya Kai. Ia melihat tag harga di piyama yang Jojo pegang dan khawatir karena harganya.
"Dasar pelit, aku akan membayarnya sendiri," jawab Jojo. Ia berjalan ke tempat kasir lebih dulu dan membayar barang pilihannya.
Setelah Jojo, Kai menyusul. Wanita itu berdiri di samping Kai sambil melihat petugas kasir menghitung total belanjaan adik iparnya.
"Totalnya lima juta tiga ratus ribu rupiah," ucap salah seorang petugas kasir.
Kai tampak memainkan bola matanya, ia melirik Jojo dan berkedip cepat dengan senyum meringis.
"Ada apa? Jangan melihatku," ucap Jojo. Ia hendak pergi namun Kai menyeret lengannya.
"Kakak Ipar, uangku ternyata tidak cukup. Please, kali ini saja." Kai memohon, menampakkan wajahnya penuh kesedihan.
"Ah, kau menjengkelkan!" gumam Jojo. Ia mengeluarkan kartu kredit dari dompet dan membayar semua barang-barang Kai.
"Aku seperti sedang diperas," keluh Jojo saat mereka sudah keluar dari toko pakaian.
"Ah, Kakak Ipar. Kau cantik dan baik, aku tidak salah memilihmu sebagai Kakak Iparku." Kai tertawa senang.
"Kau sengaja kan, mengajakku untuk memanfaatkan ku?"
"Tidak, Kakak Ipar. Tentu saja tidak. Pikiranmu buruk sekali."
Kai terlihat sangat senang membawa beberapa kantong belanjaan di tangan kanan dan kirinya. Mereka memutuskan mampir ke kafe dan memesan minuman.
"Kak, Kak. Bukankah itu Kak Kykan?" tanya Kai sambil menunjuk seorang laki-laki yang menggandeng gadis cantik dengan rambut panjang sepinggang.
🖤🖤🖤
__ADS_1
Saudara Ipar sedang berbelanja bersama.