
Di rumah, Jojo gelisah dan kesepian. Ia melamun sendirian dan melewatkan makan malam. Ia sedang tidak berselera makan dan pikirannya sedang kacau.
Hampir pukul sepuluh malam, gadis itu masih setia duduk di ruang tamu sambil terus memandang layar ponselnya, berharap Kalingga atau yang lainnya mengirim pesan dan memberi kabar.
Saat terdengar suara deru mobil yang masuk dari arah gerbang rumahnya, Jojo bergegas membuka pintu dan berdiri menyambut empat laki-laki keluar dari mobilnya.
Saat melihat semua pulang dengan senyum mengembang, Jojo merasa lega, mungkin semua berakhir baik seperti harapannya.
"Sayang, kau menungguku?" tanya Kalingga. Ia langsung memeluk Jojo.
"Tidak, dia menunggu kita semua," sela Kylan sambil berjalan memasuki rumah.
"Aku mengkhawatirkan kalian semua." Jojo mempererat pelukannya di tubuh Kalingga. Gadis itu membenamkan wajahnya di dada laki-laki itu, berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua pikiran buruk di kepalanya tidak akan terjadi.
"Kami baik-baik saja." Kalingga mengusap kepala kekasihnya dan merangkul gadis itu masuk ke dalam rumah.
"Apa kalian lihat wajah Olivia? Dia seperti bom atom yang hampir meledak," canda Kylan sambil tertawa.
"Menurutku, dia tidak akan menyerah semudah itu," ucap Keenan.
"Lalu apa yang bisa dia lakukan? Tuan Bram bahkan melepaskan Kakak begitu saja. Apa yang bisa dilakukan Olivia tanpa dukungan orang tuanya?"
"Jangan meremehkannya. Terkadang orang bisa berubah menjadi lebih berbahaya saat emosi menguasainya," ujar Keenan sambil berjalan menaiki anak tangga. Ia memutuskan masuk ke dalam kamar karena lelah.
Sementara Jojo dan tiga laki-laki lainnya, memilih duduk di ruang tengah untuk bertukar pikiran.
"Aku tidak paham maksud Kakak, bisa jelaskan padaku?" tanya Kai. Ia tidak memahami maksud perkataan Keenan tentang Olivia.
"Olivia pernah memukuli teman sekolahnya," ucap Kalingga.
"Serius?" Kai melotot.
"Ya, Olivia dulu terkenal sebagai remaja yang nakal. Dia bisa melakukan segalanya di bawah kekuasaan orang tuanya."
"Licik," dengkus Kai. Ia baru mendengar cerita ini setelah sekian lama, namun tidak heran karena dirinya memang tidak pernah tertarik mengetahui apapun tentang Olivia.
__ADS_1
Jojo mendengar semuanya, namun ia bahkan tidak merasa takut tentang apapun yang terjadi pada dirinya. Gadis itu hanya mengkhawatirkan Kalingga dan hubungan keluarga ini.
Setelah berbincang cukup lama, Kylan dan Kai kembali ke kamar mereka, sementara Kalingga masuk ke dalam kamar hanya untuk bergantin pakaian. Ia kembali ke ruang tengah dan duduk di samping Jojo, laki-laki itu masih ingin menikmati waktunya bersama kekasihnya. Ada banyak hal yang ingin laki-laki itu bicarakan.
"Kau sudah makan, Sayang?" tanya Kalingga.
"Sudah."
"Benarkah? Aku mendengar ada suara anak ayam ramai di dalam sana."
Jojo menyipit menatap Kalingga. Ia tertangkap basah karena suara perutnya yang keroncongan terdengar nyaring.
"Aku tidak berselera makan sendirian. Dan aku juga mengkhawatirkan kalian," jawab Jojo.
"Kalau begitu, aku akan menemanimu makan. Ayo ke dapur, buat apa saja yang bisa kita makan," ajak Kalingga. Jojo mengangguk dan berjalan menuju dapur bersama laki-laki itu.
Namun saat membuka lemari atas yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan makanan siap saji, Jojo melongo. Semua stok makanan habis dan hanya tersisa satu bungkus mie instan berukuran jumbo.
"Kita kehabisan junkfood, Kak. Hanya ada ini," ucap Jojo.
"Aku akan membuatnya sendiri, kau duduk saja di sana dan tunggu aku selesai."
"Tidak, berikan itu padaku." Kalingga memaksa, ia merebut satu bungkus mie instan di tangan Jojo, bahkan laki-laki itu tidak segan-segan menggendong tubuh Jojo dan menyingkirkannya dari dapur.
"Kak, ayo turunkan aku!" seru Jojo.
"Duduk di sini dan tunggu saja. Aku akan memasaknya untukmu." Kalingga menurunkan Jojo dan meminta gadis itu duduk manis di ruang tengah.
Jojo tidak punya pilihan lain, ia senang dan duduk dengan santai sambil menunggu Kalingga selesai melakukan pekerjaan barunya.
Tidak lebih dari sepuluh menit, Kalingga sudah datang dengan membawa piring berisi mie goreng beserta dua telur mata sapi. Tidak hanya itu, Kalingga juga menyiapkan selada dan irisan mentimun di sisi piring.
"Tadaaaa! Makan malam untuk pujaan hatiku."
"Wow, kau juga pandai memasak rupanya, Kak. Aku semakin mencintaimu," ucap Jojo sambil mengulurkan kedua tangan.
__ADS_1
"Tidak, panggil aku dengan panggilan romantis dulu. Jika tidak, aku akan memakannya sendiri."
"Ih, mencari kesempatan dalam kesempitan!" gumam Jojo.
"Baiklah, aku akan memakannya sendiri." Kalingga berbalik dan hendak membawa pergi piringnya.
"Jangan, jangan!" seru Jojo. "Baiklah, Sayang. Kau sangat tampan, baik hati, tidak sombong dan rajin menabung. Tolong berikan mie itu padaku, Sayang," lanjut Jojo dengan senyum mengembang.
"Itu baru wanitaku!"
Jojo bersorak senang dengan apa yang ia dapatkan. Rupanya, diam-diam Kalingga punya selera cukup bagus dalam mengolah mie instan meski pada dasarnya laki-laki itu tidak menyukainya.
"Ayo makan bersamaku, Kak. Ini banyak sekali."
"Panggil aku 'sayang'!"
"Hmm, baiklah. Sayang, ayo makan, aku tidak mungkin menghabiskan semua ini," ajak Jojo.
"Satu suap saja. Jika bukan karena kau, aku tidak terlalu suka makanan seperti ini," ucap Kalingga. Laki-laki itu membuka mulut lebar dan membiarkan Jojo menyuapinya.
"Sebelum bekerja di rumah ini, hampir setiap hari aku makan mie instan demi menghemat pengeluaran. Banyak sekali beban yang harus ku topang. Pernah berpikir untuk menyerah, tapi akhirnya aku tetap berjalan maju," ujar Jojo dengan suara lirih.
"Dan kau berhasil, Sayang. Aku bangga padamu, aku bersyukur memilikimu. Di rumah ini, kau hanya di izinkan makan mie instan dua kali dalam satu bulan. Bahan pengawet dalam makanan seperti ini cukup berbahaya jika di konsumsi secara terus menerus. Kau harus selalu sehat agar bisa berumur panjang dan membesarkan anak-anak kita nanti."
Jojo mengulum senyum. Mengapa kini pembahasan mereka bisa sejauh itu? Anak-anak? Apa mimpi itu akan bisa terwujud?
"Kau harus tetap di sampingku, membantuku mengurus tiga anak bandel itu dan mengurus anak-anak kita sendiri nantinya. Aku berjanji kita akan mendapatkan restu dari semua orang, kita akan melewatinya bersama," ujar Kalingga dengan kesungguhan.
"Kau janji?" Jojo mengangkat jari kelingkingnya.
"Aku berjanji, Sayang."
Mereka mengikat janji dengan dua jari kelingking. Jojo begitu bahagia, ia merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia ini.
"Besok hasil sidang skripsimu akan keluar, aku yakin kau lulus. Aku sudah pesan tiket pesawat dan menyiapkan segala keperluan kita untuk pergi. Kabari orang tuamu, calon menantunya akan datang melamar!"
__ADS_1
🖤🖤🖤