
Kalingga, Keenan dan Kai sudah berada di meja makan sebelum pukul enam pagi karena Keenan dan Kalingga harus pergi bekerja lebih awal. Sementara anak asuhnya menyelesaikan sarapan, Jojo mulai sibuk mengirim pesan ke nomor ponsel Kylan dan menanyakan kabar laki-laki itu.
"Apa ada yang menerima telepon dari Kylan?" tanya Jojo pada tiga orang di meja makan.
"Tidak," jawab Keenan. Kalingga dan Kai sama-sama menggeleng.
"Dia juga tidak menghubungiku. Anak nakal, kenapa tidak memberi kabar," gerutu Jojo sambil memandang resah pada layar ponselnya.
"Dia pasti menelepon, tunggu saja," ujar Kalingga.
Biasanya mereka sarapan berlima setiap hari, kini Kylan tidak ada dan rasanya ada yang kurang. Bahkan Jojo lupa jika laki-laki itu sedang tidak di rumah dan menyiapkan lima piring di meja makan.
"Maaf, aku selesai lebih dulu dan harus segera pergi," ujar Keenan. Ia terlihat tergesa-gesa kembali ke kamarnya.
Hanya berselang lima menit, Keenan sudah kembali dan berpamitan untuk pergi. Jojo memberi bekal laki-laki itu dengan sekotak salad buah sebagai camilan di lokasi syuting.
"Jo, bantu aku mencari kaos kaki di kamar," pinta Kalingga setelah ia selesai makan.
"Ah, jangan lagi." Batin Jojo merasakan hal aneh akan kembali terjadi. Ia curiga jika Kalingga hanya memanfaatkan situasi.
"Pakai saja kaos kaki yang ada, Kak." Jojo berusaha menolak.
"Tidak, kau harus membantuku."
"Kai, makan dengan santai dan habiskan sarapanmu," ujar Jojo pada Kai yang masih menikmati capcay di piringnya. Kai hanya mengangguk dan mengibaskan tangan agar Jojo segera pergi menyusul Kalingga.
Akhir-akhir ini, Kalingga menjadi lebih manja dan rewel. Ia selalu kehilangan sesuatu dan meminta Jojo mencari di kamarnya. Padahal, ia biasanya akan mencarinya sendiri dan hanya meminta bantuan Jojo di saat-saat terdesak. Kalingga juga sering meminta Jojo untuk memilih kemeja apa yang cocok, dasi mana yang bagus, atau jam tangan mana yang lebih keren. Jojo seperti melakukan pekerjaan yang sia-sia untuk Kalingga, karena seharusnya laki-laki itu bisa melakukannya sendiri.
Jojo berjalan masuk ke dalam kamar Kalingga dan melihat laki-laki itu duduk di sofa dengan dua kaos kaki sudah terpasang di kakinya.
"Kau sudah menemukannya?" tanya Jojo.
__ADS_1
"Aku hanya suka kau datang ke kamarku sebelum aku pergi bekerja," ujar Kalingga tanpa rasa bersalah.
"Kak, bukan hanya kau yang harus ku urus di rumah ini," keluh Jojo. Gadis berbalik dan hendak pergi, namun Kalingga dengan cepat menariknya dan membawanya duduk di sofa.
"Bagaimana tidurmu semalam? Nyenyak?" tanya Kalingga. Ia hanya meminta Jojo duduk di sampingnya sementara ia sibuk memakai sepatu.
Jojo menyipit dengan bibir mencebik. Sejak kejadian di mall beberapa waktu lalu, Jojo bahkan mengalami insomnia dan hampir kesulitan tidur tiap malam karena bayangan laki-laki itu seakan menghantuinya.
"Tidak bisa tidur?" tanya Kalingga lagi. "Sama!"
"Aku harus mengurus Kai, Kak." Jojo mengalihkan topik pembicaraan mereka.
"Dia sudah besar, biarkan dia mengurus dirinya sendiri."
Kalingga tetap menahan Jojo duduk di tempatnya, sementara dirinya sibuk memasukkan laptop dan berkas yang berserakan di atas meja.
Jojo dengan sabar menunggu Kalingga tanpa banyak protes. Percuma saja ia mengeluh dan memohon untuk pergi karena Kalingga tidak akan peduli.
"Terima kasih. Aku menyayangimu, Jojo."
Kalingga bangkit, ia menggandeng tangan Jojo dan mengajak gadis itu keluar kamar. Gadis itu bahkan kehilangan kata-kata untuk memberi jawaban, ia tidak bisa berpikir setiap kali Kalingga mendadak mengatakan hal-hal tentang perasaannya.
Setelah menuruni anak tangga bersama-sama, Kalingga mengusap pucuk kepala Jojo dan mengacak poni rambut gadis itu. Kalingga berpamitan dan berjanji akan pulang pukul empat sore atau kurang dari itu jika memungkinkan.
Jojo hanya bisa berdiri kaku bagai patung. Lidahnya kelu, tangannya berkeringat dingin. Kalingga benar-benar membuatnya kehilangan keseimbangan.
Jojo hanya bisa memandang punggung Kalingga saat laki-laki itu berjalan melewati pintu utama dan hilang dari penglihatan. Jojo memegang dadanya, ia merasa tubuhnya melemah dan kesadaran kembali utuh.
"Kalian sudah selesai?" tanya Kai. Jojo tersentak kaget karena tiba-tiba suara Kai terdengar dekat.
"Kau!" Jojo menuding bocah laki-laki itu dengan tatapan. Sejak kapan ia berdiri di ruang tengah dekat vas bunga dan melihat ke arah tangga dengan leluasa.
__ADS_1
Kai bagaikan bayangan tak terlihat yang ada di mana saja dan mengamati apa saja tanpa sepengetahuan orang lain.
"Kau pandai menyembunyikan perasaanmu, Jo!" seru Kai. Bocah itu tertawa dan meledek Jojo karena sikapnya yang amat berbeda saat di depan dan di belakang Kalingga.
Jojo seperti memiliki dua kepribadian yang berbeda. Saat ada di depan Kalingga, gadis itu nampak ketus, cuek dan tidak peduli, bersikap seolah ia tidak tertarik, tidak suka dan biasa saja. Namun saat Kalingga pergi, perasaannya menyerang bertubi-tubi.
"Sekarang kau tidak bisa mengelak lagi. Kau tertangkap basah, kau suka Kakak, kan?" tanya Kai. Ia tersenyum lebar sampai matanya terlihat sipit, jari telunjuknya mengarah tepat di depan wajah Jojo.
"Sok tahu!" Jojo menepis tangan Kai dan berjalan menuju dapur untuk membereskan sisa sarapan mereka.
Tawa Kai menggelegar memenuhi seluruh ruangan, membuat Jojo malu. Mengapa Kai selalu ada di saat-saat tidak tepat? Jojo tidak habis pikir.
Setelah beberapa menit, Kai kembali ke dapur dengan tangan menadah. Jojo segera merogoh saku dan memberikan selembar uang kertas berwarna biru untuk anak asuhnya.
"Isi bensinmu, jangan boros dan kembalikan padaku jika masih tersisa!" seru Jojo memperingatkan.
"Yah, Jojo. Ini kan cuma selembar, kenapa masih minta kembalian?"
"Baik. Tanpa kembalian jika besok pergi tanpa uang saku!"
"Oke, oke. Kau berhasil mengancamku," gerutu Kai. Ia pun berpamitan dan segera pergi meninggalkan Jojo.
Hari ini Jojo akan membereskan kamar anak-anaknya dan pergi kuliah. Ia hanya datang ke kampus untuk konsultasi pada dosen pembimbing. Setelah itu, ia akan menunggu Kai pulang sekolah.
Pekerjaan paginya tidak terlalu banyak karena kini Kylan sedang tidak ada di rumah. Paling tidak, drama pagi mereka tidak akan terlalu merepotkan, dan Jojo bisa menghemat suara untuk tidak mengomeli banyak orang.
Di dapur, Jojo mencuci piring sambil melamun. Ia memikirkan tentang keputusannya untuk mendatangi agensi model yang Kalingga tawarkan. Ia bimbang, apakah ini jalan terbaik?
Kemarin saat nama dan wajahnya muncul di internet dan beberapa berita di televisi, orang tuanya bahkan terkejut. Mereka memberikan banyak pertanyaan hingga Jojo kesulitan memberi jawaban. Namun pada dasarnya, mereka sangat bangga Jojo berada di titik itu.
"Aku melakukan ini demi membuat diriku pantas? Tentu saja, dan aku juga akan melakukannya untuk membungkam orang-orang yang merendahkanku!"
__ADS_1
🖤🖤🖤