
Jojo tidak sabar karena mereka bertiga kini malah meringkuk di bawah selimut dan menutupi kepala mereka. Gadis itu langsung meletakkan baskom dan menarik selimut masing-masing.
"Ah, kembalikan selimutku. Aku kedinginan," keluh Kai sambil duduk, namun matanya masih terpejam.
"Tidak, ayo bangun!" seru Jojo. "Jam berapa kalian tidur, hah?"
"Jojo, ini masih pagi. Pelankan suaramu," ucap Keenan. Ia meringkuk di atas karpet bulu dan mengusap lengannya yang dingin.
"Kak, kau baru saja sembuh dan langsung bergadang. Seharusnya kau masih berada di rumah sakit sampai benar-benar pulih!"
Percuma saja Jojo berteriak dan membangunkan ketiga anak asuhnya, mereka bahkan tidak peduli dan kembali memejamkan mata.
Gadis itu sudah bangun sejak subuh dan memasak untuk mereka semua, ia tidak mau keempat laki-laki itu sampai telat makan dan membuat kesehatan mereka terganggu. Namun ternyata sia-sia sudah masakannya.
Merasa kesal, Jojo melempar selimut dan menaiki anak tangga menuju kamar Kalingga. Ia harus tahu pukul berapa mereka semua tidur.
Tok ... Tok ... Tok ...
Sekali dua kali mengetuk pintu, Kalingga tak kunjung membukanya. Merasa ada yang aneh, Jojo menyerobot masuk ke dalam kamar Kalingga dan menemukan laki-laki itu tidur tengkurap di atas kasur. Gadis itu hanya bisa menepuk dadanya pelan, semoga kesabaran terus dilimpahkan Tuhan padanya demi menjaga kewarasan selama berada di rumah ini.
Jojo duduk di sofa panjang dekat tempat tidur Kalingga, sepertinya ini adalah hari malas bagi semua orang. Gadis itu juga merasa butuh istirahat. Biarkan saja semua lauk pauk yang ia masak menjadi dingin, ia akan menyalahkan empat laki-laki itu.
Pukul sembilan, Jojo menarik napas panjang dan duduk di tepi kasur milik Kalingga. Ia menggoyangkan tubuh laki-laki itu dan memanggil namanya berkali-kali.
"Kak, ayo bangun!" seru Jojo.
"Hmm."
"Jam berapa kalian tidur? Ini sudah siang, Kak!"
Tidak ada jawaban, Kalingga bahkan tidak bergerak dari posisinya. Jojo sudah cukup merasa sabar pagi ini, ia menjewer telinga Kalingga dan menariknya.
"Aww, aww. Sakit!" keluh Kalingga sambil menggosok telinganya yang terasa panas.
__ADS_1
"Jika kalian tidak ada yang bangun, aku akan marah dan pergi dari rumah ini. Kalian tidak menghargai usahaku yang sudah bangun pagi dan memasak sarapan untuk kalian!"
Mendengar hal itu, Kalingga langsung memaksa matanya untuk terbuka, ia bergegas duduk di samping Jojo dan memasang wajah dengan senyum lebar tanpa rasa bersalah.
"Kau cantik saat marah," puji Kalingga.
"Jangan merayuku, cepat mandi."
Melihat wajah Jojo kesal dengan bibir mengerucut, Kalingga merasa gemas. Laki-laki itu mendorong Jojo hingga gadis itu terbaring di kasur, sementara Kalingga menindih sebagian tubuhnya dan menguncinya agar tidak bergerak.
Napas Jojo memburu cepat, dadanya naik turun dengan kedua telapak tangan dingin dan tubuh gemetar. Gadis itu seakan terkena hipnotis hingga tubuhnya tidak bisa digerakkan untuk melawan.
Kalingga menatap gadis itu dengan penuh keinginan, meneliti wajah cantik itu dari dahi hingga dagu. Mengagumi betapa sempurnanya gadis di hadapannya.
"Aku bilang, kau cantik saat marah. Dan saat kau marah, aku jadi ingin sekali ...."
"Aaaaaaaah!" Jojo berteriak keras. Suaranya terdengar nyaring hingga Keenan dan kedua adiknya terbangun. Mereka berlari cepat menaiki anak tangga karena khawatir terjadi sesuatu pada Jojo.
Mendengar suara langkah kaki berlarian ke arah kamarnya, Kalingga segera melepaskan Jojo dan berdiri tegak. Ia melihat ketiga adiknya berdiri di depan pintu yang terbuka.
"Kak, apa yang kau lakukan. Jangan bilang kalau kau memaksanya untuk ...." Keenan tidak melanjutkan kata-katanya.
"Tidak, pikiran kalian buruk sekali. Jojo berteriak karena takut kecoa yang baru saja terbang!"
"Sejak kapan di rumah kita ada kecoa. Kau benar-benar membuatku takut, Kak," sela Kai.
Keenan dan Kai keluar dari kamar Kalingga dan memeriksa Jojo yang duduk di ruang tengah bersama Kylan. Mereka semua siap mengintrogasi gadis itu, tidak akan ada ampun jika Kalingga berani menyentuhnya.
"Apa yang Kakak lakukan padamu di kamarnya?" tanya Keenan.
"Kenapa kau berteriak? Apa Kakak membuka bajumu?" tanya Kylan.
"Mesum sekali pikiran kalian. Tidak seperti itu!" seru Jojo.
__ADS_1
"Lalu kenapa kau berteriak sekeras itu?" Kai bertanya tidak sabar.
"Ah, tidak ada apa-apa. Kenapa kalian ini," ujar Jojo kebingungan. Ia tidak tahu harus mengatakan apa, karena tidak mungkin jika ia berkata jujur.
"Dengar, jika Kakak berani menyentuhmu, katakan padaku!" seru Kylan.
"Benar. Jangan takut, ada kami." Kai memberi dukungan.
Entah mengapa, kini Jojo merasa hidupnya makin sulit. Ada Kalingga yang selalu siap menerkamnya kapan saja, dan ada ketiga adiknya yang overprotective. Ini membuat Jojo resah dan sulit bernapas di tengah empat laki-laki.
Gadis itu mengusir ketiga anak asuhnya agar lekas ke kamar masing-masing untuk segera mandi, karena masakan yang sudah terhidang di meja makan bahkan sudah dingin.
"Berkumpul di meja makan sepuluh menit lagi. Terlambat satu detik saja jatah sarapan kalian hangus," ucap Jojo menegaskan.
"Kejam sekali," gumam Kai dengan bibir mengerucut. Bocah itu bergegas ke kamar dan mandi dengan cepat.
Kini Jojo sedang di ruang tamu sendirian, ia menatap lampu kristal besar yang tergantung di langit rumah. Banyak sekali hal yang harus ia pikirkan perihal kelanjutan hubungannya bersama Kalingga. Termasuk memberitahu kedua orang tuanya, dan bersusah payah meraih restu dari Merlinda.
Perasaan takut direndahkan dan dicap sebagai penghancur masa depan Kalingga seakan terbayang-bayang di pikirannya. Jojo hanya takut melukai perasaan Kalingga, gadis itu tidak ingin menjadi sebab kebencian anak pada ibunya.
Selang beberapa menit, Kai sudah turun lebih dulu, lalu disusul oleh Kalingga, Keenan dan Kylan. Kini mereka semua sudah duduk di meja makan, memandangi sayur yang dingin dan ayam goreng yang tidak lagi kriuk.
"Kenapa? Ini salah kalian!" seru Jojo. Ia tahu empat laki-laki itu tidak berselera makan.
"Tolong hangatkan sayur ini, please!" pinta Keenan dengan raut wajah memohon.
"Jam berapa kalian tidur?" tanya Jojo galak. Empat laki-laki di meja makan langsung mengunci mulut mereka.
"Kak, kau baru saja sembuh kemarin siang dan malam langsung bergadang. Bagaimana jika kau sakit lagi? Apa kau mau masuk rumah sakit lagi?" tanya Jojo pada Keenan.
"Dengar, jangan pernah lewatkan jam sarapan. Jika hal ini kembali terulang, cuci baju kalian sendiri!"
Empat laki-laki itu hanya saling pandang, lalu menunduk. Mereka mengaku salah karena bangun tidur hingga pukul sembilan siang. Bahkan ini pertama kalinya mereka bangun sesiang itu.
__ADS_1
Namun semua orang paham, Jojo hanya tidak ingin mereka makan terlambat dan sakit. Gadis itu hanya ingin memastikan semua orang makan tepat waktu, menjaga pola istirahat dan bangun lebih pagi.
🖤🖤🖤