
Kalingga mengantar istrinya naik ke atas tempat tidur dan meminta wanita itu tetap terjaga sampai ia selesai membersihkan diri. Meskipun tubuh lelah karena acara singkat yang sangat mendadak, hal itu tidak membuat Kalingga kehilangan kekuatan lain dalam dirinya.
Setelah berada di kamar mandi hampir sepuluh menit, Kalingga menemukan istrinya sudah tertidur pulas dengan kedua tangan merangkul guling.
Laki-laki itu hanya menghela napas panjang sambil tersenyum samar. Ia memperbaiki selimut Jojo dan berbaring di samping wanita itu.
Kalingga tahu, akhir-akhir-akhir ini Jojo terlihat sangat kelelahan karena banyaknya kesibukan. Selain wanita itu berusaha keras selalu ada untuk Queen, ia juga harus tetap bekerja demi karirnya. Apa lagi, permintaan Keenan untuk mengadakan pesta pertunangan secara dadakan membuat Jojo bahkan pergi ke banyak tempat selama satu hari penuh sambil menggendong Queen tanpa istirahat.
"Terima kasih telah menjadi pahlawan hebat untuk keluargaku, Sayang. Aku beruntung Tuhan mengirimkan wanita sepertimu," batin Kalingga sambil mengusap pipi lembut istrinya.
🖤🖤🖤
Pagi-pagi sekali, Bu Yura sudah sampai di rumah dan memasak untuk sarapan semua orang. Sementara Jojo sudah sibuk memandikan Queen dan mendandani bayi itu.
Pukul enam tepat, semua orang sudah berkumpul di meja makan dan menikmati sarapan pagi mereka. Hari ini semua orang kembali bekerja seperti biasa karena mereka punya tanggung jawab yang harus di selesaikan saat mendadak mengambil cuti kerja selama dua hari demi Keenan. Sementara Queen, ia duduk di kursi makannya sendiri di samping ibunya.
"Kapan rencana pernikahan kalian?" tanya Kalingga.
"Tunggu! Jika kau ingin cepat dan membuat jadwal dadakan, urus saja sendiri," sela Kylan sebelum Keenan memberi jawaban.
"Maaf sudah merepotkan kalian semua," ucap Keenan. Awalnya ia tidak punya rencana melamar Angelina secepat ini, namun tiba-tiba keinginan itu muncul begitu saja dan mendorongnya kuat untuk segera melakukannya.
"Kedua orang tua Angelina meminta kami melaksanakan pernikahan dua minggu lagi. Bagaimana menurut kalian?" lanjut Keenan.
"Tentu saja, kenapa tidak. Dua minggu adalah waktu yang cukup untuk menyiapkan segalanya," jawab Kalingga. Untuk apa menunda kebahagiaan jika Keenan sudah yakin dengan pilihannya.
"Baiklah. Dua minggu lagi." Jojo pun nampak setuju.
__ADS_1
"Bulan depan kami harus pulang ke kampung halaman Jojo. Kami meresmikan dibukanya klinik kesehatan sekaligus apotek. Mungkin kami akan pergi selama satu minggu," ungkap Kalingga.
"Kami juga membeli rumah di kawasan perumahan elite dekat sini. Kemungkinan ...." Jojo belum menyelesaikan kalimatnya, Kai sudah melotot sambil menyela pembicaraan.
"Apa kalian akan pindah?" tanya Kai.
"Kenapa? Bukankah kalian berjanji akan menetap?" tanya Kylan.
"Aku bahkan belum menyelesaikan kalimatku, kenapa kalian tidak sabar sekali," gumam Jojo.
"Kalian tidak perlu pindah. Setelah menikah nanti, aku akan membeli apartemen bersama Angelina. Kalian harus tetap di rumah ini," sela Keenan.
"Hei, dengarkan Kakak Ipar kalian bicara!" seru Kalingga. Ketiga adiknya seperti anak yang akan di tinggal ke pasar oleh ibunya. Terlalu banyak pertanyaan dan dugaan.
"Rumah itu hadiah untukmu dan Angelina. Kalian pantas mendapatkannya," jelas Jojo sambil memandang Keenan.
"Ya, Kakak kalian akan menikah dan mereka harus hidup mandiri agar bisa merasakan pernikahan yang sesungguhnya," jelas Jojo.
"Kak, aku bisa membelinya sendiri," ujar Keenan. Ia tidak menyangka jika hadiah yang akan ia Terima bahkan sebesar rumah.
"Ini hadiah, jangan menolaknya!" seru Kalingga.
Meskipun rumah ini besar dan cukup untuk ditempati oleh sepuluh anggota keluarga sekaligus, Kalingga ingin Keenan bisa hidup mandiri dan mengatur segala kehidupan rumah tangganya sendiri. Jika mereka tetap tinggal bersama, Kalingga khawatir Angelina akan merasa tidak nyaman karena rumah ini dihuni oleh empat laki-laki sekaligus.
"Apakah jika nanti aku menikah, kalian juga akan memberi hadiah rumah untukku?" tanya Kylan lagi.
"Tergantung," jawab Jojo.
__ADS_1
"Ah, tiba-tiba aku juga ingin menikah," gumam Kylan.
"Hei, Sunny bahkan harus menyelesaikan kuliah dua tahun lagi. Apa kau ingin Tuan Alex memenggal kepalamu?" tanya Jojo sambil memukul pundak laki-laki itu.
"Ya Tuhan. Kau kasar sekali padaku," keluh Kylan. Kemarin Jojo baru saja menyiramnya dengan air kotor, dan hari ini wanita itu memukulnya. Kylan merasa seperti di anak tirikan.
"Aku memukulmu agar kau sadar. Sepertinya otakmu sedikit bergeser."
Mendengar jawaban Jojo, tawa Kai meledak. Ia sudah menahan diri untuk tidak mengejek dan mengatakan semua yang ada di kepalanya pagi ini karena khawatir mereka akan kembali bertengkar. Namun rupanya, Jojo sudah mewakili perasaan Kai pagi ini.
"Bagus Kakak Ipar." Kai mengangkat kedua jari jempolnya di depan Jojo. Laki-laki itu menyelesaikan sarapannya dengan cepat lalu menggendong Queen, ia mengajak keponakannya bermain selama Jojo menyelesaikan sarapan.
Kai mmbawa Queen ke halaman depan rumah. Ia meminta Queen berdiri di atas rerumputan hijau yang masih berembun, namun bayi sebelas bulan itu enggan menapakkan kakinya.
"Ada apa? Kakimu terasa geli?" tanya Kai. Ia membiarkan Queen duduk di atas rumput dan bermain sebagai tahap perkenalan.
Setelah cukup lama, Kai melihat wajah Queen mendadak tegang. Pipi bayi itu merah merona dengan bibir tertutup rapat.
"Queen, bau apa ini?" tanya Kai. "Apa ada kotoran kucing di sekitar sini?" tanyanya lagi.
Karena merasa Queen hanya duduk diam dan tidak banyak tingkah. Kai merasa curiga. Ia pun menggendong Queen dan membalik tubuh bocah gemuk itu. Saat mengintip di balik celananya, Kai hampir muntah.
"Ah, Queen! Om baru saja makan sepiring penuh!" protes Kai sambil menggendong Queen. Ia berlari cepat masuk ke dalam rumah.
🖤🖤🖤
__ADS_1