
Jojo melotot menatap anak bungsunya, kenapa pikiran Kai bisa menjurus ke hal seperti itu. Berciuman? Jangankan melakukannya, membayangkannya saja tidak, batin Jojo.
"Sepertinya kau terinfeksi virus Kylan," ujar Jojo. Apa virus penggoda dan playboy Kylan kini mulai menyebar pada adiknya?
"Aku kan hanya bertanya. Kalian terlihat canggung satu sama lain. Pasti ada satu hal yang terjadi, kan?" selidik Kai. Bocah laki-laki itu sudah berusaha keras memahami Jojo selama ini, dan ia tahu jika ada sesuatu yang terjadi antara Jojo dan kakak sulungnya.
Jojo tidak memberi jawaban saat merasa Kalingga sedang berjalan ke arah mereka. Kalingga dengan celana panjang denim yang longgar dan kaos oblong putih itu ikut duduk berjongkok di samping Jojo. Kalingga berusaha keras bersikap biasa dan mendekati Jojo, ia tidak mau hanya karena sebuah cinta yang bertepuk sebelah tangan mengakibatkan hubungan mereka menjadi asing satu sama lain.
"Banyak pot kosong. Apa kita buang saja?" tanya Kai. Ia sudah mengumpulkan beberapa pot kosong karena bunganya telah mati.
"Jangan, semuanya masih bangus dan bisa dipakai," cegah Jojo.
"Kita beli saja tanaman baru. Kebetulan ada toko bunga baru di luar kompleks perumahan sana," sela Kalingga.
"Ide bagus," gumam Jojo. "Kai, ayo ikut aku ke toko. Kita beli bunga baru," ajak Jojo pada Kai.
Kalingga hanya bisa menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan hatinya. Ia sudah mengemukakan sebuah ide bagus agar punya kesempatan pergi bersama Jojo, nyatanya gadis itu malah memilih Kai untuk menemaninya.
Sebagai seorang adik yang paham perasaan kakaknya, Kai merasa tidak enak. Ia tahu apa yang Kalingga inginkan, namun ia sadar Jojo sedang berusaha menghindar.
"Sebenarnya, aku tidak punya uang, Jo. Sebaiknya kau pergi dengan Kakak. Dia akan memborong semua jenis tanaman yang kau inginkan." Kai memberi saran.
"Tentu saja, kita bisa pergi dan membeli banyak jenis bunga sesuai seleramu," sela Kalingga bersemangat.
Jojo menarik lengan Kai menjauhi Kalingga. Gadis itu ingin berbicara empat mata dengan anak bungsunya.
"Kita pergi berdua saja, aku akan membeli tanaman dengan uangku," ucap Jojo.
"Tidak, gunakan itu untuk uang saku dan uang bensinku. Kakak punya banyak uang, ajak saja dia," tolak Kai.
"Baik, minta uang pada Kakak sana. Aku akan menunggu di depan."
Jojo menyuruh Kai meminta uang pada Kalingga. Kalau bisa meminta uang saja, mengapa harus mengajak orangnya? Begitu pikir Jojo.
__ADS_1
Kai berjalan mendekati Kalingga, mereka tampak berdiskusi. Sementara Jojo, ia sudah masuk ke dalam rumah dan berdiri di halaman depan menunggu Kai mendapatkan uang dari Kalingga.
Orang yang Jojo tunggu rupanya tak kunjung keluar, dan kini Kalingga sudah berada di belakangnya menaiki mobil hitam.
"Ayo masuk," pinta Kalingga. Ia membuka pintu untuk Jojo.
"Aku akan pergi bersama Kai, Kak," tolak Jojo. Dalam hati gadis itu bergumam tidak karuan, kesal karena bukan Kai yang menemaninya pergi.
"Aku sedang tidak punya uang cash, jadi aku harus pergi bersamamu sebelum ke toko bunga dan menarik uang. Aku tidak mungkin menyuruh Kai memakai kartu ATM ku," jelas Kalingga. Sebuah alasan yang dibuat-buat demi bisa menemani Jojo.
"Usaha yang bagus, Kak." Jojo melirik Kalingga sambil mengulum senyum. Sekeras apapun ia berusaha menghindar, Kalingga menemukan seribu cara untuk mendekat.
Mereka mampir ke mesin ATM dan Jojo menunggu di dalam mobil sementara Kalingga menarik uang tunai. Setelah itu, keduanya melesat menuju toko bunga yang letaknya tidak terlalu jauh.
Kalingga membiarkan Jojo memilih bunga apapun yang ia suka. Karena selama ini rumah mereka hanya dihuni oleh empat laki-laki, maka untuk urusan taman dan segala pernak perniknya tidak begitu dihiraukan. Bahkan taman belakang rumah mereka kini bagai hutan liar yang tak terurus.
Jojo membeli beberapa bunga anyelir dengan berbagai warna. Ia juga memilih beberapa jenis sanseviera dan tanaman gantung dengan berbagai bentuk.
"Hanya ini?" tanya Kalingga.
Kalingga akhirnya memilih beberapa bonsai dan mawar sebagai tambahan. Selain membeli bunga, mereka juga membeli pupuk dan pot gantung berbagai ukuran.
Karena jumlah yang dibeli terlalu banyak, Kalingga tidak bisa memasukkannya ke dalam jok belakang mobil. Toko bunga memberi saran untuk menyewa mobil bak terbuka untuk mengantar barang belanjaan mereka dan Kalingga setuju.
Selang tiga puluh menit, mereka sampai di rumah bersama tanaman-tanaman yang sudah mereka beli. Dari dalam rumah, Kai melongo menatap banyaknya tanaman yang harus diturunkan dari mobil.
"Apa kita akan membuka toko bunga?" tanya Kai.
"Jika kau yang pergi bersamaku, mungkin tidak sebanyak ini yang akan ku pilih. Ini salahmu!" seru Jojo.
"Salahku? Kenapa jadi menyalahkanku?" Kai melotot.
"Hei, aku tidak bisa menyia-nyiakan kesempatan saat milyarder membayar seluruh tagihan belanjaku," lirih Jojo kemudian tertawa.
__ADS_1
"Kenapa kau tidak membeli toko bunganya sekalian. Aku yakin, demi cinta, Kakak akan membayarnya!" Kai dan Jojo bertukar tawa sementara Kalingga sibuk membantu menurunkan bunga-bunga dari atas bak mobil terbuka.
Setelah semuanya selesai, Kalingga, Jojo dan Kai mulai bekerja memindahkan semuanya ke halaman belakang. Jojo bertugas sebagai penata halaman sementara Kalingga dan Kai mulai mengisi pot-pot kosong dengan tanah dan pupuk.
Halaman yang sebelumnya tampak seperti hutan rimbun kini menjadi taman yang sangat menyejukkan. Bunga-bunga disusun rapi sedemikian rupa, semua tampak indah menyegarkan mata.
Selama Kalingga dan Kai bekerja, Jojo juga menyempatkan diri ke dapur untuk membawa makanan serta minuman untuk mereka.
🖤🖤🖤
Malam setelah makan malam, Kai menghampiri Jojo di kamar dan mengeluh sakit punggung. Bocah laki-laki itu membawa beberapa buku dan meminta pengasuhnya untuk membantu mengerjakan PR.
"Kau terlalu dimanjakan, pekerjaan kecil seperti itu saja sudah mengeluh encok. Dasar manja!" ledek Jojo sambil memijat punggung anak bungsunya.
"Ah, aku bahkan tidak pernah memegang cangkul. Dari mana kau belajar mencangkul?" tanya Kai.
"Ayahku petani, tentu saja aku bisa melakukan hal sekecil itu."
"Dasar sombong!" Kai mencebik, namun ia salut dengan talenta Jojo yang bisa melakukan banyak hal.
"Hei, sejak kapan kau punya boneka lumba-lumba?" tanya Kai. Tangannya menarik boneka dan memakainya sebagai bantal.
"Jangan menyentuhnya!" seru Jojo sambil merebut paksa boneka.
"Pinjam saja tidak boleh. Dasar pelit!"
"Ini kesayanganku. Nanti bau keringatmu."
"Ya Tuhan, Jojo. Begini-begini bau keringatku memikat gadis-gadis. Kenapa kau seolah-olah meremehkanku. Apa kau tidak tahu, di antara kakak-kakakku, aku paling keren!"
Jojo melirik Kai dengan satu sudut bibir ditarik, gadis itu bergidik mendengar anak bungsunya yang terlalu percaya diri.
Setelah mendapatkan pijatan punggung dari pengasuhnya, Kai bangun dan mengerjakan PR. Sementara Jojo hanya mengawasi pekerjaannya.
__ADS_1
"Kakak menyukaimu, Jo. Apa kau sudah tahu?"
🖤🖤🖤