
Kai tertawa saat mendengar pertanyaan Kalingga. Bukan karena ia tidak tertarik dengan wanita, hanya saja ia tidak ingin menyibukkan diri dengan hal-hal yang kurang penting baginya.
"Kenapa? Jangan-jangan, ada yang salah?" tanya Kalingga lagi. Ia sangat ingin tahu, karena sejauh ini Kai tidak pernah membahas tentang persoalan asmaranya.
"Tidak ada yang salah. Aku belum ingin menganggap hal seperti itu penting, Kak," jawab Kai.
"Kalau ada sesuatu yang salah denganmu, katakan. Kita bisa memeriksakan semuanya ke dokter. Belum terlambat," ujar Kalingga lagi. Hal itu membuat Kai melotot, ia mengerti maksud dari arah pembicaraan kakak sulungnya.
"Maksudmu, aku tidak normal, begitu?" tanya Kai. Bisa-bisanya Kalingga berpikir sejauh itu.
"Aku tidak bilang begitu. Aku hanya berpikir apa ada yang salah?"
"Kakak! Aku normal. Aku hanya belum tertarik dengan drama percintaan seperti kalian," tegas Kai.
Kalingga tertawa, ia hanya bercanda menanyakan hal seperti itu.
"Kakak Iparmu membangun sebuah apotek sekaligus klinik kesehatan di desanya. Tempatnya cukup jauh dari kota dan sedikit terpencil. Kami ingin suatu saat kau pergi ke san," pinta Kalingga.
"Tentu saja, aku akan melakukannya!" sanggup Kai tanpa banyak berpikir.
"Kau menyukai tempat kuliah dan bidangmu?"
"Aku punya cita-cita yang mungkin berbeda dari kalian bertiga. Aku ingin jadi orang yang dibutuhkan, diperlukan, dan bisa memberikan manfaat untuk semua orang. Kau bekerja di perusahaan fashion yang menciptakan pakaian mahal dan hanya kalangan atas yang mampu membelinya. Kak Keenan menjadi artis, dan ia menghibur semua orang dengan aktingnya. Kak Kylan seorang fotografer profesional, hanya orang yang punya banyak uang yang bisa membayarnya."
__ADS_1
"Kalian bertiga identik bekerja untuk orang dengan penghasilan menengah ke atas, kalian menghasilkan banyak uang. Aku yakin hidupku akan baik-baik saja meski nanti akan menjadi dokter di pelosok negri. Aku punya tiga mesin uang," jelas Kai dengan menahan tawa.
"Meski aku benci kalimat terakhirmu, tapi aku menyukai cita-citamu. Mama akan sangat bangga jika ia tahu kita semua menjadi orang sukses," decak Kalingga. Ingatannya tertuju pada Merlinda. Ia Merindukan wanita itu.
"Dia selalu tahu," lirih Kai sambil tersenyum samar.
Di balik sikap dan sifatnya yang selalu menjengkelkan dan membuat ketiga saudaranya naik darah. Kai punya sisi lain yang mengagumkan dalam dirinya.
Tingkah nakal dan kecerobohannya dalam bertindak, semata-mata hanya untuk menarik perhatian. Ia besar tanpa di dampingi oleh orang tua, hanya ketiga kakaknya lah yang selalu ada untuknya. Saat ia tumbuh dewasa, ia masih belum bisa menerima masa kecilnya yang terlewat begitu saja.
Pukul sebelas malam, pesta hampir usai. Jojo keluar dari kamar dan meninggalkan Queen yang sedang tidur di jaga oleh pengasuh.
Jojo turut mendampingi Kalingga untuk mengantar kepulangan keluarga Angelina. Sebagai kakak ipar dari saudara tertua, Jojo tentu berperan besar dalam setiap momen kekeluargaan seperti ini. Wanita itu menempatkan diri dengan baik agar bisa menjadi sosok orang tua pengganti untuk semua saudara iparnya.
Sementara Jojo, Kylan dan Kai sudah kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, Kalingga dan Keenan menyempatkan diri untuk mengawasi orang-orang yang bekerja.
"Kau bahagia?" tanya Kalingga.
"Apa wajahku ini terlihat kusut sampai kau menanyakan hal itu, Kak?" tanya balik Keenan.
"Aku hanya ingin mendengarnya secara langsung," ucap Kalingga sambil tersenyum. Semua orang tahu bagaimana perasaan Keenan malam ini, laki-laki itu seolah menjadi orang paling bahagia di muka bumi ini.
"Terima kasih sudah membuat hari ini menjadi istimewa, Kak. Ini adalah hari terbaik dalam hidupku."
__ADS_1
"Benarkah? Syukurlah jika kau puas. Saudaramu yang lain pasti menderita karena harus menyiapkan pesta mendadak seperti ini. Jangan lakukan itu lain kali, kau harus mengajak semua orang berunding sebelum mengambil keputusan." Kalingga memberi nasehat.
"Tentu saja. Maaf sudah merepotkan kalian semua. Keenan tersenyum lalu memeluk Kalingga. Rasanya berterima kasih saja tidak cukup atas semua usaha yang dilakukan oleh semua saudaranya.
"Kau hanya perlu bahagia untuk membayar semua kerja keras kami. Jangan membuat kesalahan dan jangan menyakiti perasaan wanita yang baru saja kau lamar."
"Aku tidak akan melakukannya."
Dini hari, semua tim kebersihan sudah menyelesaikan pekerjaan mereka. Kini semua perabotan sudah kembali ke tempat semula. Kalingga dan Keenan kembali ke kamar mereka untuk beristirahat.
"Sayang, kenapa baru masuk?" tanya Jojo. Ia terbangun dan melihat jam di dinding saat mendengar Kalingga membuka pintu kamar.
"Aku menunggu semuanya selesai. Maaf tidak bisa menemanimu, Sayang."
Jojo memaksakan tubuhnya untuk bangun. Ia merapikan dress tidur berbahan satin di tubuhnya lalu membantu Kalingga melepas kemejanya.
"Kau lelah?" tanya Jojo.
"Tidak, aku masih sangat bersemangat jika kau mengajakku bertanding saat ini."
"Ini hampir pagi, kau belum tidur sama sekali," tolak Jojo.
"Jangan menolakku," bisik Kalingga.
__ADS_1
🖤🖤🖤