
Setelah mengobrol cukup lama, Kalingga akhirnya kembali ke kamarnya. Mereka harus bersiap untuk kunjungan ke beberapa tempat selanjutnya.
Meski Jojo merasa tubuhnya sedang kurang fit, ia tetap memaksakan diri ikut bersama Kalingga kemanapun laki-laki itu membawanya.
Hari menstruasi pertama hingga hari ke tiga adalah hari yang paling meresahkan bagi gadis itu. Kram perut datang silih berganti, suasana hati yang tidak stabil dan perasaan cemas akan kebocoran selalu menghantui.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kalingga saat melihat Jojo duduk sambil memejamkan mata. Mereka sedang mampir ke sebuah kafe setelah selesai berkunjung ke satu tempat.
"Hanya sedikit nyeri," jawab Jojo. Ia memegang perutnya.
"Bagian mana yang nyeri?" tanya Kalingga. Ia khawatir, apakah tempat keluarnya darah itu sakit? Pikiran laki-laki itu mengembara.
"Perutku, Kak. Ah, tapi ini wajar, jangan khawatir. Aku biasa seperti ini," jawab Jojo. Ia memaksakan bibirnya untuk tersenyum agar Kalingga tidak mengkhawatirkannya.
"Kau yakin akan baik-baik saja?"
"Ya, aku masih bisa menemanimu seharian."
Kalingga bangkit dari tempat duduknya, ia menjauh dari Jojo dan menelpon seseorang. Laki-laki itu tidak bisa memaksa Jojo untuk pergi saat keadaannya tidak baik-baik saja.
"Ayo, habiskan minumanmu dan kita akan kembali ke hotel," ucap Kalingga setelah menyelesaikan panggilannya.
"Tidak, Kak. Masih ada satu tempat yang harus kita datangi," tolak Jojo.
"Jangan khawatir, aku akan pergi sendiri setelah mengantarmu ke hotel. Kau harus beristirahat," tegas Kalingga.
"Tapi, Kak!"
"Sudahlah, ayo!"
Lagi-lagi Jojo merasa dirinya hanya menjadi beban bagi Kalingga. Ia bahkan tidak bisa membantu laki-laki itu melakukan banyak hal namun lebih sering membuatnya repot.
Jojo berjalan di samping Kalingga dengan posisi tubuh sedikit membungkuk untuk menahan nyeri di perutnya. Bagi Jojo, menstruasi adalah hal yang menyebalkan. Entah mengapa, ia selalu merasakan nyeri berlebihan di awal-awal periodenya.
Kalingga mengantar Jojo kembali ke hotel hingga gadis itu masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
"Aku akan kembali secepatnya. Jaga diri baik-baik," ucap Kalingga saat mereka sudah sampai di kamar Jojo.
"Baik, Kak. Maaf sudah merepotkan dan tidak bisa menemanimu." Jojo tertunduk lesu.
"Jangan pikirkan itu. Kau harus beristirahat. Jika butuh sesuatu, telepon aku."
Jojo mengangguk dan membiarkan laki-laki itu pergi sendirian. Gadis itu berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Jika saja ia ingat periode menstruasinya, ia mungkin tidak akan bersedia ikut saat Kalingga mengajaknya ke negara ini. Sayangnya, Jojo terlalu bersemangat hingga melupakan hal terpenting ketika tamu bulanannya tiba.
🖤🖤🖤
Sore harinya, Kalingga sudah kembali ke hotel. Ia langsung menuju ke kamar Jojo setelah sampai. Laki-laki mengetuk pintu beberapa kali sebelum Jojo membukanya.
Gadis itu nampak baru selesai mandi. Wajahnya cantik tanpa polesan make up, ia terlihat seksi dengan piyama lengan pendek dan celana di atas lutut.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kalingga. Ia membawa beberapa jenis makanan termasuk kue, roti, hingga buah-buahan segar.
"Nyeri haid itu wajar, Kak. Aku biasa mengalaminya setiap bulan," jawab Jojo. Ia berterima kasih karena Kalingga begitu pengertian padanya.
"Apa kita perlu memeriksakannya ke dokter?" tawar Kalingga. Jojo tersenyum.
"Aku akan baik-baik saja. Biasanya rasa sakit berangsur hilang setelah beberapa hari."
"Mengalami apa? menstruasi?" tanya Jojo. Kalingga mengangguk.
"Tentu saja, sembilan puluh lima persen wanita pasti mendapatkan periode menstruasi. Hanya saja, tidak semuanya akan mengalami nyeri," jelas Jojo. Kalingga mengangguk paham, ia membuka makanan yang ia bawa dan menatanya di atas meja.
"Kau tidak perlu repot-repot membeli makanan sebanyak ini untukku, Kak. Aku merasa tidak enak karena menjadi bebanmu," lirih Jojo. Ia duduk di samping Kalingga dan membantu laki-laki itu menata kue di atas piring porselen yang sudah tersedia di dalam setiap kamar hotel.
"Sudahlah, kau adalah orang yang penting untukku dan adik-adikku. Mereka juga akan melakukan hal yang sama jika tahu keadaanmu."
Kalingga memutuskan untuk menemani Jojo di dalam kamarnya dan memastikan jika gadis itu makan banyak buah dan kue.
🖤🖤🖤
Tiga hari sudah Jojo dan Kalingga berada di New York, hari ini Kalingga memutuskan untuk kembali pulang. Ia merasa sudah puas dan yakin jika Aslan bisa dipercaya untuk menjadi jalannya memasarkan produk di pasar Internasional.
__ADS_1
Sebelum pulang, Jojo membeli empat kaos bertuliskan kota 'New York' sebagai oleh-oleh untuk ketiga anak asuhnya yang berada di rumah dan juga untuk Irene. Khusus untuk sahabatnya, Jojo juga membeli beberapa aksesoris rambut. Semua oleh-oleh yang ia bawa pulang murni dari uangnya sendiri.
Hari ini, mereka kembali ke tanah air. Kylan menjemput keduanya di bandara karena Keenan sedang sibuk. Sementara Kai, bocah laki-laki itu sedang sekolah.
Jojo belum tuntas dengan masalah tamu bulanannya, selama perjalanan pulang, ia tidak terlalu banyak bicara.
Sesampainya di rumah, Jojo melihat rumah dalam keadaan rapi. Dapur masih bersih bagai tak tersentuh oleh tangan siapapun. Gadis itu menduga, jika selama kepergiannya tidak ada yang menggunakan dapur ini.
"Kau baik-baik saja?" tanya Kylan.
"Sedikit lelah," jawab Jojo.
"Oh, jika hari ini kau tidak ingin memasak, jangan lakukan. Aku akan membeli makanan untuk makan malam kita nanti," ucap Kylan sebelum pergi. Laki-laki itu harus kembali ke studio untuk melanjutkan pekerjaannya.
Kalingga dan Jojo kembali ke kamar mereka masing-masing. Kalingga merapikan barang-barang dan pakaian yang ia bawa pulang. Sementara Jojo langsung merebahkan dirinya di kasur empuk kesayangannya.
Setelah tidur selama beberapa jam, tubuh Jojo kembali bugar Ia sudah merindukan anak asuhnya yang lain dan siap untuk kembali ke rutinitas hariannya.
"Hai, kau sudah sehat?" sapa Kai. Bocah laki-laki itu sudah pulang sekolah dan sedang duduk di ruang makan, ia memiliki sup buah dalam mangkok dan menikmatinya sendirian.
"Memangnya siapa yang bilang kalau aku sakit?"
"Kakak," jawab Kai. Sup buah di hadapan Kai itu nampak sangat menggoda dan menyegarkan, Jojo menelan ludah sambil mendekati bocah itu.
"Kelihatannya enak, di mana kau membelinya?" tanya Jojo.
"Di dekat sekolahku. Tidak ada yang membuatkanku sereal setiap pulang sekolah, jadi aku selalu membeli sup buah," jelas Kai. Bocah laki-laki itu benar-benar tidak peka jika Jojo juga menginginkan sup itu.
Beberapa menit menunggu, Kai bahkan tidak menawarkan Jojo untuk mencicipinya. Gadis itu hanya duduk dan memperhatikan Kai menyeruput kuahnya dengan nikmat.
"Boleh aku ... minta sedikit?" tanya Jojo. Ia memasang wajah secerah mungkin agar Kai berbaik hati.
Namun ternyata, Kai bukannya menggeser mangkuknya ke depan Jojo, melainkan langsung menuang sup buah yang tersisa ke dalam mulutnya secara langsung.
"Maaf, sudah habis!" seru Kai tanpa dosa.
__ADS_1
"Dasar pelit. Awas kau!"
🖤🖤🖤