
Jojo manarik napas panjang. Ia hanya bisa menepuk dadanya pelan, berharap piring yang sedang ia pegang tidak melayang ke wajah Kai.
Bocah itu mendekati Jojo dan Kalingga, ia langsung duduk di kursi sambil melirik dua orang yang menatapnya penuh ancaman.
"Ada apa? Kenapa kalian menatapku seperti itu?" tanya Kai dengan ekspresi tak berdosa. Jojo mengabaikan bocah itu, ia melanjutkan kesibukannya dan meminta Kalingga duduk agar tidak mengganggu jalannya.
Beberapa menit kemudian, semua orang sudah berkumpul. Mereka tidak sabar menyantap hidangan baru yang Jojo buat. Tidak lebih dari lima belas menit, semua makanan di atas meja telah habis tak tersisa.
"Ah, ini nikmat sekali. Hari bersantai dan makan enak. Aku akan tidur cepat malam ini," ucap Keenan sambil berjalan meninggalkan meja makan.
Kai membantu Jojo membereskan piring dan gelas lalu membawanya ke wastafel. Jojo mencium aroma mencurigakan dari kebaikan Kai. Bocah itu sudah tidak meminta uang jajan darinya lagi namun masih berbuat baik. Jojo berprasangka jika Kai punya sesuatu yang dirahasiakan.
"Aku akan mencucinya," ucap Kai. Ia menyuruh Jojo duduk dan bersantai, sementara dirinya rela mencuci piring.
"Apa dia baik-baik saja?" tanya Kylan saat melihat Kai sibuk di depan wastafel. Jojo hanya mengangkat bahu, ia memang curiga, namun tidak akan bisa menolak kesempatan seperti ini.
"Aku ada pekerjaan dan harus kembali ke kamar. Pergilah istirahat," pinta Kalingga pada Jojo. Laki-laki itu mengusap pipi Jojo dengan lembut dan tersenyum penuh makna.
"Baiklah, jangan tidur terlalu larut, Kak."
"Aku juga akan ke kamar," sela Kylan.
Setelah semua orang pergi, hanya tinggal Jojo dan Kai yang masih berada di dapur. Gadis itu masih mengawasi Kai, menunggu bocah itu mengatakan tujuannya.
Setelah beberapa menit berlalu, Kai mengeringkan tangannya dan duduk di samping Jojo.
"Katakan, apa maumu?" tanya Jojo to the poin.
"Ah, Kakak ipar pengertian sekali." Kai tertawa, bagaimana bisa Jojo menebak jika kebaikannya karena sebuah alasan.
Kai menanyakan pada Jojo tentang Universitas yang Kalingga rencanakan sebagai tempat kuliah setelah lulus SMA tahun ini. Bocah itu terlihat bersemangat dan penasaran, membuat Jojo merasa heran.
"Kemarin kau menolak dan ingin mencari Universitas pilihanmu sendiri. Kenapa sekarang ingin tahu?" selidik Jojo.
"Aku berubah pikiran."
__ADS_1
"Bohong! Katakan dengan jujur."
"Ah, Jojo. Aku belum siap menceritakannya, ini masih belum apa-apa," jawab Kai berbelit-belit. Namun Jojo tetap memberitahu banyak hal yang ia ketahui tentang rencana Kalingga untuk melanjutkan pendidikan Kai ke jenjang lebih tinggi.
Sebuah Universitas negeri ternama yang dikenal menghabiskan banyak biaya itu Kalingga pilih untuk adiknya. Selain karena itu adalah Universitas bergengsi, Kalingga ingin Kai mendapatkan tempat terbaik untuk menimba ilmu.
"Ah kau baik sekali," puji Kai. "Ngomong-ngomong, kapan kau ulang tahun? Aku akan memberimu hadiah sebagai ucapan terima kasih," lanjutnya.
"Urusan pribadi, itu rahasia."
"Kalau aku tidak tahu kapan hari ulang tahunmu, aku tidak tahu kapan tepatnya aku memberimu hadiah. Aku pandai menjaga rahasia," ucap Kai.
"Kata-katamu tidak pernah bisa dipercaya!" gumam Jojo.
"Baiklah. Bagaimana dengan sup buah? Aku akan membelinya besok jika kau memberitahuku hari ulang tahunmu."
"Aku tidak mau. Kau pasti tidak punya uang," ledek Jojo.
"Aku sedang banyak uang. Berapa yang kau mau? Satu gerobak akan ku beli."
Jojo bangkit dari kursi dan meninggalkan Kai begitu saja. Sepertinya untuk mencari tahu hal ini, Kai akan membutuhkan usaha lebih keras lagi, termasuk uang lebih banyak lagi.
Usai Jojo masuk ke dalam kamarnya, Kai menaiki anak tangga dan menuju kamar Kalingga. Ia mengirim catatan yang berisi tentang makanan favorit dan minuman favorit Jojo. Bocah itu juga bercerita jika Jojo tidak pernah balik kampung sejak lebih dari satu tahun yang lalu.
"Kapan dia berencana pulang?" tanya Kalingga.
"Sebelum hari wisudanya. Dia akan menjemput mereka, dia juga ingin memesan hotel agar orang tuanya bisa menginap di tempat bagus," jelas Kai.
"Kapan hari ulang tahunnya?"
"Aku mencari informasi tentang yang itu saja sulit, Kak. Aku menyogoknya dengan sekotak brownies mahal. Baru saja aku menyanggupinya dengan segerobak es buah, Jojo masih tidak mau mengaku," ucap Kai mengeluh.
"Belikan apapun yang dia suka agar mau memberitahumu," pinta Kalingga sambil mengeluarkan dompet, ia memberi Kai tiga lembar uang kertas dan segera meminta adiknya keluar dari kamar.
Jika Kalingga sendiri yang bertanya, Jojo jarang mau mengaku bahkan terbilang sulit. Karena selama ini, Jojo selalu menyesuaikan diri dengan Kalingga tentang makanan atau minuman yang akan mereka pesan saat pergi ke restoran. Jojo tidak pernah meminta menu sesuai keinginannya sendiri, membuat Kalingga merasa tidak nyaman dan khawatir jika kekasihnya tidak menyukai apa yang ia pesankan.
__ADS_1
🖤🖤🖤
Semua persiapan Jojo untuk sidang skripsinya telah selesai, dan gadis itu siap menjalani ujian hari ini.
"Semangat! Aku akan memberimu hadiah di hari kelulusan," ucap Keenan sebelum ia berangkat bekerja. Semua orang tahu jika hari ini Jojo akan menjalani sidang skripsi, dan semuanya melarang gadis itu memasak agar bisa istirahat untuk mempersiapkan diri.
"Semoga berhasil, Kakak Ipar," ucap Kai sambil memeluk Jojo sebelum ia pergi sekolah.
"Ah, ya. Aku akan membawakanmu oleh-oleh sepulang kerja nanti. Semangat!" Kylan merangkul pundak Jojo dan menyusul pergi kedua saudaranya.
Kini tertinggal Jojo dan Kalingga di rumah. Kalingga berniat mengantar Jojo ke kampusnya pukul sembilan nanti, sementara menunggu, ia menemani Jojo duduk dan belajar di ruang tengah. Gadis itu terlihat sangat serius dengan laptop di hadapannya.
"Boleh aku lihat bahan presentasimu, Sayang?" tanya Kalingga.
"Hmm, tentu saja." Jojo menggeser laptopnya dan membaca buku.
Meski sempat kesusahan di awal-awal kematian ayahnya, Kalingga tetap kuliah setelah tiga tahun istirahat karena fokus bekerja dan membangkitkan kembali bisnis keluarganya.
Saat perekonomian dan financial perusahaan mulai stabil, Kalingga akhirnya melanjutkan kuliah saat usinya sudah 23 tahun. Ia harus berpendidikan cukup karena ia adalah seorang pemilik perusahaan besar.
"Aku akan memberimu hadiah di hari kelulusanmu," ucap Kalingga.
"Benarkah? Aku semakin bersemangat dan tidak sabar." Jojo bersikap gemas.
"Ngomong-ngomong, kapan kau ulang tahun?"
"Kenapa semua orang jadi menanyakan hari ulang tahunku?" Jojo balik bertanya.
"Hanya ingin tahu."
"Kak, apa kau takut jika tiba-tiba saja umurku sudah tiga puluh tahun meski wajahku seperti ini?"
Kalingga mengusap pipi Jojo dan meraih dagu gadis itu. Kini wajah mereka begitu dekat hingga bisa merasakan hangat nafas satu sama lain.
Keduanya bertatapan intens, semakin lama, semakin dekat. Kalingga mengangkat dagu Jojo dan membuat udara sekitar terasa lebih panas.
__ADS_1
🖤🖤🖤