
Jojo hampir tidak bisa bernapas saat tatapan tajam mata Kalingga bagai menusuk langsung menembus dadanya. Jojo merasa oksigen di sekelilingnya berkurang dan membuat sesak dadanya.
Laki-laki itu, mendekatkan wajahnya dengan ekspresi wajah datar. Tidak sedikitpun senyum tersungging di bibirnya.
"Apa Kakak marah hanya karena aku menyukai seorang idol?" batin Jojo bertanya. Namun ia tidak berani menyampaikan hal itu secara langsung. Ini bukan waktu yang tepat.
Gadis itu bahkan bisa merasakan hangat napas Kalingga di sekitar wajahnya hingga membuat nyali Jojo semakin ciut karena ruang geraknya semakin tidak memungkinkan.
"Jawab aku, Jojo. Kenapa kau tidak menyukaiku saja? Kenapa harus menyukai orang lain," ucap Kalingga sekali lagi.
"Bisakah, kita membicarakannya dengan nyaman?" tanya Jojo. Gadis itu menekan kepalanya ke tembok karena khawatir wajah Kalingga semakin mendekat.
"Aku nyaman seperti ini."
"Ya, tapi tidak denganku, Kak. Bisakah kau mundur, sedikit saja."
"Baik." Kalingga memundurkan sebelah kakinya sebanyak lima sentimeter namun dengan posisi tubuh yang tidak berubah.
"Ayo kita duduk saja, Kak," pinta Jojo sedikit memaksa. Gadis itu menampakkan raut wajah sedih agar Kalingga iba padanya.
Ceklek! pintu kamar terbuka dan Kai tiba-tiba muncul.
"Kak! Oh, maaf. Aku datang di waktu yang salah." Bocah laki-laki terkejut dan memalingkan wajah, ia segera menutup kembali pintu kamar dan pergi.
Kalingga menghembuskan napas kasar, mau tidak mau, ia harus melepaskan Jojo daripada adik bungsunya memberi pengumuman pada saudaranya yang lain.
"Baik, tunggu sampai aku selesai bicara dengan Kai," ucap Kalingga. Ia segera membuka pintu sebelum adiknya berjalan lebih jauh.
Jojo bernapas lega, ia bisa pingsan jika berada dalam situasi seperti itu lebih lama.
"Kai, ada apa?" tanya Kalingga.
"Apa kalian sudah selesai?" tanya Kai. Ia yang sudah hampir menuruni anak tangga dan hendak berangkat sekolah pun kembali ke depan kamar Kalingga.
"Katakan, ada apa?"
"Kakak lupa membayar biaya ujianku. Sepertinya ini adalah hari terakhir," jelas Kai.
__ADS_1
"Ah, ya. Aku akan transfer ke rekeningmu sekarang juga." Kai mengangguk dan berpamitan.
Kalingga merasa Jojo sudah mengalihkan pikirannya, gadis itu seakan mengambil alih otaknya dan mengganti seluruh isi otak Kalingga dengan nama dan bayang-bayang gadis itu hingga Kalingga melupakan segala hal yang penting.
Selepas kepergian Kai, Keenan dan Kylan terlihat keluar dari kamar mereka. Keduanya berpamitan pada Kalingga saat akan pergi. Karena situasi sudah aman, Kalingga kembali masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu agar Jojo tidak kabur.
"Kak, bolehkah aku pergi?" tanya Jojo.
"Tidak. Kau terkurung bersamaku di kamar ini," jawab Kalingga. Ia menarik lengan Jojo dan mengajaknya duduk di sofa. "Jadi, bagaimana?" tanyanya.
"Bagaimana apanya?"
"Perasaanmu, seberapa besar kau menyukai laki-laki itu?"
"Siapa? Park Chanyeol?"
"Ya, namanya agak sulit diingat."
"Jadi, berapa banyak sisa kesempatan untukku? Apa dia memiliki seluruh hatimu?
Pertanyaan yang sangat tidak masuk akal bagi Jojo, bahkan gadis itu kebingungan untuk mencari jawaban.
"Hmm. Tolong beri aku kesempatan, Jojo. Kau tahu, aku memang tidak seperti Kylan yang pandai merayu dan memujimu, atau seperti Keenan yang sejak awal sudah memberikan perhatian penuh padamu. Tapi, aku sungguh-sungguh mencintaimu," ucap Kalingga panjang lebar.
Jojo mengerutkan keningnya, kenapa kalimat laki-laki ini tidak ada mesra-mesranya? Bahkan saat kemarin ia mengatakan cinta, sikapnya sangat tidak romantis.
"Apa ini caramu mengatakan cinta padaku?" tanya Jojo. "Kau tidak terlihat serius, Kak."
"Maaf, ini pengalaman pertamaku. Kau adalah cinta pertamaku. Jadi, aku tidak tahu harus bagaimana," keluh Kalingga. Seumur-umur, laki-laki itu tidak pernah tertarik pada wanita atau berusaha mencari tahu tentang wanita. Ia hanya fokus bekerja dan mengurus ketiga adiknya tanpa mempedulikan dirinya sendiri. Hal seperti cinta dan wanita, terasa asing baginya.
Jojo menarik napas panjang, apakah yang baru saja ia dengar ini sungguh-sungguh? Jojo tidak bisa menahan sesak di dadanya.
"Kak, kita tidak bisa melakukan ini. Tidak seharusnya kau punya perasaan seperti itu padaku," ungkap Jojo. Matanya berkaca-kaca, hatinya nyeri dan terluka saat mengatakannya.
"Kenapa begitu? Beri aku kesempatan, Jojo!" pinta Kalingga.
"Ini bukan soal kesempatan atau perasaan kita, ini soal lain. Tolong jangan membuatku tidak nyaman."
__ADS_1
"Jojo, apa yang salah denganku? Apa aku pernah melakukan kesalahan atau menyakitimu?"
"Tidak, Kak. Mungkin ini salahku," ucap Jojo. "Salahku karena hidup sebagai orang tidak mampu!" lanjutnya dalam hati.
"Bisa jelaskan padaku lebih rinci? Apa kau benar-benar tidak akan memberikan kesempatan padaku?"
"Bukan, aku hanya tidak ingin memberimu harapan palsu, aku tidak ingin mengecewakanmu di lain waktu. Aku merasa ... tidak pantas," ujar Jojo sambil memejamkan mata. Kenapa kalimat ini terdengar begitu menyakitkan?
Kalingga merasa semangat yang berkobar kini perlahan memudar. Mengapa Jojo mengatakan hal seperti itu?
"Jojo, bisakah kita mencobanya? Menjalin hubungan dan mengenal lebih dekat satu sama lain? Apa kau bersedia?" tawar Kalingga.
"Apa aku pantas mendapatkan cintamu, Kak?"
"Kau mendapatkan segalanya dariku, bahkan hidupku. Dan aku tidak pernah ragu memberikannya padamu."
"Kak, aku mohon ...."
"Jojo, aku yang harus memohon. Beri aku kesempatan, tolong, please!"
Jojo manarik napas panjang, jika ia memberi kesempatan, artinya ia juga memberi harapan. Saat ia memberi harapan dan suatu saat restu itu tidak mereka dapatkan, maka rasa sakitnya akan lebih besar dari ini.
Jojo terdiam beberapa saat, berusaha berpikir dan mencari cara agar bisa mendorong mundur Kalingga tanpa menyakitinya. Ini adalah hal yang paling sulit bagi Jojo, perbedaan status dan fakta bahwa dirinya hanya seorang maid, merupakan garis besar yang membentang memisahkan. Bisakah mereka melaluinya?
"Kak, aku harus pergi." Jojo berniat pergi dan keluar dari kamar Kalingga, namun laki-laki itu menarik tubuh Jojo dan mendekapnya dalam pelukan.
"Beri aku kesempatan, Jojo. Apa yang membuatmu meragukanku?"
"Aku tidak meragukanmu, Kak. Aku hanya ...."
"Hanya apa?" tanya Kalingga.
Jojo tidak ingin memberi jawaban, ia tidak mungkin mengatakan tentang semua perasaannya juga tentang Merlinda. Gadis itu menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, membuat Kalingga bahkan tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya Jojo pikirkan.
"Baik, aku hanya ingin kau tahu tentang perasaanku. Aku harap, kau tidak pernah berusaha menjauhiku. Jangan menjaga jarak dariku, jangan membuat dirimu sibuk di dekatku dan jangan ... menyukai orang lain selain aku."
Kalingga memegang kedua pundak Jojo dan memeluk gadis itu beberapa saat. Ia merasa sangat lancang jika memaksakan perasaan Jojo, yang bisa Kalingga lakukan saat ini hanya berusaha dan meyakinkan gadis itu.
__ADS_1
🖤🖤🖤