
Di dalam ruangan, Keenan, Kylan dan Kai sudah tidak sabar. Ia melihat bayi perempuan cantik di gendongan Kalingga.
"Apa dia perempuan?" tanya Kai.
"Hmm, cantik bukan?" tanya Jojo.
Keenan, Kylan dan Kai mengangguk serentak. Bagaimanapun, keponakan mereka lahir dengan wajah yang cantik. Mereka tidak bisa menampiknya.
"Kak, bolehkah aku ...." Keenan meminta malu-malu. Ia memang tidak pernah menggendong bayi, namun ia tidak keberatan jika harus belajar lebih dulu.
"Kau mau menggendongnya?" tanya Kalingga. Keenan tersenyum, sementara Kylan dan Kai mengangguk, padahal Kalingga bertanya pada Keenan.
Dengan pelan dan hati-hati, Kalingga menyerahkan bayi dalam gendongannya ke dekapan Keenan. Karena terlalu berhati-hati, Keenan sampai menahan napasnya lebih pelan agar tidak membangunkan bayi kecil yang sedang tertidur itu.
Kylan dan Kai juga ingin menggendongnya, namun mereka tidak boleh berebut jika tidak ingin Kalingga menendang mereka satu persatu.
"Lihat dagu lancip dan wajah ovalnya, dia mirip Kakak Ipar," ucap Kai. Keenan dan Kylan mengangguk setuju.
"Hidungnya mancung, mirip sepertiku," ujar Keenan.
"Bagaimana bisa dia mirip sepertimu?" Kalingga nampak tidak terima.
"Kalian berempat punya hidung yang mirip dan hampir sama. Jangan bertengkar," sela Jojo.
"Wah, bibirnya kecil dan berbentuk hati saat sedikit terbuka. Mirip denganku," ucap Kylan. Namun setelah Kylan selesai berbicara, bayi kecil itu justru terbangun dan menangis.
"Dia menangis, dia menangis." Keenan nampak panik, ia menepuk pelan punggung bayi dalam gendongannya sambil berusaha untuk menenangkannya.
"Dia menangis karena mendengar suaramu, Kak!" seru Kai menegur Kylan.
"Apa? Yang benar saja?" bisik Kylan sambil melotot ke arah adik bungsunya.
"Goyangkan tubuhmu, Kak. Kau harus sedikit bergoyang agar dia tenang," perintah Kai pada Keenan.
Dengan polosnya, Keenan menggoyangkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri sambil menggendong keponakannya. Laki-laki itu dengan sangat hati-hati mengusap pipi lembut bayi itu. Setelah beberapa saat berusaha, akhirnya bayi kecil itu bisa tenang.
__ADS_1
"Wah, kau hebat, Kak!" puji Kylan. Namun setelah laki-laki itu bersuara, keponakan mereka kembali menangis.
"Kak! Sudah ku bilang, dia takut mendengar suaramu," tegur Kai.
"Baik, baik. Aku akan diam." Kylan menutup mulutnya rapat-rapat sambil menghela napas panjang.
Kalingga dan Jojo hanya tersenyum melihat bagaimana repotnya ketiga saudaranya menenangkan keponakan mereka.
Keenan semakin bingung. Ia sudah bergoyang, mengayun, bernyanyi dengan lirih, namun keponakannya tidak kunjung tenang.
"Berikan pada ibunya," pinta Kalingga.
"Kenapa? Tunggu sebentar lagi, aku pasti bisa menenangkannya," tolak Keenan. Ia bersikeras bisa mengurusnya.
"Cup ... Cup ... Cup ... Jangan menangis," ucap Keenan.
"Dia pasti haus," ujar Jojo.
"Apa kau haus?" Kai bertanya sambil menatap keponakannya yang menangis dengan mata tertutup.
Saat Jojo akan membuka kancing bajunya, ia memandang empat laki-laki yang berdiri mengelilingi tempat tidurnya. Apakah mereka akan melihat bayi itu menyusu?
"Kenapa kalian masih di sini?" tanya Kalingga.
"Menunggu keponakanku," jawab Kai.
"Kalian akan melihat Kakak Ipar kalian menyusui bayinya? Cepat keluar!" seru Kalingga. Ia mendorong semua adiknya keluar dari ruangan.
"Ah, Kakak. Kau jahat sekali," gumam Kylan.
Sementara Jojo menyusui bayinya, Kalingga mengurus kamar rawat yang akan ditempati oleh Jojo selama proses pemulihan. Mereka harus segera di pindahkan dari ruang bersalin agar ketiga saudaranya bisa menunggu keponakan mereka dengan leluasa.
🖤🖤🖤
Pukul satu dini hari, Jojo sudah di pindahkan ke ruang perawatan beserta bayinya. Karena ruangan ini akan dihuni lima orang sekaligus, maka Kalingga memilih ruangan yang paling besar dengan fasilitas yang paling lengkap.
__ADS_1
"Nama apa yang akan kau berikan padanya, Kak?" tanya Kylan pada Kalingga.
"Bagaimana jika Kaylee. Bagus, bukan?" Kai memberi saran.
"Apa kau pikir dia anakmu?" tanya Keenan sambil melirik adik bungsunya.
"Hei, bagaimanapun, aku adalah orang yang paling susah saat Kakak Ipar hamil. Dia selalu merepotkanku!" seru Kai.
"Kau tidak ikhlas?" tanya Jojo dengan wajah datar.
"Tidak, Kakak Ipar. Tidak, aku ikhlas." Kai memaksakan senyum di wajahnya.
Melihat bayi kecil di dalam gendongannya, Kalingga tersenyum. Ia tidak bisa berhenti memikirkan nama bayinya sejak dokter memprediksi jenis kelamin anak mereka saat kehamilan Jojo memasuki usia enam bulan.
"Jola Queen Rossa," ucap Kalingga. Jola adalah singkatan dari nama ibu dan ayahnya. Queen berarti ratu, yang artinya ia akan menjadi ratu kecil di rumah mereka, sementara Rossa adalah nama lain dari bunga mawar.
"Nama yang bagus, aku akan memanggilnya Queen. Seperti ratu di hatiku," ucap Kai bersemangat. Semua orang menganggukkan kepala setuju, itu adalah nama yang bagus.
Setelah mengobrol cukup lama, Kalingga meminta Jojo untuk tidur dan beristirahat. Laki-laki itu menidurkan anaknya di dalam box bayi, lalu menutupi setengah tubuh Jojo dengan selimut.
"Bagaimana jika nanti dia haus?" tanya Jojo.
"Aku akan membangunkanmu."
Jojo pun setuju dan memejamkan matanya. Ia sudah berjuang keras malam ini, dan ia butuh istirahat untuk memulihkan tenaganya.
"Kakak, kau bisa istirahat. Aku akan menunggunya," ucap Kylan. Ia melihat keponakannya tertidur di dalam box bayi.
"Aku tidak butuh tidur," jawab Kalingga. Ia duduk di kursi dan memandang wajah kecil yang tidur dengan pulas di depannya.
Keenan yang belum sempat beristirahat sejak pulang bekerja, langsung merebahkan tubuhnya di kamar tamu bersama Kai. Mereka tidur bersama dan berbagi selimut karena terlalu lelah.
"Keluarga kita semakin banyak," gumam Kylan. Ia merangkul pundak Kalingga, ia berterima kasih telah menghadirkan anggota keluarga baru yang akan menambah kebahagiaan mereka semua.
🖤🖤🖤
__ADS_1