
Keenan tidak mengantar Angelina sampai masuk ke dalam apartemen wanita itu, Keenan hanya menurunkannya di depan karena ia tidak sabar untuk menemui Kalingga.
"Hati-hati di jalan," ucap Angelina sambil melambaikan tangan.
Pikiran wanita itu menjadi gelisah dan tidak nyaman. Angelina memang sudah merasa bahagia dan nyaman bisa berada di tengah-tengah keluarga Keenan yang selalu menerimanya dengan baik dan memperlakukannya layaknya keluarga sungguhan.
Namun Angelina tidak menyangka jika keluarga mereka sudah berkorban sejauh itu agar ia dan Keenan tetap bisa bersama. Bahkan Kalingga mengambil sebuah keputusan tanpa menanyakan apapun pada mereka.
Keenan melajukan mobilnya dengan cepat ke kantor. Ia tidak bisa bersabar jika menunggu Kalingga di rumah hingga laki-laki itu pulang, jadi Keenan langsung menyusulnya.
Sesampainya di kantor, semua orang menyapa Keenan dengan ramah. Sebagai seorang artis, model sekaligus salah satu pemilik perusahaan ini, Keenan membuat suasana kantor ramai setiap kali ia datang. Di puja bak dewa atas ketampanannya, Keenan tidak pernah besar kepala.
"Keenan, ada apa?" tanya Kalingga. Ia bertemu adiknya saat baru saja keluar dari lift setelah menyelesaikan meeting bersama karyawan.
"Kak, apa kau sibuk? Aku perlu bicara," jawab Keenan.
Kalingga merasa heran, tidak biasanya Keenan datang saat tidak di minta. Ia bahkan tidak menerima pesan atau telepon dari laki-laki itu untuk memberi tahu kedatangannya.
Melihat Keenan nampak tergesa-gesa, Kalingga segera mengajak saudaranya masuk ke dalam ruangan.
__ADS_1
"Apa apa?" tanya Kalingga bingung.
"Tolong jawab pertanyaanku dengan jujur, Kak. Apa benar kau memutuskan kerjasama dengan Tuan Aslan secara sepihak? Kita berhenti ekspor bukan karena kontrak kerjasama kita habis, bukan?"
Pertanyaan berturut-turut dari Keenan membuat Kalingga terkejut. Ia sudah berusaha menyembunyikan semua ini selama berbulan-bulan agar tidak membuat Keenan merasa tidak nyaman dan agar adiknya bisa menikmati hubungannya bersama Angelina dengan tenang.
"Dari mana kau tahu?" tanya Kalingga.
"Aku curiga karena kita sempat mengalami kerugian beberapa bulan lalu, awalnya aku memakluminya karena kita berhenti ekspor. Namun aku juga mencurigai hilangnya dana perusahaan, Kakak memakainya untuk membayar denda atas kerjasama yang tidak tuntas itu, kan?"
Kalingga menarik napas panjang. Ia mengalami masa sulit setelah menghentikan kerjasama dengan Aslan karena orang tersebut ternyata mempengaruhi pasar dan membuat brand Anyelir terancam. Namun kini semuanya sudah berangsur membaik.
"Kak," lirih Keenan. Ia tidak tahu jika lemahnya perusahaan adalah karena dirinya.
Kalingga mendekati Keenan. Ia menepuk bahu Keenan dengan pelan sambil tersenyum tulus.
"Sudahlah, masa sulit sudah terlewati. Kita akan baik-baik saja tanpa mereka. Jangan khawatir," ujar Kalingga. Ia memberi sebuah map berisi rencana pembangunan gerai Anyelir baru di luar kota. Meskipun mereka mengalami penurunan saham dan pendapatan, semuanya berangsur pulih seiring berjalannya waktu.
Designer dan para karyawan di bidang produksi sudah memaksimalkan usaha mereka untuk menghasilkan produk terbaik yang bisa di sajikan untuk para pecinta mode. Kalingga tidak boleh menyerah, ia harus terus berjuang karena banyak orang bergantung pada dirinya.
__ADS_1
Sebagai perusahaan menengah yang tidak terlalu terkenal, Kalingga masih harus merangkak agar perusahaan dan brand yang ia usung bisa dikenal publik. Beruntung, ia memiliki istri dan adik yang bisa diandalkan dalam hal pemasaran. Mereka sangat membantu dalam penjualan semua produk secara tidak langsung.
"Aku merestui kau dan Angelina. Kebahagiaanmu adalah segalanya, Keenan. Berjanjilah untuk tidak menjadikan semua pengorbanan ini sia-sia," ujar Kalingga.
"Terima kasih, Kak." Keenan memeluk Kakaknya.
"Apa Angelina tahu tentang hal ini?" tanya Kalingga.
"Ya, dia tahu."
"Katakan padanya, semua baik-baik saja. Jangan ada yang merasa bersalah, aku mengambil keputusan itu dengan banyak pertimbangan."
Setelah Kalingga memberikan banyak laporan keuangan terakhir dan rencana pembangunan gerai baru, Keenan merasa lega. Ia hanya khawatir jika semua akan merasakan akibat yang buruk atas keputusan gegabah yang diambil oleh Kakaknya.
"Aku akan menemui Angelina. Jangan menungguku di rumah," pamit Keenan pada Kalingga.
"Hei, jangan bertingkah lebih jauh. Jika kau menginginkan lebih, maka aku harus menikahkan kalian." Kalingga memperingatkan.
Keenan mengulum senyum sambil berjalan meninggalkan ruangan Kalingga. Ia ingin menghabiskan hari ini bersama Angelina, ia tidak mau wanita itu merasa tidak nyaman atas apa yang baru ia dengar dari April.
__ADS_1
🖤🖤🖤