
Kalingga mendongak, menatap buah kelapa muda yang masih tergantung kokoh di pucuk pohon. Melihatnya dari bawah saja kaki Kalingga sudah gemetar. Mengapa pohon kelapa pantai setinggi ini?
"Andra, apakah di sekitar sini tidak ada yang menjual buah kelapa muda?" tanya Kalingga.
"Maaf, Kak. Semua kebutuhan kalian sudah di sediakan di villa, tapi untuk buah kelapa muda sepertinya harus memanjat langsung di pohonnya," jelas Andra.
Kalingga menelan ludah kasar, jangankan memanjat pohon kelapa yang batangnya panjang dan licin, memanjat pohon mangga saja ia tidak pernah.
"Sayang, haruskah aku memanjatnya?" tanya Kalingga pada Jojo. Ia ragu bisa melakukan ini.
"Jika kau tidak bisa, tidak apa, Sayang. Aku akan minum air putih," jawab Jojo. Wanita itu sedikit kecewa, namun tidak akan memaksa Kalingga melakukan apa yang tidak bisa laki-laki itu lakukan.
Namun wajah ditekuk dengan bibir cemberut istrinya membuat Kalingga tidak punya pilihan. Bukankah keinginan istrinya sederhana? Maka ia harus mencobanya terlebih dahulu dan tidak menyerah begitu saja.
"Andra, apa kau tahu manfaat air kelapa muda untuk wanita yang sedang hamil muda?" Kalingga melempar pertanyaan pada Andra, berharap bocah itu punya cara lain untuk mendapatkan buah tanpa harus memanjat pohonnya.
"Air kelapa muda sangat bagus dikonsumsi ibu hamil dalam jumlah sedang. Kandungan vitamin dan mineral alaminya sangat baik karena bisa membantu ibu hamil terhindar dari dehidrasi saat mengalami mual dan muntah," jawab Andra.
"Wow, serius? Kau menjawabnya dengan bagus," puji Jojo. Ia takjub karena Andra bisa memiliki pengetahuan seputar hal itu.
"Kini bocah itu bahkan terlihat lebih pintar dariku," batin Kalingga. Ia menyesal telah bertanya.
"Hmm, baiklah. Aku akan memanjatnya, Sayang," ucap Kalingga sambil menarik napas panjang. Laki-laki itu mulai berpegangan pada batang pohon kelapa, sedikit demi sedikit, ia mengangkat kakinya dan mengapit batang pohon dengan erat.
__ADS_1
Kalingga terlihat sangat kesulitan memanjat pohon, ia bahkan tidak bisa naik lebih dari satu meter di atas tanah, hal itu membuat Jojo dan Andra diam-diam mengulum senyum. Terlihat jelas jika memanjat bukanlah keahlian laki-laki itu.
Sekali dua kali berusaha mencoba, Kalingga tidak bisa naik lebih tinggi. Bahkan ia belum mencapai seperempat tinggi pohon tersebut.
"Sudahlah, Sayang. Tidak apa, aku bisa minum air putih," ungkap Jojo. Ia merasa kasihan karena Kalingga terlihat sangat kelelahan.
"Benarkah? Tapi kau terlihat sangat ingin minum air kelapa itu, Sayang," ujar Kalingga.
"Kita akan membelinya jika kembali ke kota. Aku bisa menahan diri." Jojo tersenyum dan bersikap seolah-olah tidak menginginkan buah kelapa itu. Lagi pula, ia sudah terlalu haus dan tidak bisa menunggu.
Kalingga mengajak Jojo duduk menikmati semilir angin di bawah pohon kelapa sambil menunggu Andra mengambil air mineral untuk mereka.
Meski mengatakan jika bisa menahan diri dan membeli buah kelapa saat mereka kembali ke kota besok, Jojo masih berulang kali memandang buah yang tergantung tinggi di pucuk pohon.
Villa berdiri kokoh dengan model rumah modern namun dinding dan semua arsitekturnya menggunakan kayu ini terlihat asri dan nyaman. Jojo merasa bisa menghirup udara segar dengan baik karena udara seperti ini sangat sulit dirasakan di wilayah perkotaan.
"Selamat siang, Tuan dan Nyonya. Makan siang sudah siap," ucap seorang lami-laki paruh baya berusia kisaran lima puluh lima tahun. Ia adalah Pak Danu, ayah dari Andra sekaligus orang yang bertanggungjawab merawat villa ini.
"Nama saya Kalingga, Pak. Ini istri saya, Jojo. Panggil nama kami saja agar lebih nyaman," ungkap Kalingga.
"Baik, tentu saja."
Kalingga meminta Jojo mandi dan berganti pakaian agar lebih nyaman terlebih dahulu. Dengan begitu, istrinya bisa kembali segar dan bisa menikmati makan siang dengan tenang.
__ADS_1
Hanya berselang sepuluh menit, Jojo sudah keluar dari kamarnya. Kalingga menggandeng wanita itu menyusul Pak Danu ke tempat mereka akan makan siang.
Meski jauh dari pemukiman, pulau ini sangat nyaman untuk dijadikan tempat tinggal. Apa lagi, semua perlengkapan elektronik menggunakan listrik yang di dapatkan dari tenaga surya. Kalingga dan Jojo tidak keberatan meski kesulitan menghubungi ketiga saudaranya di rumah karena terkendala sinyal yang hilang timbul.
Sambil menuju tempat makan yang sudah di siapkan, Jojo dan Kalingga melihat-lihat sekeliling. Seluruh bangunan ini terbuat dari kayu, villa ini berukuran cukup besar. Di area belakang juga terdapat kolam renang berukuran sedang serta kolam ikan dengan air mancur buatan.
Di sebuah taman belakang, terdapat banyak sekali tanaman bunga. Seorang wanita berusia kisaran empat puluh lima tahun sedang mempersiapkan makanan di atas meja kayu dan tersenyum menyapa kedua tamunya.
"Selamat siang, silahkan dinikmati," ucapnya. Ia memperkenalkan diri sebagai Bu Ani, istri dari Pak Danu sekaligus orang yang membantu mereka selama berada di pulau ini.
Jojo dan Kalingga duduk berdampingan sambil melihat semua menu yang tertata rapi di atas meja. Berbagai lauk seafood tersedia, membuat Jojo tidak sabar untuk menyantapnya.
Ikan bakar, cumi-cumi, tumis kerang hingga es rumput laut terlihat sangat menggiurkan untuk disantap.
"Apa kita tidak punya es kelapa?" tanya Jojo dengan sedikit berbisik pada Bu Ani.
"Ah, maaf, Nyonya. Saya bisa meminta Andra atau Pak Danu untuk memetiknya jika anda mau," jawab Bu Ani.
"Tidak, Bu, tidak perlu. Saya hanya bertanya. Oh, ya. Panggil saya Jojo saja, ya, Bu." Jojo mengangguk dan tersenyum, ia tidak mau merepotkan siapapun karena keinginannya.
Perasaan bersalah karena tidak bisa memenuhi keinginan istrinya membuat Kalingga tidak nyaman, ia merasa menjadi suami yang kurang baik hanya karena tidak bisa memanjat pohon kelapa demi istrinya.
"Kalau aku tidak bisa memanjat pohonnya, bukankah akan lebih mudah merobohkannya?" batin Kalingga.
__ADS_1
🖤🖤🖤