ANAK ASUHKU

ANAK ASUHKU
Menerima Tawaran


__ADS_3

Kai melihat Jojo dengan penuh rasa bersalah. Ia tahu tindakannya salah, namun sebagai remaja, Kai juga ingin sekali melakukan banyak hal seperti teman-temannya.


"Aku minta maaf," gumam Kai. Ia duduk di samping Jojo.


"Apakah Kak Keenan sudah melunasi biaya servis motormu? Bagaimana dengan utangmu?" tanya Jojo.


"Sudah, Kakak membayarnya. Soal utang, aku taruhan sebesar tiga juta," jawab Kai lemah.


"Aaargg!!!" Jojo hampir menjerit frustasi. Kini ia merasa menjadi ibu yang lalai dalam mendidik anaknya.


"Bagaimana kau akan membayarnya?" tanya Jojo lagi. Kai menjelaskan jika ia mendapatkan uang jajan dari Kalingga sebesar tiga juta dalam satu bulan, ia akan membayarkan uang itu untuk melunasi utangnya. Sementara untuk jajan, Kai membutuhkan bantuan Jojo.


Jojo menghembuskan napas kasar. Uang gajiannya memang cukup banyak, tapi ia sedang rutin mengirimkan uang itu untuk orang tuanya di kampung halaman. Jojo sedang berencana membangun toko serba ada untuk ke dua orang tuanya sebagai mata pencaharian. Ia tidak ingin kedua orang tuanya kembali menjadi petani, karena mereka sudah terlalu sering sakit.


Jojo berinisiatif meminta Kai mengantarnya untuk menemui teman-teman balapnya. Gadis itu berniat mencari jalan tengah atas kekalahan Kai dan hutang taruhannya. Namun Kai menolak, sejak awal ia sudah mengetahui resikonya dan ia juga setuju dengan jumlah taruhannya. Kai tidak mau bertindak sebagai pecundang.


"Tolong jangan katakan apapun pada Kakak. Aku janji ini adalah yang pertama dan terakhir," bujuk Kai.


"Janji?" Jojo melempar pandang pada bocah laki-laki berusia delapan belas tahun berparas tampan itu.


"Janji. Kau adalah pengasuh sekaligus penyelamatku. Kau bisa mempercayaiku," ucap Kai sungguh-sungguh. Ia mengulurkan jari kelingkingnya pada Jojo dan berjanji jika tindakannya ini hanya untuk bersenang-senang, ia tidak punya niatan sama sekali untuk mengulanginya.


Setelah mendengar kejujuran Kai, Jojo meminta ia keluar dari kamarnya. Hari-harinya nampak lebih buruk jika Kai mulai membuat masalah. Jojo tidak habis pikir, bagaimana bisa bocah nakal itu bertindak sejauh itu tanpa pertimbangan hanya karena ikut-ikutan temannya.


🖤🖤🖤


Pagi hari setelah sarapan, Jojo menghampiri Kalingga ke kamarnya saat laki-laki itu bersiap akan pergi bekerja. Gadis itu menyetujui tawaran Kalingga untuk menggunakan jasanya sebagai model pakaian perusahaan keluarga anak asuhnya.


Kalingga terkejut, ia tidak menyangka jika Jojo akan bersedia melakukan itu. Ia sangat senang, ia berharap banyak atas kebaikan Jojo. Dan kini, ia lega bisa mendengar kabar baik itu.


"Aku akan bicara pada Kylan dan segera menjadwalkan pemotretanmu," ucap Kalingga antusias. Ia tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


"Baik, Kak."

__ADS_1


"Terima kasih sudah membantuku, Jo. Aku tahu, aku bisa mengandalkanmu," ungkap Kalingga. Ia memegang kedua bahu Jojo dengan tubuh saling berhadapan, kedua mata mereka bertatapan intens.


"Anggap saja ini bagian dari pekerjaanku," jawab Jojo. Ia pun bahagia bisa membantu Kalingga. Paling tidak, ia juga bisa mendapatkan satu pengalaman berharga sebagai model dadakan. Dan juga, hal ini ia lakukan demi Kai, ia butuh uang tambahan untuk membantu bocah laki-laki itu.


Kalingga terus menatap Jojo, memperhatikan wajah cantik gadis di depannya. Dagu lancip, pipi tirus, alis yang rapi dan bulu mata lentik. Bibir tipis terbelah, Kalingga tergoda.


"Kak, aku harus bekerja. Apa kau akan terus menatapku?" tanya Jojo.


"Ah, ya. Baiklah, silahkan lanjutkan pekerjaanmu," ujar Kalingga gugup. Ia tidak sadar sudah berapa lama memandang wajah gadis itu.


Kalingga bersikap canggung, ia membiarkan Jojo keluar dari kamarnya. Beberapa saat kemudian, gadis itu kembali dengan setumpuk baju yang sudah selesai dicuci dan disetrika dengan rapi.


Kalingga menyisir rambutnya di depan cermin, ia melirik Jojo yang sibuk menata pakaian dalam lemari.


"Aku harap kau lebih rapi dari adik-adikmu, Kak. Aku paling resah jika Kylan membuat berantakan isi lemarinya, padahal aku sudah ratusan kali mengingatkannya," keluh Jojo.


"Hmm, ya."


"Kak, ada tiga cel*ana dalam baru. Apa itu milikmu?" tanya Jojo tanpa canggung.


"Bukan punyaku, mungkin Kylan atau Kai," jawab Keenan.


Jojo keluar dari kamar Keenan, berniat menanyakan hal itu pada Kylan. Namun laki-laki itu rupanya tidak ada di kamar. Kai juga sudah berangkat ke sekolahnya. Jojo kembali ke ruang cuci dan berniat menyimpan tiga cel*ana dalam baru yang ia temukan di pengering mesin cuci.


"Hei, itu milikku!" seru seseorang dari arah belakang. Kylan nampak berjalan mendekati Jojo dan merebut miliknya.


"Mana aku tahu. Celana baru?" tanya Jojo.


"Ya, aku sudah membuang yang lama," jelas Kylan.


"Kenapa kau buang?"


"Apa kau mau menyimpannya? Ada sedikit bekas aktifitas pagiku. Aku takut kau ketakutan saat mencucinya, jadi aku membuangnya," ujar Kylan.

__ADS_1


"Aktifitas pagi?" Jojo melongo. Ia kurang bisa memahami bahasa Kylan.


"Seperti ... Ah, kau tidak akan paham. Kau tahu, laki-laki sering kehilangan kendali saat bangun tidur." Jawaban berbelit-belit Kylan membuat Jojo merasa mual.


"Dasar! menjijikkan!" pekik Jojo. Ia merinding dan merasa geli. Gadis itu mendorong Kylan agar pergi dari ruang mesin cuci. Kini pikiran Jojo mengembara dan berkelana pada hal-hal liar.


Minggu-minggu awal saat Jojo bekerja di rumah ini, gadis itu cukup resah saat mencuci pakaian milik ketiga anak asuhnya. Cel*ana dalam dalam berbagai ukuran dan warna itu membuatnya hampir tidak bisa tidur dan membayangkan bentuk isinya.


Namun setelah berbulan-bulan mengurus segala keperluan anak asuhnya dari urusan makan, pakaian, kebersihan, hingga vitamin dan kesehatan mereka, Jojo mulai terbiasa. Ia memang harus membiasakan diri agar bisa bekerja dengan baik.


Dan kini, ia memiliki satu pekerjaan tambahan, yaitu mencuci pakaian Kalingga. Jojo tidak keberatan, lagi pula pakaian Kalingga tidak sebanyak Keenan dan Kai.


Saat hendak ke kamarnya, Keenan tiba-tiba berteriak memanggil Jojo. Gadis itu dengan cepat berlari menaiki anak tangga.


"Ada apa?"


"Kau lihat kemeja berwarna hitam milikku?" tanya Keenan.


"Sudah ku bilang. Jangan mengubah letak pakaian yang sudah aku tentukan. Kalau hilang seperti ini, siapa yang repot!" Gadis itu mengomel sambil membuka setiap pintu lemari untuk memeriksanya.


"Aku kadang suka lupa," lirih Keenan. Tidak sekali dua kali ia mendapatkan semburan dari Jojo karena sikapnya yang ceroboh mengembalikan pakaian tidak pada tempatnya.


"Kemeja hitam yang ini?" tanya Jojo sambil merentangkan sebuah kemeja sesuai permintaan Keenan.


"Bukan, bukan yang itu. Aku mencari kemeja yang kancingnya berwarna putih," jelas Keenan.


"Kak! Kancing hitam ini akan tertutup jasmu, pakai saja yang ini."


"Aku lebih suka yang berkancing putih," ujar Keenan memelas.


"Ah!" Jojo menarik napas panjang. Drama pagi hari memang selalu melelahkan. Kalingga dengan sikap anehnya, Kylan dengan cel*ana dalamnya, dan Keenan selalu kehilangan sesuatu.


🖤🖤🖤

__ADS_1


__ADS_2