
Setelah Bu Ani dan Pak Danu pergi, Kalingga dan Jojo menikmati makanan mereka. Jojo terlihat sangat bahagia melihat banyak makanan di depannya, meski wanita itu hanya makan secukupnya karena khawatir mual dan muntah di pulau yang jauh dari mana-mana.
Meski Jojo tidak mengungkapkan secara terang-terangan bahwa ia sangat ingin buah kelapa muda, Kalingga berusaha memahami wanita itu. Karena Jojo bukan tipe wanita yang akan merengek manja jika keinginannya tidak terpenuhi.
"Sayang, ayo kembali ke kamar. Kau harus tidur dan beristirahat satu atau dua jam, kita punya banyak waktu untuk menikmati tempat ini sampai tiga hari kedepan. Jadi jangan sampai kau kelelahan dan kurang istirahat," ucap Kalingga setelah selesai makan.
"Tapi aku ingin jalan-jalan, Sayang."
"Kita bisa melakukannya setelah kau bangun."
"Hmm, baiklah." Jojo mengangguk setuju.
Kalingga menggandeng istrinya kembali memasuki villa dan menemani Jojo tidur. Meski merasa cukup lelah, Kalingga bahkan tidak bisa memejamkan matanya.
Berselang tiga puluh menit, Jojo sudah terlelap dalam pelukan Kalingga. Secara perlahan dan hati-hati, Kalingga menggeser tubuhnya, laki-laki itu memindahkan kepala Jojo dari bahunya ke bantal empuk.
Kalingga keluar dari kamar, ia mencari keberadaan Andra dan berharap bocah itu punya solusi untuknya. Sambil mencari, Kalingga memperhatikan suasana sekitar villanya, tempat indah dipenuhi dengan pepohonan kelapa dan pasir pantai ini sangat memanjakan mata.
"Kak, kau tidak istirahat?" sapa Andra tiba-tiba.
"Hei, aku mencarimu," jawab Kalingga.
"Mencariku? Kau butuh sesuatu?"
"Ya, kau tahu istriku ingin sekali minum air kelapa muda. Tapi sejujurnya, aku tidak pernah memanjat pohon, jadi aku pasti tidak bisa melakukannya padahal aku sudah berusaha."
__ADS_1
"Apa kau mau aku yang memanjatnya?" tawar Andra. Terlihat jelas ia tidak keberatan dengan permintaan Kalingga.
"Tidak, tidak. Istriku ingin aku yang melakukannya. Apakah ini keinginan istriku atau keinginan bayi kami?" tanya Kalingga lagi. Aneh rasanya jika dia malah bercerita dan meminta pendapat pada bocah laki-laki berusia dua puluh tahun yang belum mnikah tentang Jojo yang sedang hamil, namun Kalingga tidak punya teman bicara saat ini.
"Hmm, Ibuku bilang jika wanita hamil biasanya menginginkan sesuatu yang tidak biasa, bahkan berbanding terbalik dengan kebiasaan lamanya sebelum hamil, hal itu biasa disebut ngidam. Mungkin Kak Jovanka mengalaminya," jelas Andra.
"Ah, begitu. Karena aku tidak bisa memanjat pohon kelapa, maka aku akan mengambil buahnya tanpa susah payah memanjatnya. Kau mau membantuku?"
"Mengambil buah tanpa memanjatnya? Apa yang bisa ku bantu?" tanya Andra. Ia benar-benar belum paham apa maksud perkataan Kalingga.
"Jika aku merobohkan satu pohon, berapa yang harus ku bayar?" tanya Kalingga. Mendengar hal itu, Andra melotot. Tidak adalah cara lain yang lebih ekstrim?
"Kenapa? Apa itu tidak diperbolehkan?" tanya Kalingga lagi.
"Sepertinya lebih bagus memanjat daripada merobohkannya, Kak. Karena pohon kelapa yang berada di sepanjang garis pantai ini punya fungsi tersendiri."
"Pak, istri Kak Kalingga ini mau minum air kelapa muda. Tapi Kak Kalingga tidak bisa memanjat pohon dan tidak mau aku yang memanjatnya," ucap Andra pada Pak Danu.
"Kalau begitu Bapak saja yang memanjatnya," jawab Pak Danu.
"Bukan, Pak. Bukan begitu. Bisakah saya merobohkan satu pohon saja, saya akan bayar sesuai permintaan Bapak," pinta Kalingga.
"Me-merobohkan? Maksudnya, menebangnya?" tanya Pak Danu terbata-bata. Lebih dari sepuluh tahun merawat pulau dan menemui ratusan tamu yang datang, baru kali ini Pak Danu punya tamu dengan keinginan aneh seperti ini.
"Ya, Pak. Istri saya tidak mau merepotkan orang lain. Jadi, izinkan saya membeli satu pohon dan merobohkannya."
__ADS_1
"Memangnya, berapa buah yang diinginkan?"
"Hanya satu, terlalu banyak juga tidak baik untuk ibu hamil."
Sejenak, Pak Danu diam dan terlihat berpikir. Kemudian, Laki-laki paruh baya itu setuju, namun bukan pohon yang berada di bibir pantai, melainkan yang berada di belakang villa. Kalingga sangat senang dan berterima kasih, ia memberi pesan pada Bu Ani agar menjaga Jojo saat istrinya bangun, karena ia harus pergi bersama Pak Danu untuk memetik buah.
Kalingga dan Pak Danu membawa sebuah gergaji mesin berukuran sedang ke belakang villa. Mereka berdua memilih pohon yang cukup tua namun memiliki buah yang bagus.
Setelah merobohkan satu pohon, Kalingga membawa beberapa buah kelapa kembali ke villa bersama Pak Danu.
"Nak Kalingga, kau terlihat sangat mencintai istrimu. Dia wanita yang beruntung memiliki suami sepertimu," puji Pak Danu.
"Saya sangat mencintainya, saya akan berusaha memberikan segala sesuatu yang istri saya inginkan, Pak. Dia sudah bekerja keras dan hidup dalam kesulitan cukup lama, saya menikahinya karena saya ingin membahagiakannya," jawab Kalingga.
Pak Danu tersenyum, ia sangat menyukai sikap dan karakteristik Kalingga. Meski datang sebagai tamu, ia tidak bertingkah sewenang-wenang.
"Semoga kalian hidup bahagia sampai maut menjemput. Bagaimanapun ombak dan badai menerjang, jadilah kapal yang yang kuat dan tak tergoyahkan!"
"Saya akan menjadi laki-laki sejati yang hanya mencintai satu wanita dalam hidup saya, saya akan mengingat nasehat Bapak," jawab Kalingga. Hal ini membuat Kalingga cukup bersedih, ia merindukan Abraham, namun benci saat mengingat kenyataan.
Setelah sampai kembali di villa, Kalingga sudah melihat Jojo dan Bu Ani berbincang di pinggiran kolam ikan. Jojo sangat terkejut saat melihat suaminya datang dengan membawa beberapa buah kelapa. Bahkan laki-laki itu terlihat begitu kelelahan dengan keringat yang membasahi seluruh tubuhnya.
"Sayang, aku membawa sesuatu untukmu," ucap Kalingga. Jojo sangat senang, ia berterima kasih karena Kalingga memenuhi keinginannya.
"Apa kau sudah bisa memanjat pohon kelapa, Sayang?" tanya Jojo.
__ADS_1
"Aku tidak perlu memanjatnya, aku merobohkannya agar bisa mendapatkan lebih banyak!"
🖤🖤🖤