
Kai kembali ke rumah dengan perasaan senang, ia masuk ke dalam rumah dan melihat Jojo berada di ruang tengah sedang menonton televisi.
"Tiga bungkus! Kau puas?" tanya Kai.
"Hmm, terima kasih banyak, Adik Ipar." Jojo tersenyum lebar. Ia segera membuka bungkus es dan menuangkannya ke dalam mangkuk yang sudah ia siapkan.
"Apa tadi itu hanya pura-pura?" batin Kai. Beberapa saat yang lalu Jojo menangis tersedu-sedu, namun sekarang wajahnya tampak ceria seperti tidak terjadi apa-apa. Kai mendesah resah, ia akhirnya memutuskan ke kamar dan beristirahat.
Beberapa saat kemudian, Kylan datang. Ia melihat Jojo duduk sendirian di depan televisi.
"Hmm, kelihatannya enak," gumam Kylan sambil duduk di samping Jojo.
"Kau mau? Ambil satu," ucap Jojo. Ia berbaik hati membagi es buah miliknya untuk Kylan. Sementara Kai yang baru saja mandi dan berganti pakaian, ia mendengus kesal dari lantai atas saat melihat pemandangan di lantai bawah.
"Apa Kakak Ipar sekarang lebih menyayangi Kak Kylan?" tanya Kai pada dirinya sendiri. Karena Jojo memang terlihat sangat baik pada Kylan akhir-kahir ini.
Di depan televisi, Jojo dan Kylan menikmati es buah di tangan mereka masing-masing, keduanya mengobrol dan membicarakan pekerjaan Kylan.
"Bagaimana kabar Sunny?" tanya Jojo. Mendengar pertanyaan itu, Kylan terbatuk.
"Kenapa tiba-tiba menanyakannya?" tanya Kylan.
"Hanya penasaran, sejauh apa hubungan kalian."
"Hmm, aku belum pernah bertemu gadis sepertinya. Dia dingin dan menyebalkan, aku membeli banyak sekali hadiah, mengajaknya berbelanja, tapi dia menolak semua itu dan membayar barang-barangnya sendiri. Dia pikir aku tidak punya uang, aku hampir menyerah mengejarnya!" ungkap Kylan dengan kesal. Jojo tersenyum samar melihat ekspresi laki-laki itu.
"Kau ingat, Papanya mantan playboy kelas VIP. Sunny punya pertahanan diri yang kuat dengan laki-laki sepertimu, dia tangguh, sulit dikejar, sulit ditaklukkan dan sulit didapatkan. Sepertinya usahamu kurang bagus," ucap Jojo.
"Itu tidak terdengar seperti kalimat penyemangat," lirih Kylan. Bukannya memberi dukungan, Jojo malah melemahkan semangatnya.
"Kau laki-laki dewasa? Datangi saja ke rumahnya. Ajak kencan dia di depan orang tuanya, itu menandakan kesungguhanmu. Itupun kalau kau berani."
__ADS_1
"Kau gila? Aku merinding melihat Papanya. Tatapan matanya seperti mencekik leherku," gumam Kylan. Ia masih ingat bagaimana Alex menatapnya saat ia hendak berkenalan dengan Sunny di pesta pernikahan Jojo dan Kalingga.
"Laki-laki harus bernyali," seru Jojo.
"Apa kau sedang menantangku? Kau pikir aku takut? Tidak, aku akan mengajaknya berkencan malam ini juga!" ucap Kylan menggebu-gebu. Ia segera menghabiskan es buah miliknya dan meninggalkan Jojo. Laki-laki itu masuk ke dalam kamarnya dan menutup rapat pintunya.
Di dalam kamar, Kylan berjalan mondar-mandir sambil melihat layar ponselnya. Ia sudah mengetik pesan panjang lebar untuk Sunny namun ragu saat akan mengirimnya.
"Bagaimana jika dia menolakku? Aku sudah ditolak berkali-kali," batin Kylan frustasi. Mengapa sulit sekali mendapatkan gadis itu?
🖤🖤🖤
Malam saat jam makan malam, hanya ada Jojo, Kai dan Keenan di meja makan. Mereka menikmati pasta bertiga karena Kalingga sedang lembur untuk mengawasi ekspor malam.
"Kak, aku pergi," pamit Kylan. Ia sudah berpakaian rapi dan terlihat tampan.
"Kenapa tidak makan dulu?" tanya Jojo.
"Aku akan pergi ke rumahnya," ucap Kylan sedikit berbisik, ia mengedipkan sebelah mata ke arah Jojo.
"Siap, boss!"
Dengan penuh semangat, Kylan mengendarai mobilnya ke kediaman Alex. Ia ingin membuktikan jika ia sungguh-sungguh mendekati Sunny, jadi ia mempraktekkan saran dari Jojo malam ini juga.
Sesampainya di halaman rumah Sunny, Kylan keluar dari mobil dengan gelisah. Laki-laki itu berusaha meredakan kegugupannya dengan menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.
Seumur hidupnya, Kylan bahkan belum pernah mendatangi seorang gadis ke rumah orang tuanya. Ia terbiasa berkencan dan berjanji untuk bertemu di suatu tempat, namun Sunny nampak berbeda dengan gadis biasa dan membuat Kylan harus berusaha lebih keras.
"Selamat malam, Pak." Kylan menyapa saat seorang laki-laki membuka pintu untuknya.
"Hmm, masuk!" ucap Alex. Kylan mengangguk dan mengikuti Alex ke ruang tamu. Saat masuk ke dalam rumah, suara wanita menyapa Kylan dengan ramah. Wanita dengan gaun malam berwarna merah nampak sangat cantik meski usianya tak lagi muda.
__ADS_1
"Sayang, temanmu sudah sampai," ucap wanita itu dari ujung tangga bawah sambil melihat ke lantai atas.
"Siapa namamu?" tanya Alex. Ia duduk berhadapan dengan Kylan dan hanya terpisah meja berukuran sedang.
"Saya Kylan, Pak. Kita pernah bertemu saat pernikahan Kakak saya," jawab Kylan gugup.
"Karena kau teman laki-laki anakku, maka panggil aku lebih santai dan berbicaralah dengan santai."
"Ah, panggil dia Om, Kylan. Ayah Sunny memang tidak pernah mengakui bahwa dirinya tua," sela Ibu dari Sunny, Nora.
"Baik, Om." Kylan mengangguk dan tersenyum.
"Berapa umurmu? Apa pekerjaanmu? Apa kau sudah punya pacar?" tanya Alex bertubi-tubi. Hal itu membuat Kylan melongo, kenapa Alex mengajukan pertanyaan sebanyak itu sekaligus?
"Sayang, kau membuatnya takut!" tegur Nora. Inilah yang selalu Alex lakukan jika ada seorang teman laki-laki Sunny datang ke rumah.
"Umur saya menjelang dua puluh empat tahun, Om. Saya seorang fotografer, dan saya tidak punya pacar," jawab Kylan. Ia meremas tangannya sendiri yang terasa dingin.
"Fotografer? Kau pasti di kelilingi wanita-wanita cantik," gumam Alex.
"Daddy! Jangan mengganggunya!" Suara lantang terdengar nyaring saat seorang gadis cantik berjalan menuruni tangga.
"Daddy tidak mengganggunya, Sayang. Daddy hanya menanyakan pekerjaannya," jawab Alex.
"Aku tidak percaya, Daddy pasti mengintrogasinya, kan? Berhenti bersikap menakutkan seperti itu," keluh Sunny.
Gadis itu berjalan mendekati Kylan dengan gaun berwarna merah muda selutut, gaun dengan lengan terbuka itu membuat Sunny nampak sangat anggun dan cantik.
Selang beberapa menit, Sunny dan Kylan pamit karena harus segera pergi. Mereka memesan tiket bioskop dan harus sampai tepat waktu agar tidak terlambat menonton film.
Saat hendak keluar, Alex tiba-tiba merangkul pundak Kylan, membuat laki-laki itu semakin merinding.
__ADS_1
"Jangan berpegangan tangan apa lagi sampai menciumnya. Jangan menyakiti hatinya atau kau bisa pilih, mana yang akan aku patahkan. Lehermu? Tanganmu? Atau kakimu?" ucap Alex sambil berbisik. Kylan menelan ludah kasar, ini bahkan terdengar seperti ancaman pembunuhan baginya.
🖤🖤🖤