
Paula membawa pasukan untuk mengepung beberapa kelompok yang bertanggung jawab atas pembangunan jalan itu termasuk manager Ali. Paula sangat yakin jika ini adalah yang diinginkan oleh Yuda dan Pangeran. Paula tidak mengizinkan siapapun untuk keluar dari pabrik. Tidak ada yang dapat lolos dari cengkraman Paula dan pasukannya.
Semua orang yang bertanggung jawab menggigil karena ketakutan, terutama manager Ali. Kurang lebih ada 15 orang yang bertanggung jawab dan telah menikmati hasil korupsi uang yang seharusnya diberikan pada rakyat.
Tidak tanggung tanggung, kurang lebih 4.5 milyar uang yang seharusnya dinikmati rakyat telah mereka telan mentah mentah.
..
Helikopter mendarat dengan sempurna. Para perawat langsung membawa menyambut kedatangan mereka.
Pendarahan yang terus keluar membuat Mumut benar benar terlihat seperti mayat hidup.
"Cepat cepat cepat !!"semua orang dengan sigap memblokir jalan supaya jalan mereka tidak terhalangi.
"Tuan tolong tugu diluar !!"
"Tidak, saya akan ikut masuk menemani istri saya !"
"Tapi tuan ..."
"Jika sampai terjadi apa apa kepada istri saya, saya jamin rumah sakit ini tutup untuk selama lamanya !!"ancam Yuda dengan serius.
Akhirnya, Yuda diperbolehkan untuk masuk. Pihak rumah sakit sendiri tidak ingin berurusan dengan orang kaya akhirnya membiarkan Yuda masuk namun dengan satu syarat yaitu, Yuda tidak boleh berucap satu katapun. Dia hanya boleh melihat tanpa berkomplen.
"Aku juga akan membantu," ucap Raka dengan wajah yang terlihat lemas.
"Tidak Raka, kamu lihat kondisi kamu sekarang. Kita percayakan saja pada dokter yang ada disini," ujar Pangeran mencoba membuat anaknya mengerti.
"Tapi ayah!?"
"Sudah, kamu juga butuh pertolongan. Lihatlah tangan kamu ini membengkak sangat besar." Pangeran menundukkan kepalanya.
"Apakah ini sakit nak?"tanya Pangeran dengan air mata yang keluar begitu saja.
Raka yang sangat merindukan orang tuanya langsung memeluk Pangeran. Raka mengerti bagaimana keadaan ayahnya selama ini yang telah dikhianati oleh Sarah.
"Ini tidak sakit ayah, tidak sakit," ujar Raka mempererat pelukannya.
pangeran benar benar merasa senang dan juga sakit. Ia membalas pelukan anaknya dengan sangat erat seolah olah ia tidak akan mengizinkan anaknya pergi dan menghilang lagi.
"Sayang, ayah mohon jangan pernah tinggalkan ayah lagi ya?"
__ADS_1
"Raka tidak pergi jika ibu tidak pergi, dan Raka akan pergi jika ibu pergi. Raka sudah janji pada Tuhan jika Raka akan menjaga ibu dengan nyawa Raka sendiri."
"Maafkan ayah nak, maafkan ayah. Semua ini terjadi karena ayah, ayah yang bertanggung jawab atas segalanya. Sekali lagi mohon maafkan ayah ...?"
Di kursi panjang, Raka baru tahu bahwa kenyataanya semua orang menginginkan ibunya dan dirinya untuk kembali. Mereka memberi kebohongan besar kepada Yuma hanya supaya Yuma tidak terus terusan terfikirkan dengan kepergian ibunya. Cidera di kepala Yuma membuat semua orang bertekad untuk melakukan kebohongan itu.
Raka hanya bisa menunduk sedalam dalamnya. Mengapa ia tidak pernah mencoba untuk mengecek rekaman sebelum belumnya. Raka merutuki dirinya sendiri, karena kebodohannya ia sampai membuat semua orang menderita, terutama Yuma.
Pangeran memeluk putra kembali. Kali ini Pangeran mencoba membujuk Raka supaya lukanya mau di obati.
"Sayang, kita obati dulu ya luka kamu. Apa kamu tidak ingin menggendong adik kamu nanti?"
"Iya ayah ...."
"Sudahlah, yang lalu biarlah berlalu. Yang terpenting sekarang kamu dan ibumu telah kembali dengan selamat," ucap Pangeran mencoba untuk memberi Raka kekuatan.
..
Setelah menunggu 1.5 jam akhirnya Yuda keluar dari ruang operasi.
Pangeran menyambut Yuda, "bagaimana dengan Mumut Yud?"
Pangeran tahu ini bukankah waktu yang tepat untuk menanyakan soal Mumut. Pangeran membalas pelukan dari Yuda. Ia mencoba untuk memberi dukungan dan juga semangat untuk Yuda.
Raka telah selesai di obati. Raka mendekat kearah Yuda dan Pangeran yang masih saling berpelukan. Raka merasa sangat hangat melihat ayah dan papahnya terlihat sangat akur, sangat damai dimata Raka.
Tidak lama Mumut dan bersama tiga bayinya keluar dari ruang operasi. 3 bayi telah selamat, begitu juga dengan ibunya.
Mumut masih terjaga karena ia dibius total oleh dokter.
Yuda dan Pangeran menatap bayi mungil yang bobotnya tidak lebih dari 2kg. 3 putra Yuda memiliki bobot 1,8ons.
"Selamat bro,, selamat. Aku turut bahagia dengan kehadiran tiga putra kembar yang menggemaskan ini, aku tidak percaya jika kamu akan memiliki bayi kembar tiga sekaligus" ujar Pangeran yang merasa terharu dengan perjuangan Mumut untuk membesarkan janin kembar tiga tanpa seorang suami di sampingnya.
"Thanks bro, ini adalah sebuah keajaiban. Oya dimana Raka?"
"Dia sedang berobat, tangannya cidera ketika beberapa pengawal memukulinya," jawab Pangeran dengan sorot mata yang tajam.
Raka yang baru keluar kamar mandi langsung menghampiri mereka.
"Ayah, papah dimana bayinya?"
__ADS_1
"Adik kamu sedang di bawa oleh suster untuk divaksin terlebih dahulu. Raka, apa tangan kamu sudah membaik?"tanya Yuda.
"Ini tidak papa pah, hanya luka kecil."
"Dia bohong Yud, tangan membesar seperti paha orang dewasa. Kita akan langsung terbang ke Jakarta untuk mendapatkan obat yang lebih ampuh."
"Aku setuju denganmu Pang."
Raka hanya menggelengkan kepalanya. Mengelak seperti apa, dua pria didepannya ini tidak akan bisa dilawan.
.
"Raka, kamu jaga ibumu bentar ya. Ayah dan papah kamu ada urusan sebentar," ucap Pangeran.
"Ayah mau kemana?"
"Kami akan kembali ke pabrik sebentar saja."
"Raka harap papa dan ayah benar benar memberi pelajaran pada tikus tikus got itu !! Karena mereka, ibu menjadi seperti ini!"ujar Raka dengan geram. Disaat seperti ini, wajah Raka lebih menyeramkan dari pada wajah kedua ayahnya jika sedang marah.
"Kamu tenang saja, ayah akan mengurus mereka dengan baik," jawab Pangeran dengan senyum.
"Nak, jaga ibu dan adik adik kamu ya. Jika ibu tersadar, katakan saja jika papah sedang ada urusan sebentar," ucap Yuda.
"Iya pah ...."
..
Dengan langkah kaki yang sangat arogan, dua pria keluar dari rumah sakit dengan tatapan yang mampu menyayat-nyayat siapapun yang melihatnya.
Didalam pesawat, jika ada kebocoran dikit saja maka akan langsung meledak karena uap panas yang dihantarkan dari tubuh Yuda dan Pangeran.
"Yud sebaiknya dihajar sampai mati atau diracun saja?"
"Tidak perlu kasar Pang, menyakiti seseorang tidak baik. Langsung saja tembak di kepala."
"Itu terlalu nikmat untuk sebuah kematian."
"Kita lihat saja nanti ..."
Helikopter melewati hutan hutan yang masih lebat. Yuda dan Pangeran saling lempar senyuman menawan mereka. Entah apa yang sedang mereka senyumkan, namun yang pasti itu bukanlah sesuatu yang baik.
__ADS_1