
Mumut memandang keluar dari jendela kamarnya.
Dia melihat kembali tepat anaknya berdiri di pinggir jalan.
Mimpi itu terasa sangat nyata untuknya, sampai membuat Mumut benar benar merasa takut.
Alasan Mumut ingin pulang ke indo, selain rindu halaman juga dia tidak ingin Yuma kenapa napa.
Mumut juga merasa pergaulan di negara ini tidak cocok untuk perkembangan putrinya.
Semenjak masuk kelas dasar, Yuma yang memang anaknya mudah akrab langsung memiliki banyak teman. Tetapi Yuma tidak bisa memilah milah mana teman yang baik dan mana teman yang buruk baginya.
Mumut sangat takut sifat Yuma yang polos dan ramah akan mendatangkan kesialan pada dirinya sendiri. Contohnya adalah Mumut sendiri.
Mumut sangat takut jika nasib Yuma seperti dirinya.
Pergaulan bebas di negara ini membuat Mumut was was..
Dia sendiri telah sering melihat anak anak kelas pertengahan berciuman di depan umum, dan itu sangat mengerikan menurut Mumut.
Mumut sambil mengemasi barang barangnya, mana yang harus di bawa dan mana yang akan dia tinggal atau dia sumbangkan.
"Sayang, masih ada waktu seminggu lagi. Kenapa beres beres sekarang !?"tanya Yuda yang baru pulang dari mengantar Yuma.
"Aku hanya sangat bersemangat mas, aku sangat senang sekali kita akan pulang dan menetap di indo,," ucap Mumut tersenyum.
Yuda memegang tangan yang sedang sibuk dan menariknya sampai ke pelukannya.
"Mas,, aku sedang sibuk,," ucap Mumut yang masih saja merasa malu.
"Hemm ,,, apa kamu masih malu melakukan ini !?"tanya Yuda yang melihat wajah Mumut memerah.
"Maaass ,,"
Yuda memeluk istrinya yang sangat dia cintai itu.
"Aku paham kenapa kamu ingin kembali dari sekian lama setelah aku membujukmu, disini memang kurang pas untuk membesarkan Yuma. Tapi apakah kamu sudah siap untuk segalanya !?"tanya Yuda lirih di dekat telinga Mumut.
Mumut mengeratkan pelukan mereka.
"Aku takut mas, sebenarnya aku sungguh takut. Tetapi aku percaya kepadamu mas, apapun yang terjadi Yuma tetap anak kamu,," ucap Mumut tersenyum pada Yuda.
Yuda menatap istrinya yang semakin cantik setiap harinya.
"Sayang, apa boleh !?"tanya Yuda merasa sudah tidak tahan.
"Ini masih pagi mas,,
"Aaaww !!" Belum selesai bicara, Mumut sudah di dorong oleh Yuda ke atas kasur mereka yang besar.
__ADS_1
"Apa berani menolak suamimu ini ??"
Mumut hanya menggelengkan kepalanya, dan sampai akhirnya Mumut menggelitik perut Yuda.
"Ah hahaha hahaha ampuun sayang,,, ini geli sekali ,,,hahahaa !"begitulah suara Yuda saat di gelitik oleh Mumut.
Setelah Yuda terjatuh dan tergulai lemas, Mumut naik ke atas perut Yuda.
"Hay sayang, apa kamu sudah lelah !? Bahakan kita belum memulainya ,," ucap Mumut memasang mata genit di depan Yuda yang masih ngos ngosan karena habis di gelitik oleh Mumut.
Yuda hanya bisa tertawa melihat tingkah istrinya yang menggemaskan itu..
Dan terjadilah yang seharusnya terjadi.
...
Di sekolah dasar, anak anak pada berkumpul di taman anak anak untuk mendengarkan pengumuman dari Yuma.
Sebelumnya Yuma hanya mengatakan," siapa pun teman aku, berkumpul di taman.!!"
Namun Yuma tidak menyangka, anak anak yang mengaku temannya 2 kali lipat lebih banyak dari yang dia tahu.
Kebaikan Yuma membuat semua anak anak sangat menyukainya, dari adik kelas, teman sebaya bahkan kakak kelas juga.
Yuma berfikir keras. Dia hanya membeli mainan sebanyak 70 buah, tetapi disini hampir ada 200 anak berkumpul.
"Inilah nasib seorang anak kaya tetapi keluarganya pelit. Mereka tidak tahu jika aku ini memiliki banyak teman. Huh, papa juga hanya menambahkan sedikit." Umpat Yuma merasa kesal.
Padahal Yuda hanya menuruti kemauan Yuma yang hanya ingin membeli sebanyak 70 mainan mahal di mall.
Yuma merasa tidak enak jika ada yang mengaku temannya itu ada yang tidak dapat. Itu akan merusak nama baiknya di sekolah itu.
Disaat sedang bingung, tiba tiba ada sebuah mobil pickup datang ke arah mereka.
"Kakaaak !!!?"batin Yuma merasa heran.
"Hay adikku tersayang ,," sapa Raka tersenyum manis di depan adiknya.
"Apa yang kakak lalukan disekolah ku !?"tanya Yuma.
"Tentu untuk membantu adikku yang malang ini," ucap Raka sambil mencubit hidung adiknya.
Raka berjalan menuju mobil dan membuka kain yang menutupi barang.
"Taraaa !!!"
Semua anak anak yang melihat begitu banyak mainan langsung menghampiri Raka.
"Haha ya ya ya,, kalian berbaris dulu ya, tidak boleh berebut karena kalian semua akan dapat,," ucap Raka mencoba mengatur anak anak.
__ADS_1
Yuma yang terharu dengan sikap kakaknya berlari dan memeluk Raka.
"Terima kasih banyak ya kak," ucap Yuma.
"Sama sama adik kecilku,, sekarang ayo kita bagikan mainan ini .."
Setelah membagikan mainan, Yuma berpamitan dengan semua teman temannya.
Ada banyak yang mengatakan.
"Yuma, kami akan merindukan!"
"Yuma, aku akan selalu menjaga hadiah darimu!"
"Yuma, semoga kita akan bisa bertemu lagi,!" begitulah ucapan perpisahan dari teman teman Yuma.
Sebelum pergi, Yuma berfoto foto dengan semua teman temannya untuk kenang kenangan.
Yuma sangat senang, akhirnya dia bisa pergi dengan meninggalkan nama baik tanpa rasa malu.
Dia menganggap kakaknya yang selama ini jahat kepadanya ternyata orang yang paling baik.
"Kakak kenapa bisa sampai ke sekolah Yuma ?"tanya Yuma.
"Kakak tiap hari kesekolah kamu .."
"Haaah,,ngapain kak ? Kok Yuma tidak pernah tahu !?"
"Jelas untuk memantau langsung adik kakak yang nakal ini .."
"Emm apa kakak juga yang menyuruh Jack agar tidak mendekati Yuma !?"tanya Yuma yang teringat tadi Jack tidak hadir di acara perpisahan.
Tetapi beruntung Yuma sudah menitipkan mainan langka khusus untuk Jack kepada temannya.
"Adikku sayang, ini belum waktunya kalian main pacar pacaran. Masa masa kalian ini harusnya belajar dengan giat agar menjadi pintar dan berguna untuk semua orang..."
"Tapi Yuma sudah pintar kak, Yuma bosan dengan pelajaran guru yang itu itu saja.."
"Yuma, kakak tahu kamu pintar. Tapi apa kamu tahu,! di seusia kamu ini dulu kakak lebih pintar dari kamu yang sekarang, tetapi kakak masih terus belajar. Apa kamu tidak ingin seperti kakak,!?"
Yuma menundukkan kepalanya. Kakaknya benar, "aku telah menyianyiakan kepintaran ku dan malah bermain main yang tidak jelas." Batin Yuma.
"Yuma sayang, kamu boleh memiliki teman dan bermain, tetapi jangan lupa juga belajar agar kepintaran kamu terus meningkat."
"Iya kakak, Yuma janji setelah ini Yuma akan belajar dengan lebih giat lagi.."
Kedua bersaudara kandung itu saling tersenyum. Yuma sadar, sikap tegas kakaknya selama ini itu semua untuk kebaikan dirinya.
...
__ADS_1