
Tiga mobil mewah beriringan untuk menjemput sang majikan. Yuda dan para kawanan turun satu persatu menyusuri anak tangga pesawat.
Paula dan Pangeran duduk terpisah dengan keluarga besar Yuda. Yuda dan istri berserta anak anaknya berada dalam satu mobil.
Didalam mobil, Yuda, Mumut dan Raka tidak henti hentinya dibuat gemas dengan Triple Baby J. Mereka benar benar terlihat seperti Keluarga, Keluarga yang utuh dan Harmonis.
..
Didalam mobilnya, Paula masih terlihat malu-malu kepada Pangeran.
Sebagai seorang lelaki yang gentleman, Pangeran mencoba untuk bersikap dewasa.
Pangeran memegang tangan Paula yang sedari tadi tidak henti-hentinya memainkan jari-jarinya.
"Emm Paula ..?"panggil Pangeran lirih.
"Iya kak .?"jawan Paula gugup, sumpah demi apa Paula sangat jijik melihat dirinya yang seperti ini.
"Aku akan melamarmu secara resmi kepada keluarga besar kamu. Aku tidak akan gegabah, aku akan memperkenalkan kamu kepada keluargaku jika kamu sudah siap, dan katakan padaku jika waktunya sudah tepat?"
"Sepertinya ini terlalu cepat kak, akan sangat mendadak sekali jika kita mengumumkan hubungan kita saat ini kepada keluarga kita masing masing. Beri aku sang waktu 2 Minggu, setelah itu baru perlahan kita membuka hubungan kita kepada mereka."
"Kamu juga bisa berfikir seribu kali untuk menerima lamaran seorang duda seperti aku.!?"
"Sudah aku katakan kak, mau menduda seribu kali pun tidak akan mengubah segalanya."
"Terima kasih ya, aku tidak percaya jika kita akan berada sejauh ini," ucap Pangeran yang langsung teringat sesuatu. "Oh shiiitt...!! Aku telah kalah dari Yuda!?"pekik Pangeran yang tiba tiba menegang.
"Kalah kenapa kak?" tanya Paula yang merasa heran dengan berubahan sikap Pangeran.
"Ah, tidak papa Paula. Kamu mau langsung pulang atau ikut bersama kami ke villa?"
"Papah masih di Lampung, dan mama masih jalan jalan bersama teman temannya ke Korea. Aku mampir dulu deh Vila kalian, aku masih ingin dekat dekat dengan Baby J.
"Ehm.. Baby J, apa yang disini ,,," ejek Pangeran dengan senyum tampannya.
"Apaan si kak, gak jelas deeh..."
Akhirnya mobil yang mereka naiki telah sampai didepan gerbang.
Hari sudah menunjukkan pukul 07 malam.
Semua keluarga besar berkumpul di vila.
Ada Yasmin dan Jaka, ada taun Suroto dan mama Ratu, ada Yuma dan Laras. Hanya Tuan Aska yang masih melakukan perjalanan keluar negeri.
Malam ini Yuma masih kekeh tidak ingin menggunakan kacamatanya, entah mengapa ia ingin sekali membiaskan diri untuk menjadi buta, walaupun dia sebenarnya tidak benar-benar buta. Yuma masih bisa melihat walaupun segalanya buram.
.
Mumut dengan tidak sabar berlari kecil masuk kedalam Vila.
__ADS_1
"Sayang,, hati hati luka jahitan kamu masih basah!?"tegur Yuda melihat istrinya yang tidak terkontrol.
"Ah iya mas, aku tadi sangat merasa senang, Aku gak sabar ketemu sama Yuma .."
Mereka telah sampai didepan pintu utama. Yuda menekan bel beberapa kali. Seorang pelayan datang membuka pintu. Namun setelah melihat siapa yang datang, pelayan langsung berlari ke arah meja makan dimana semua orang sedang makan malam.
"Nyo... Nyoo.. nyonya, ada,, ada ..."terpotong.
"Apa apa sih bik ..?"tanya Yasmin tidak sabar.
"Ada Tuan Yudaa,,, bersamaaa ..."terpotong.
"Apa !! Kak Yuda sudah pulang? Aku akan menyambutnya dulu," ucap Yasmin langsung berlari kecil kearah pintu utama.
Yasmin benar benar tidak percaya dengan apa yang dia lihat depannya. Yasmin menutup mulutnya rapat rapat karena saking terkejutnya.
"Sayaaaaaannng !!! Mamaaaaaa !!! Yumaaa!! Kemarilah !!"teriak Yasmin yang masih mematung melihat ada Mumut bersama Jaka dan bayi di tangan mereka.
Mendengar teriakan Yasmin, semua orang langsung menghampiri sumber suara yang cempreng itu.
"Ooh ya tuhaaaann, mumuuuuuut ,,, Rakaaaaa !!!!"teriak mama Lauren tidak percaya.
"Yaa tuhan, akhirnya kamu pulang juga sayang," sapa Mama Ratu.
"Bagaimana kabar kalian mama?"
"Nek, Raka rindu nenek .."
"Yuma mana?"tanya Mumut yang tidak melihat Yuma.
"Ah, mungkin dia masih makan dimeja makan. Emm Mut, maafkan kami tidak bisa menjaga anak kamu dengan benar. Yuma sekarang sedang berubah, dia tidak ingin memakai kacamatanya lagi," ucap Mama Lauren merasa prihatin dengan nasib cucunya.
Mumut yang mendengar anaknya sedang tidak baik baik saja langsung berlari mencari Yuma tanpa memikirkan perutnya yang terdapat jahitan yang masih basah.
Mumut sangat senang karena ia melihat putrinya masih duduk dimeja makan.
Ketika Mumut ingin mendekatinya, terdengar suara Yuma.
"Jangan mendekat !" perintah Yuma. Entah mengapa tiba tiba kaki Mumut langsung berhenti dan terasa sangat berat, seolah-olah terdapat sihir diucapan Yuma.
"Sayaaang ini mamaaa nak, ini maaamaah, mamah pulang sayang, mama pulang!!"ucap Mumut merasa sangat tertekan karena kenyataannya anaknya tidak mengharapkan dirinya.
"Mana mungkin manusia yang mati bisa hidup kembali. Kamu hanyalah sebuah bayangan yang tak kuharapkan. Aku setiap Minggu mendatangi makan ibuku yang telah tiada, dan selamanya akan begitu. Jangan lagi menggali luka yang sudah ku kubur bersama dengan jasad ibuku." ketus Yuma tanpa menatap ibunya.
Bagaikan meteor menghujani bumi, kini hati Mumut benar benar hancur berkeping keping. Ia takkan pernah menyangka jika anaknya akan menolak kehadirannya. Rasa rindu yang ia tahan selama ini meledak bagaikan bom nuklir yang memporak-porandakan hatinya.
Semua orang yang melihat itu merasa terkejut dengan sikap Yuma. Yuda mencoba mendekat namun Yuma melarang.
"Aku tidak ingin satu orang pun mendekati aku. Aku tidak ingin sentuh, berbicara, makan, melihat kalian semua yang ada disini." Setelah mengatakan itu, Yuma dengan santai turun dari kursinya dan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Walaupun Yuma tidak menggunakan kacamata, tapi dia mampu melewati setiap halangan yang ada depannya. Yuma melewati mereka semua yang berdiri mematung.
Entah mengapa setiap kata kata yang Yuma ucapan, mereka menggapnya adalah sebuah perintah, tidak ada yang berani mendekatinya.
__ADS_1
Namun Raka masih ingin mencoba.
"Yuma,, ini kakak dek ..?"
Yuma menghentikan langkah kakinya yang sudah berada disetengah anak tangga.
Tanpa menoleh. Yuma menjawab," Termasuk kamu ..!!" ucap Yuka singkat lalu melanjutkan langkah kakinya.
Ketika Yuma sudah sampai dasar lantai dua. Terdengar suara bayi yang saling sahut sahutan. Lagi lagi Yuma menghentikan langkah kakinya.
Oweeekk. ... Oweeeekk... Oweeek....
Semua orang sangat berharap jika Yuma tersentuh dengan tangisan adiknya yang seolah olah memanggilnya untuk menyapa dan menyentuh mereka.
Namun hal tidak terduga terjadi. Yuma dengan cepat menutup telinganya dan melanjutkan langkah kakinya yang angkuh.
Mumut benar benar kehilangan semua otot otot pada kaki dan tubuhnya. Ia tersungkur kebawah dan menahan sesak yang ada didadanya. Mumut terlihat seperti orang telah kehilangan jiwanya. Ia tidak dapat mencerna dengan apa barusan terjadi didepan matanya.
semua orang terkulai lemas tidak tahu harus berkata apa. Mereka tidak tau harus merasa senang atau sedih. Namun nyatanya, mereka tidak dapat tersenyum ataupun menggoda si Baby J.
Yuda mencoba untuk mendekati istrinya. Yuda ingin memberi kekuatan kepada istrinya. Mereka juga tidak tahu jika akhirnya akan seperti ini.
"Raka, bawa adik adik kecilmu kekamar mereka. Temani mereka," perintah Yuda.
"Baik pah .."
Raka ditemani dengan Paula mengasuh baby untuk sementara.
.
Tubuh Mumut bergetar hebat, ia masih tidak dapat menerima semua ini. Sampai akhirnya, ia tidak dapat menahannya.
"Haaaaaa ...... Haaaaa.... Aaaaaaa aaaaaaaa.... Yumaaa anakkuuuuu ma'aaaaaaaf mamaaa naaaak!!!! Hik hik hik hik....!"
Semua orang hanya bisa ikut menangis.
Jaka yang tidak ingin kakaknya Kenapa-napa mengingat ia baru melakukan operasi sesar, memutuskan untuk memberinya obat penenang.
"Jangaaaann !! Jangan lakukan itu jakaaa !! Ja...ja..jangaaaann......" Perlahan suara Mumut tenggelam bersama dengan kepedihan dan luka yang mendalam.
..
Yuma meringkuk didalam kamarnya seorang dirinya. Ia menatap tajam bayang bayangannya bersama ibu dan keluarganya didepan matanya yang buram.
.
Yuma benar benar sakit hati dengan kebohongan besar yang telah Keluarga itu berikan padanya.
"Aku akan mewujudkan apa yang mereka inginkan!!" batin Yuma lalu menyeka air matanya.
"Mengapa,,, mengapa,,, mereka semua jahat padaku!? apa mereka tidak tahu betapa hancurnya hatiku saat mereka mengatakan mama dan kakak telah tiada. Hik hik hik.. Selama ini aku menangisi dan berdoa untuk mereka yang ternyata sedang menikmati hidup bahagia. Kalian harus membayar mahal semua sudah kalian lakukan, yang mati tetaplah mati, selamanya akan begitu."
__ADS_1