
Di bandara Tokyo. Pangeran dengan semangat untuk kembali terbang ke Indonesia.
"Bruk ..... !! Tidak sengaja Pangeran menabrak seorang ibu-ibu yang sedang berjalan mundur karena sibuk menvidio teman-temannya untuk dijadikan sebuah konten.
"Ah, maaf Tante, maafkan saya," ucap Pangeran membukukan kepalanya.
Ibu-ibu itu membuka kacamatanya dan ternganga melihat anaknya ada di Jepang.
"Pangeran, sayang!?"ucap Mama Ratu membuat Pangeran menatap pemilik suara yang sangat ia kenal.
"Mamaaaah!?"
"Oh ya tuhan, kamu ngapain berada disini sayang!?"
Pangeran ingin menjawab jujur kepada mama'nya. Namun tiba-tiba segerombol ibu-ibu mendekat kearah mereka. Pangeran melihat ada mama Uni yang terlihat kikuk dan salah tingkah sendiri.
"Eh jeng, ini anak kamu?"tanya salah satu teman.
"Ah iya jeng, ini anak saya, Pangeran."
Pangeran menatap mama Uni dengan intens. Mama Uni yang mendapatkan tatapan dari Pangeran hanya bisa tersenyum canggung.
"Mah, Pangeran datang kesini hanya untuk berjalan-jalan sejenak saja dan sekarang Pangeran ingin pulang ke Indonesia."
"Loh cepat sekali? Kamu jalan-jalan dengan siapa?"
"Sendirian mah. Mah, pesawatnya sudah mau mengepakkan sayapnya. Pangeran duluan ya, nikmati liburan mama. Dan oya, Tante Lauren dan tante Uni tolong jaga mama ya, karena ia sudah sedikit pelupa, Pangeran takut ia akan menyasar, hehehe ,,,," ucap Pangeran yang langsung lari meninggalkan kerumunan ibu-ibu sosialita itu.
"Pangeraaaaaan!!!!!"teriak mama Ratu yang kesal dengan sikap anaknya yang kurang ngajar.
Mama Uni menghela nafas lega karena Pangeran tidak mengatakan yang sejujurnya jika ia telah mengerjainya sampai harus terbang ke Jepang.
.
Di dalam pesawat, Pangeran benar-benar merasa tidak sabar untuk berjumpa dengan pujaan hati yang telah membuatnya berantakan tidak karuan.
"Sekali lagi tunggu aku Paula. Kali ini aku janji langsung tepat sasaran," gumam Pangeran sambil menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar tidak percaya akan dikerjai sampai sejauh ini.
...
Didalam kamarnya, Jaka tidak henti-hentinya mengelus rambut istrinya. Yasmin yang merasakan lambaian tangan yang sangat lembut perlahan membukakan matanya.
"Sayang, kamu sudah bangun?"
"Kok kamu masih disini,? Bukankah kamu harus kerumah sakit?"
"Aku sudah janjian dengan temanku untuk bertukar jadwal. Emm apa kamu rasakan sekarang?"tanya Jaka.
"Sakit ..."
"Mana yang sakit sayang, biar aku periksa!?"tanya Jaka khawatir.
"Hati aku sakit Jaka. Ini sungguh menyakitkan, aku sudah ingat segalanya sekarang,,hik hik ..."
"Apa yang kamu ingat?"
"Malam itu ... Malam itu adalah perayaan keberhasilan team kami sehingga kami memutuskan untuk merayakannya. Entah siapa yang memulainya, aku akhirnya ikut meneguk beberapa alkohol. Namun aku sangat ingat, saat itu aku hanya meneguk dua kali dan yang ketiga kali merasa sangat pusing dan aku tidak sadarkan diri. Pada saat itu hanya Agas yang tahu kode apartemen aku, namun yang aneh, aku benar-benar tidak ingat apa-apa dan aku tidak merasakan apa-apa. Aku bangun dari tempat tidurku dan semua biasa saja. Aku tidak melihat Agas disampingku, dan pakaianku juga utuh tidak ada yang terbuang. Hanya itu yang aku ingat, tapi bisa saja dia melakukan hal itu ketika aku tidak sadarkan diri. Maafkan aku Jaka , hik hik hik ....." Air mata Yasmin menjawab semua penyesalan yang ia rasakan. Bahkan Yasmin sangat pasrah jika Jaka akan pergi meninggalkan dirinya. Namun ia sangat berharap jika Jaka masih dapat menerima dirinya.
"Sayang, sudahlah. Sekarang hanya ada aku, kamu dan calon anak kita. Aku tidak ingin membahas yang lain. Yang lalu biarlah berlalu," ucap Jaka sembari memeluk istrinya yang terlihat sangat rapuh.
__ADS_1
"Kamu tidak marah?"
"Hanya sangat disayangkan. Kenapa kamu tidak jujur jika kamu sedang diteror oleh pria itu ..."
"Maafkan aku Jaka, aku hanya tidak ingin kamu salah faham dan pergi meninggalkan aku ..."
"Apa aku terlihat seperti pria pengecut!?"
"Bukan begitu sayaaang ... Uuuuh,, makasih banyak ya sayang. Terima kasih karena kamu telah menerima aku, meski ..."
"Huuusst, sudahlah ... Kita lupakan masa lalu dan fokus kepada masa depan dan calon anak kita. Aku tulus mencintai kamu, emuach," Sebuah kecupan di kening Yasmin.
"Aku juga sangat mencintai kamu,sayang. Terima kasih banyak ..."
Kini, akhirnya yasmin dapat bernafas dengan lega. Bukan karena kematian Agas, namun karena ia sangat beruntung karena memiliki suami yang sangat tulus mencinta dan menyayanginya.
...
Di Vila, Yuda yang merasa penat merajuk manja di pangkuan istrinya.
"Mas, kamu ini kenapa?"tanya Mumut dengan lembut.
"Aku telah gagal sayang," jawab Yuda sambil memejamkan matanya.
"Gagal !? Gagal kenapa!?"
"Aku telah gagal menjadi kakak yang baik untuk adikku .."
"Yasmin,,? Memang ada dengan Yasmin?"
"Tidak papa sayang. Biarkan aku tidur sejenak di pangkuanmu. Bukan hanya Baby J, namun aku juga sangat merindukan dan butuh obat darimu."
"Apa tidak jelas? Aku hanya ingin tidur di pangkuan kamu. Hanya itu saja," ucap Yuda sembari menutup matanya.
"Hemm,,," Mumut mengelus rambut suaminya dengan sangat lembut. Mumut sangat mengerti jika suaminya masih enggan untuk menumpahkan segala kelah-kesuhnya. Mumut tidak ingin memaksa, ia hanya akan selalu berada disampingnya ketika ia membutuhkan dirinya.
...
Disekolah dasar, semua murid dibuat girang karena akan ada guru baru disekolah mereka. Desas-desus yang mereka dengar, bahwa guru mereka masih muda dan sangat tampan.
"Yuma!! Kita akan mendapatkan guru baru, dan dia akan menjadi wali kelas kita," ucap sisi.
Yuma yang ingat nasehat kakaknya mencoba untuk tidak menggubrisnya. Ia hanya akan fokus belajar.
"Aku sedang belajar sisi, aku tidak perduli wali kita tampan atau jelek, yang penting dia adalah guru yang pintar supaya otak murid-murid disekolah ini menjadi pintar juga," ucap Yuma.
"Emm begitu ya, kamu benar juga Yuma .."
Tak .. Tak ... Tak ... Suara sepatu mulai terdengar ditelinga anak anak yang sedang menanti guru baru mereka.
"Selamat siang anak-anak ,,,"sapa guru baru.
Yuma yang mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya langsung mengangkat kepalanya.
"Oh, ya, tuhaan,, kakak !?"batin Yuma sangat terkejut ternyata guru mereka adalah kakaknya, Raka.
Raka yang melihat ekspresi wajah Yuma yang menggemaskan hanya bisa mengedipkan matanya.
Pulang sekolah, didalam mobil.
__ADS_1
"Kakak, apa alasan kakak menjadi guru disekolah Yuma!?"
"Karena kakak tidak ingin jauh-jauh dari Yuma."
"Bohong, !! Kakak pasti ingin mengawasi Yumakan?"
"Kakak hanya tidak ingin kamu kenapa-napa sayang ..."
"Hemm, kakaaaaakk!! Yuma sayang kakak," ucap Yuma yang langsung memeluk lengan Raka.
"Kamu tidak marah?"
"Tentu tidak kak, Yuma sangat senang karena kakak adalah guru Yuma. Semoga kelak Yuma akan menjadi pintar seperti kakak ..."
"Amiin ...."
"Lalu bagaimana dengan perusahaan ayah Pangeran? Bukankah kakak akan membantu Ayah?"
"Kakak bisa mengerjakan semuanya. Kamu tenang saja. Lagi pula Ayah dan Kakek masih sanggup untuk menjalankan bisnis mereka. Kakak hanya membantu sisanya saja."
"Waaah, kakak kerena sekali. Yuma sangat bangga dengan kakak ..."
"Iya dong, kakak siapa dulu ..."
"Kakak Yuma, hahahaa ...!!"
"Oya kak, Laras bagaimana?"
"Sore ini dia akan melakukan perjalanan ke Prancis. Karena nenek Ratu tidak ada, terpaksa kakak menyuruh orang untuk mengantar Laras."
"Kenapa tidak kita saja kak yang mengantar Laras?"
"Kamu sebentar lagi akan ulangan. Kakak tidak ingin kamu mengambil izin. Kapan-kapan saja jika sudah waktunya libur, kita main kesana."
"Oke kak. Kita sekarang mau kemana?"
"Kita akan kerumah Ayah Pangeran. Laras mungkin sedang mempersiapkan keperluannya."
"Yuma ikut ya?"
"Iya ...."
...
Singkat cerita, Sore ini Laras sudah berada di bandara untuk melakukan perjalanan panjang.
"Kakak, Yuma, aku akan sangat merindukan kalian. Jaga diri kalian baik-baik ya, aku akan menunggu kedatangan kalian," ucap Laras yang merasa sangat berat untuk meninggalkan semua saudara saudaranya.
"Kami juga akan sangat merindukan kamu Laras, hik hik hik ... Kenapa kamu tidak disini saja dengan kami?"ucap Yuma yang merasa tidak rela.
"Aku harus menemani mama Sarah. Ia akan merasa sangat kesepian sendirian disana."
"Tidak papa Laras, kakak dan Yuma akan sering sering berkunjung ke sana. Kamu hati-hati ya, untuk sementara gunakan dulu tongkatnya, jangan coba-coba untuk berlari. Tunggu sampai kurang lebih 2 bulan kamu bisa mencoba untuk melepaskan tongkatnya,," ucap Raka memperingati.
"Iya kak, Laras faham. Terimakasih ya kak. Laras sangat bersyukur memiliki kakak yang yang seperti kakak Raka. Laras sayang kakak," ucap Laras sambil memeluk Raka. Semua ini sungguh sangat berat bagi mereka. Karena drama orang tua, kini mereka harus merasakan yang seharusnya tidak boleh mereka merasakan. Namun takdir menginginkan mereka untuk menjadi anak mandiri sedini mungkin, sehingga Raka, Laras dan Yuma harus bisa bersikap sedewasa mungkin untuk mengerti keadaan orang Tua mereka.
"Selamat tinggal semuaaanyaaa !!! Byeeee !!!"
"Byeeee ..." Kini Laras benar benar pergi. Mereka selalu berharap jika komunikasi mereka tidak akan putus meski jarak memisahkan mereka.
__ADS_1