Anak Genius, Milik Wanita Kurang Se-On'S

Anak Genius, Milik Wanita Kurang Se-On'S
Butuh cinta


__ADS_3

Yasmin dan Jaka langsung bergegas turun dari mobil ketika mereka telah sampai vila.


"Mama, bagaimana dengan keadaan Yuma!?"tanya Yasmin dengan cemas.


"Dia masih terus mengigau sayang ..."


"Jaka akan periksa dulu mah."


"Heeerrrgghh mama, mama, mamaaa ..." Suara Yuma yang sedang mengigau.


"Kita bawa kerumah sakit saja sekarang, dia sepertinya terkena demam berdarah," ucap Jaka terlihat sangat panik. Tanpa menunggu persetujuan dari mereka, Jaka langsung membopong Yuma.


"Bagaimana bisa dia terkena demam berdarah. Rumah ini selalu disemprot anti nyamuk !!" Mama Lauren berlari mengikuti langkah kaki Jaka yang sangat cepat.


"Kita akan tahu nanti mah, yang terpenting sekarang kita harus bawa Yuma kerumah sakit."


"Emm siapa yang mau saja yang ikut!?"tanya Jaka.


Mama Lauren langsung masuk kedalam mobil dan bersiap untuk memangku kepalanya Yuma, sedangkan Yasmin siap memangku kaki Yuma.


"Jeng, kamu disini saja dulu jagain Laras ya!?"


"Iya Jeng, terus kabari aku jika ada apa-apa!!?"


Jaka melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Beruntung malam ini jalan sangat sepi, sehingga Jaka bisa leluasa mengendarai mobilnya.


...


Malam yang sunyi, disebuah ruangan khusus, Paula menggenggam tangan yang pernah menampar wajahnya yang mulus.


"Hadirmu yang sesaat pada hari itu, seakan-akan aku merasakan waktu yang berabad-abad.


Jika ditakdirkan bersama, maka izinkanlah hati ini untuk memperbaiki segalanya.


Hiduplah dan datanglah, aku takan meminta, namun aku akan selalu menunggumu.


Bahagia tidak harus bersama, namun akan sangat membahagiakan jika kita bisa bernafas dalam satu atap yang sama.


Aku pergi bukan untuk meninggalkan, namun ku pergi untuk menanti sebuah kedatangan. Cinta sejati akan kunanti sampai Kumati." Paula menyeka air matanya dan berniat akan meninggalkan rumah sakit yang terasa sesak. Paula sempat berfikir, bagaimana ia bisa mengutarakan sebuah puitis tentang perasaan disaat seseorang dalam keadaan dalam bawah sadarnya. Namun Paula tidak ada pilihan, itu adalah keberaniannya.


Paula menanamkan niat untuk pergi dan menunggu, ia tidak mungkin berada disini untuk mengemis sebuah perasaan.


"Hey !!"teriak seorang pria terlihat sangat lemas.


Paula yang sedang akan membuka pintu tersentak ketika mendengar suara yang sangat familiar ditelinganya.


Perlahan Paula memutarkan tubuhnya untuk menatap kearah sumber suara. Mata Paula terbelalak ketika melihat seorang pria sedang tersenyum tampan kearahnya.


"Hap ..!! Paula langsung memegangi jantungnya yang seakan ingin keluar dari tempatnya. Paula dengan cepat menghadap pintu dan membukanya. Paula berasa ingin terjun dari menara Eiffel karena rasa malu yang ia rasakan.


"Aaaahh bodoh,, bodoh,, bodoh,, bagaimana jika dia mendengar celotahanku yang menjijikan ituu !! Aaaaa mamaaa papaaa toloong akuuu,, aku malu sekaliii ... Mau diletakan dimana wajahku yang menjijikan iniiii !!!" ucap Paula uring uringan sendiri dibalik pintu.


Pangeran hanya bisa tersenyum menggelengkan kepalanya. Walaupun ia sedang merasakan sakit yang tidak biasa akibat luka tembakan yang ia dapat, namun puitis dari Paula mampu mengalahkan segala bius yang ada dimuka bumi.


Pangeran hanya bisa tersenyum dan menanti kedatangan wanita yang mengoyak-ngoyak hatinya.

__ADS_1


..


Disisi lain, Yuda masih terjaga untuk menemani istrinya yang belum sadar. Sebenarnya, ketika Yuda pergi, Mumut sudah sadar.


Namun karena rasa syok yang dialami Mumut membuat dokter terpaksa memberi obat penenang kepada Mumut.


Mumut terlihat seperti orang yang tidak mengenal dirinya. Ia terlihat sangat takut ketika ia sadar. Ia selalu menanyakan dimana janin yang ia kandung meski Raka sudah menjelaskan, jika bayi yang ibunya kandung sudah lahir. Namun Mumut yang terlihat tidak sehat, tidak mendengarkan penjelasan Raka dan terus menanyakan dimana anak yang dia kandung.


Raka dan Yuda terus disibukan mengurus triple baby boy yang terlihat sangat menggemaskan.


Mereka sangat pintar, sejauh ini tidak terdengar suara rewelan mereka. Mereka hanya menangis ketika popok mereka basah atau ketika mereka haus.


Yuda menatap bayi bayinya yang masih terjaga.


"Hay anak anak papah, kalian tidak boleh nakal ya ... Soalnya mama kalian sedang sakit, jika kalian nakal, nanti mama tidak akan sembuh sembuh,,, dan kita tidak akan segera bertemu dengan kakak kalian, Yuma." ucap Yuda dengan lembut. Triple baby boy tersenyum seolah olah mereka mengerti apa yang diucapkan olah papahnya.


"Pah, mereka sangat menggemaskan ya. Mereka seolah-olah mengerti apa yang kita ucapkan," ucap Raka yang juga sangat gemas dengan adik laki lakinya yang kembar tiga sekaligus.


"Iya nak, mereka seperti kamu, sangat pintar," ucap Yuda merasa sangat senang.


"Raka, apakah lukamu sudah membaik?"


"Iya pah Alhamdulillah, ini sudah sangat mendingan. Oya pah, Raka ingin melihat ayah dulu ya?"


"Iya nak, papa akan disini menjaga adik adik dan ibumu ..."


..


Raka menatap seorang wanita yang terlihat sangat aneh didepan pintu kamar ayahnya.


"Ah Raka, kamu menganggetkan saya saja," ucap Paula sambil mengelap keringat dingin yang bercucuran di dahinya.


"Kak Paula ngapain berdiri disini? Ayah sudah sadar belum?"


"Ah dia masih didalam," ucap Paula terlihat gugup. Raka menaikkan kedua alisnya, ia merasa curiga dengan gerak gerik Paula.


"Raka akan masuk kak," ucap Raka.


"Iya masuk saja," ucap Paula memaksakan senyumannya.


"Tapi pintunya ..." Paula yang merasa dirinya telah menghalangi pintu langsung menggeserkan kakinya dengan berat. "Hehehehe ..." Senyum canggung Paula.


Raka hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh Paula. Ketika Raka masuk, Paula mencoba ikut mengintip dari balik pintu yang masih sedikit terbuka.


Pangeran yang mendengar anaknya datang. Langsung memejamkan matanya kembali.


"Ayah, apa ini sangat sakit? Lekaslah sadar dan kembali kepada kami ayah? Raka Sangat mencintai ayah." Raka mengecup kening Pangeran dengan lembut. Namun ketika Raka mencium kening ayahnya, ia tidak sengaja melirik pintu dan melihat disana ada Paula yang mengintip dari baliknya.


Raka merasakan ada yang aneh. Raka menatap lekat lekat mimik wajah ayahnya.


"Apa ada sesuatu diantara mereka!?" batin Raka menduga duga. Raka hanya tersenyum tipis dan meninggalkan dua sejoli yang sedang malu malu meong.


Melihat Raka akan keluar, Paula langsung menghindar dari pintu.


"Kak Paula, jika kakak tidak keberatan, tolong kak Paula jagain ayah sebentar ya, Raka akan membantu Papah Yuda untuk menjaga adik adik Raka," ucap Raka sopan.

__ADS_1


"Ah, iya Raka. Kamu tenang saja, aku akan menjaga ayah kamu sampai ia sadar," ucap Paula terlihat seperti orang sedang merasa bingung sendiri.


Raka tersenyum dan pergi meninggalkan Paula.


Paula kembali mengintip Pangeran, ia ingin mencoba memastikan sesuatu.


"Bukankah tadi dia sudah sadar!? Apa aku tadi sedang menghalu !?"


Perlahan Paula mendekati Pangeran yang sedang terpejam dengan rapat.


Paula semakin mendekatkan kakinya kesamping ranjang Pangeran. Ia sangat penasaran, apakah dia halu atau Pangeran sedang mengerjai dirinya.


Paula mendekatkan wajahnya kewajah Pangeran hanya untuk mengecek apakah nafas Pangeran berkerja dengan normal.


Namun tidak disangka-sangka, tiba tiba mata Pangeran terbuka lebar lebar. Paula yang melihat mata tajam Pangeran membelalak sangat terkejut sampai sampai dia tidak sengaja menakan luka Pangeran.


"Aaahhhkkk !!"teriak Pangeran meraung kesakitan.


"Haaaahh !!! Maaf maafkan saya tuan, maaf kan saya!? Saya benar benar tidak sengaja !!?" ucap Paula sambil memundurkan kakinya sambil menunduk.


Paula benar benar tidak sanggup untuk menatap wajah Pangeran. Ia mencoba kabur kembali namun Pangeran menahannya.


"Temani aku disini, aku mohon. Jika kamu tidak meminta, maka aku yang akan meminta," ucap Pangeran terdengar sangat tulus ditelinga Paula.


"A-apa kamu mendengar kata kata menjijikan itu?" tanya Paula ragu ragu.


"Menjijikan !!?" Pangeran terlihat berfikir.


"Itu sama sekali tidak menjijikan, itu terdengar sangat manis. Karena puitis yang kamu ucapkan, aku seperti tertarik dalam sebuah medan magnet yang membuat aku kembali dari alam sadarku ...."


Paula memejamkan matanya dan tersenyum menahan gombalan basi yang telah dilontarkan oleh Pangeran.


Paula menutup mukanya dan memutar-mutar beberapa kali ditempat ia berdiri.


"Hahahahaaaaa !!! Kamu ini ya, masih sakit masih saja bisa gombal seperti itu," ucap Paula sambil bersandar di pintu.


"Terima kasih ya!?"


"Terima kasih untuk apa?"


"Terima kasih telah menerima aku?"


"Plis jangan buat aku terlihat menjijikan !!"


"Baiklah, aku tidak akan membahas itu lagi. Aku yang akan memulainya ..."


"Caranya !?"


"Tolong ambilkan aku segelas air, aku sangat haus," ucap Pangeran terlihat memohon.


Paula tersenyum tidak percaya dan menggelengkan kepalanya. Ia melepaskan sandarannya pada dinding pintu dan berjalan kearah meja, ia mengambilkan segelas air untuk Pangeran yang terlihat bibirnya telah kering karena kehausan. Entah kehausan air atau kehausan cinta, namun Paula terlihat tulus membantu Pangeran untuk melepaskan dahaga yang mengering selama ini.


...


budayakan like sebelum lanjut ke BAB berikutnya 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2