Anak Genius, Milik Wanita Kurang Se-On'S

Anak Genius, Milik Wanita Kurang Se-On'S
Merindukannya


__ADS_3

Dibawah guyuran hujan, Pangeran berjalan dengan tegap sambil mengepalkan tangannya menuju pintu kediaman Tuan Guan.


Rambut basah, baju basah, tubuh yang basah, Pangeran mencoba mengendalikan diri. Ia mengambil nafas dalam dalam dan menata hati untuk bertemu dengan ayah dari wanita yang kini sudah memporak-porandakan hatinya.


Tok .. Tok ...


Tuan Guan dan istrinya yang sedang menikmati kopi hangat dibuat gerak untuk menghampiri suara ketukan pintu.


"Papa saja mah, mama lanjutkan saja bersantainya," ucap Tuan Guan.


"Terima kasih sayang," jawab Mama Uni.


Tuan Guan berjalan dengan santai menuju pintu.


'Ceklek... Tuan Guan terbelalak melihat tamu yang sudah basah kuyup berdiri depan pintu rumahnya.


"Tuan Pangeran! Apa yang membuat anda datang kemari disaat sedang hujan seperti ini!?"tanya Tuan Guan terkejut.


"Boleh kita bicara didalam?"tanya Pangeran yang sedang menahan dingin.


"Oh iya, silahkan masuk Tuan."


Pangeran masuk namun masih berdiri, ia merasa tidak enak jika duduk di kursi dengan keadaan tubuh yang basah kuyup.


"Ah, saya ambilkan handuk dulu ya Tuan. Anda duduk saja dulu tidak papa," ucap Guan dengan cepat berlari kekamarnya.


Tuan Guan mengambil handuk dan baju santai untuk Pangeran.


"Emm Tuan, ini saya ada baju yang belum pernah saya pakai karena kekecilan. Saya harap anda bersedia memakai ini," ucap Tuan Guan dengan hormat.


Pangeran dengan ragu menerima pakaian itu.


"Disana kamar mandinya Tuan," ucap Tuan mengarahkan jarinya kearah barat.


"Terima kasih Tuan," ucap Pangeran sopan.


Mama Uni menghampiri Suaminya.


"Siapa pah?"


"Itu, Tuan Pangeran mah."


"Pangeran, anak dari Jeng Ratu?"


"Iya mah."


"Ada perlu apa dia datang disaat hujan-hujan seperti ini?"tanya Mama Uni heran.


"Papa juga tidak tahu, soal perusahaan sepertinya tidak ada Masalah," jawab Tuan Guan yang juga merasa bingung.


Ketika sedang dalam kebingungannya, Pangeran sudah berdiri di belakang mereka.


"Maafkan saya Tuan, Nyonya, jika kedatangan saya menganggu," ucap Pangeran membuat Tuan Guan dan istrinya terkejut.


"Oh, Tidak papa Tuan Pangeran. Silahkan duduk dulu," ucap Tuan Guan Ramah.


Pangeran duduk. Pakaian yang mama Uni beli untuk suaminya sangat pas ditubuh Pangeran. Tante Uni tetap terjaga menatap Pangeran yang sangat terlihat tampan.


Sweater berwarna Pink dan lengan panjang yang dinaikan keatas membuat penampilan Pangeran benar benar maco dimata mama Uni.


Pangeran Sebenarnya sedikit kurang nyaman dengan pakaian yang sedang ia pakai, ia menunjukkan gerak gerik yang sedikit canggung membuat Tuan Guan menyadari sesuatu.


"Mamah !!"panggil Tuan Guan dengan suara yang tertahan.


"Ah iya !?"tanya mama Uni yang terkejut.

__ADS_1


"Buatkan tuan Pangeran minuman hangat, cepat !!"


"Oh iya ya,, Emm nak Tuan tampan mau minum apa?"tanya mama uni dengan sangat ramah.


"Apapun akan saya minum Nyonya," jawab Pangeran dengan sedikit kikuk.


"Uuuhh manisnya,,,,. Baiklah, saya buatkan teh hijau mau?"


"Tidak papa Nyonya."


"Panggil saya Mama saja, jangan Nyonya," ucap Mama Uni membuat Tuan Guan membelalakan matanya.


"Mamaah !!"


Mendengar suaminya mulai berdecak mama Uni langsung berlari kearah dapur.


"Huh, kenapa semua pelayan liburnya barengnya sih," umpat mama Ini kesal. Padahal ia sendiri yang menyuruh semua pelayan untuk mengambil cuti.


.


"Ah Tuan Pangeran, tolong maafkan sikap istri saya sedikit lebay itu, hehehehe,," ucap Tuan Guan merasa tidak enak .


"Ah iya Tuan tidak papa. Emm panggil saya Pangeran saja Tuan."


"Ah ya ya, dan panggil saya Om saja jika seperti itu," jawab Om Guan dengan senyum.


"Baiklah,Om."


"Emm nak Pangeran, jika boleh tahu apa yang membuat anda datang kerumah saya disaat hujan hujan seperti ini?"


"Emm, begini om. Saya,,, saya,,," Pangeran ragu.


Tuan Guan masih terus menyimak apa yang ingin dikatakan oleh Pangeran.


"Ah nak Pangeran, ini teh hangatnya," ucap Mama Uni memberikan Teh yang ia buat.


Om Guan dan Mama Uni tercengang melihat tingkah Pangeran yang terlihat aneh.


"Ah Tante, teh ini enak sekali," ucap Pangeran yang merasa gugup.


Padahal sebenarnya teh yang ia minum rasa manisnya terlalu menyengat. Mungkin Tante uni memberikan gula satu kilo dalam satu gelas teh.


"Ah, hahahahaa kamu bisa saja nak. Baru kamu loh yang memuji teh buatan Tante enak," ucap Mama Uni yang merasa tersanjung.


Tuan Guan yang merasa ada yang tidak beres mencoba untuk serius.


"Nak Pangeran, jelaskan pada kami. Ada apa sebenarnya ini?"tanya Tuan Guan yang terlihat sangat tegas saat ini.


Pangeran mendudukkan kepalanya sesaat sebelum akhirnya ia menatap tajam kearah Tuan Guan.


"Ayolah Pangeran, kamu harus menjadi pria yang gentleman."


"Om,Tante. Saya dan putri anda Paula kini telah menjalin sebuah hubungan yang sangat rumit. Karena kebodohan saya, kini Paula pergi jauh meninggalkan saya. Saya berniat ingin mengejarnya meski sampai keujung langit sekalipun. Saya mohon maaf atas tindakkan saya yang telah menyakiti hati Putri om dan Tante. Jika diperbolehkan, izinkan saya menemui Paula Om, Tante. Kemana saya harus menjemput Paula?"ucapan Pangeran yang terdengar sangat tulus.


Tuan Guan dan Mama Uni tercengang mengetahui ternyata selama ini putrinya telah menjalin hubungan dengan Pangeran.


"Ah hahaha, sudah saya katakan waktu itu to nak Pangeran. Bahwa kalian itu cocok," ucap Tuan Guan yang merasa senang.


"Uuuhh kalian memang pasangan termanis yang pernah Tante temui. Paula waktu itu memang sempat pergi ke Jepang," ucap Mama Uni.


"Apa Jepang!? Jadi selama ini Paula pergi kesana?"tanya Pangeran terkejut.


"Iya dia memang sempat pergi kesana, tapi ...."


"Boleh saya minta alamatnya Om, Tante? Dimana alamat Paula di Jepang!?"tanya Pangeran yang memotong ucapan Om Guan karna ia terlalu bersemangat.

__ADS_1


"Dia pergi kesana untuk menghadiri pernikahan sepupunya, dan ...."


"Boleh saya minta alamatnya?"tanya Pangeran yang lagi lagi memotong ucapan Om Guan. Karena kesal, akhirnya Om memberi alamat rumah saudaranya yang berada di Jepang.


"Hemm,, ini alamatnya. Tapi ..."


"Saya akan segera membawa Paula pulang om. Om bisa serahkan semua kepada saya," ucap Pangeran yang lagi lagi memotong ucapan Om Guan.


Om Guan ingin menjelaskan sesuatu, namun dihalangi oleh Mama Uni.


"Ah iya nak Pangeran, semoga kamu bisa dapat membujuk anak nakal itu untuk pulang ya," ucap Mama Uni bersemangat.


"Baik Tante, Om, terimakasih banyak atas dukungan kalian. Saya pamit dulu," ucap Pangeran mencium tangan om Guan dan Mama Uni.


Setelah itu, Pangeran langsung pulang kerumah untuk menyiapkan segala keperluan untuk pergi ke Jepang.


.


Mama Uni dan Om Guan yang tidak tahan langsung tertawa terbahak bahak.


"Hahahahaaa lihatlah pah itu si Pangeran. Dia sangat menggemaskan sekali, hahaha," ucap Mama Uni merasa sangat senang karena telah mengerjai Pangeran.


"Heeemm,,, papa baru tahu, ternyata orang telah membuat putri kita murung dari sebulan lalu adalah Nak Pangeran," ucap Om Guan merasa sedikit lega.


Disaat mereka akan masuk kedalam, Tuan Guan dan Mama Uni dikejutkan oleh Paula yang berdiri mematung di belakang mereka.


Rambut Paula terlihat acak-acakan dan terdapat lukisan air liur diwajahnya, membuat penampilannya sangat mengerikan.


"Oh ya tuhan Lala !! Kamu menganggetkan mama saja !!?"ucap Mama Uni yang terkejut melihat penampakan putrinya yang aneh.


"Kalian ngapain berada didepan hujan hujan begini?"tanya Paula mengintimidasi.


"Ah kami tadi hanya ingin menghirup udara segar," ucap Tuan Guan yang membohongi putrinya.


"Hemm ada ada saja mama papah ini. Oya mah, tolong nanti panggilkan tukang pijat yang biasa ya. Badan Lala terasa remuk setelah melakukan perjalanan panjang dari Jepang," ucap Paula sambil memijat mijat pundaknya.


"Loh, kamukan sudah pulang dari seminggu yang lalu, dan pekerjaan kamu setelah pulang dari Jepang hanya dari kamar ke dapur! Kamar ke dapur !! Ini adalah sebuah kemajuan karena kamu berjalan sampai ruangan tamu !?"sindir mama uni.


"Auh, ya mungkin badan Lala terasa sangat lelah karena kebanyakan tidur selama satu Minggu ini," ucap Paula lemas sambil berjalan kembali masuk ke dalam kamarnya.


.


Mama Uni dan Om Guan hanya bisa menahan tawa mereka karena berhasil mengerjai Anaknya dan calon mantunya.


"Pah, sepertinya kita harus membicarakan ini dengan jeng Ratu," ucap Mama Uni merasa tidak sabar menjodohkan Paula dan Pangeran.


"Jangan buru-buru mah, kita tidak tahu permasalahan mereka apa sehingga Lala menghindari Pangeran sampai satu bulan," ucap Tuan Guan dengan bijak.


"Hemm, iya juga ya. Ya sudahlah, kita tunggu nak Pangeran pulang dari Jepang. Hahahaa,, dia itu sangat tidak sabaran sekali, orang lagi bicara di potong ! Lagi bicara di potong! Hemm, biar dia berjuang sedikit untuk mendapatkan putri kita," ucap Mama Uni yang merasa gemas dengan sikap Pangeran.


"Mamah ini sukanya mengerjai orang, kasihan dia mah," ucap Tuan Guan merasa tidak enak.


"Sudahlah pah, biarkan saja dulu. Kita juga harus mendandani putri kita supaya tidak menjijikkan seperti itu. Hemm ,,, jika tadi Pangeran langsung bertemu dengan Lala, dia pasti langsung merasa sangat ilfil dengan Lala yang jorok seperti itu ,,!"


"Hemm terserah mama saja, papa tidak ingin ikut-ikutan," ucap Tuan Guan yang langsung meninggalkan istrinya yang sedang menghalu tentang pernikahan putrinya dengan Pangeran.


Didalam kamarnya, Paula menatap handphone'nya yang tiada satupun panggilan dari Pangeran sejak satu bulan yang lalu.


Ia menatap nama Pangeranku di layar handphonenya yang dalam hitungan detik akan mati karena Lowbet.


3,2,1,,, kliiing ... Handphone Paula akhirnya benar benar mati dengan sempurna.


Ia menjatuhkan tubuhnya kekasur yang sangat berantakan. Air mata mengalir begitu saja. Ia menatap langit-langit dan mulai meratapi nasibnya.


"Akankah perawan tua akan menjadi gelarku, hik hik hik ...?"batin Paula merasa sangat pilu.

__ADS_1


...


jangan lupa follow dan like sebelum lanjut ke BAB selanjutnya 🙏


__ADS_2