Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!

Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!
(Season2) Pertemuan yang menegangkan


__ADS_3

Rio mencek semuanya termasuk riwayat pendidikan Kai. "Tunggu dulu universitas Dunia? Bukankah Mikael juga.., berada di fakultas yang sama?


Sudah kuduga Mikael dan Kai pasti, memiliki hubungan dekat sebelumnya. Menurut dugaan ku pasti mereka dulunya adalah teman dekat. Mikael yang dulunya kutu buku, tidak mungkin berubah tiba-tiba dengan sendirinya.


Apalagi dia itu sifatnya sulit dirubah karena keras kepalanya. Jadi mungkin Kai ini adalah sahabat Mikael dan mereka berselisih satu sama lain (?)


Mengungkap kasus orang yang masih hidup lebih rumit jika tidak ada petunjuk-petunjuk yang kuat. Kalau begitu aku harus beralih mencari Angga Dirgantara. Tentang status pindah kewarganegaraan."


Rio mengeluarkan komputernya dari web sebelumnya dan memasuki web selanjutnya. "Web data Emigrasi." Rio langsung mengklik tombol enter di keyboard nya.


"Angga Dirgantara." Dalam kolom pencarian Rio mengetikan nama Angga Dirgantara, namun sesuatu terjadi pada komputernya.


"Tidak Ada Akses?" Rio kebingungan yang bisa mengakses data negara dengan nama Angga Dirgantara hanya para pejabat tinggi saja.


"Kenapa kata hatiku mengatakan bahwa Angga Dirgantara ini sangat berbahaya dan tidak boleh di usik keberadaannya. Begitu aku melihat ini, sepertinya ada sesuatu yang ia rencanakan.


Aku harus mencari, Data orang asing yang datang memasuki negara ini. Firasat ku mengatakan bahwa orang ini tidak lama lagi akan muncul dihadapan kami semua."


***


Disisi lain di jembatan penghubung kota S dan Z. Sebuah jembatan yang besar namun sepi. Karena banyak sekali penyerangan di jembatan itu mengakibatkan orang-orang berpikir dua kali untuk melewatinya.


Bahkan beberapa polisi yang menyelidiki kasus di jembatan ini tidak pernah selesai, mereka selalu menghilang di tengah tugas mereka. Entah mereka menghilang karena kabur karena ancaman dari pelaku atau mereka tewas karena pelaku.


Angin besar menerpa di sekitar jembatan. Kini berdiri dua orang pria dengan setelan jas yang berbeda, yang satu menggunakan setelah jas berwarna merah dan yang satunya lagi menggunakan Jas biru dengan pola garis vertikal di jasnya.

__ADS_1


Rambut yang sudah ditata dengan rapih itu menjadi berantakan karena terpaan angin besar dari jembatan itu. Masing-masing dari pria itu membawa mobil dan beberapa senjata api di dalam sakunya.


Mobil yang terparkir menghalangi jalan masuk jembatan, terlihat jelas dengan cat berwarna merah mengkilap dengan sedikit hitam yang memperindah mobil itu dan pemilik mobil itu adalah pria yang menggunakan jas berwarna merah. Karena mobil itu berdiri tegak berada di belakangnya.


Sedangkan mobil yang terparkir lurus di sisi ujung masuknya kendaraan dari kota S memiliki warna hitam dengan sedikit warna kuning, merupakan mobil sport yang paling mahal dan sangat diidamkan bagi para pecinta mobil itu milik pria dengan setelan jas berwarna biru dengan pola garis vertikal.


"Sudah lama ya Kai!!!!" Pria dengan setelan jas merah itu memanggil pria dengan setelan jas biru dengan garis vertikal.


Rambut mereka tampak tidak jauh berbeda hanya saja orang yang ber-setelan jas merah itu sedikit berwarna coklat terang seperti rambut Aya.


"Kakak, sudah lama ya." Pria dengan jas biru itu tersenyum bersama dengan kedua matanya. namun dalam dirinya timbul rasa was-was dan bersiap untuk mengeluarkan senjata api miliknya..


"Bagaimana rasanya setelah kau menguasai seluruh keluarga Dirgantara?" Pria dengan setelan jas merah itu sama sekali tidak merubah ekspresinya.


"Bagaimana dengan kakak? Setelah menjadi mafia nomor satu di dunia, bukankah seharusnya kau sibuk?" Pria dengan jas biru terlihat begitu ramah dengan wajah palsunya, namun sebenarnya hasrat ingin membunuh timbul begitu pria jas merah itu menyinggung nama keluarganya.


"Kakak, entah apa yang kau pikirkan. Kau juga berasal dari keluarga utama Dirgantara."


"Tapi sekarang tidak lagi, aku sudah memiliki keluarga ku sendiri disana."


"Maksudmu keluarga palsu? Suatu saat kau akan merasakan bagaimana mereka mengkhianati mu. Aku pergi dulu kak."


Pria dengan setelan jas biru itu membalikan badannya pergi menuju mobil miliknya.


"Tunggu!" Pria jas merah itu menghentikan langkah pria jas biru itu dengan teriakannya itu.

__ADS_1


"Tidak sopan, kakak sedang berbicara. Kau jadi lebih sombong saat kakek mu meninggal. Bukankah seharusnya tidak begitu?" kata-kata pria dengan jas merah itu membuat pria dengan jas biru itu terbelalak kaget mendengarnya.


"Dia itu hanya boneka dan aku sendirilah yang membunuhnya."


"Kau hebat sekali, memanfaatkan kekuatan kakek mu lalu membuangnya begitu saja. Nampaknya aku tidak begitu asing dengan hal ini. Apakah hal itu kau lakukan padaku juga?"


Pria jas merah itu berhasil memancing emosi yang terpendam oleh sosok pria jas biru itu dengan berhasil membuatnya berbalik kearahnya kembali.


"Hahaha, kau itu terlalu naif. Dari dulu orang yang membuat ibuku masuk rumah sakit jiwa adalah kakek itu. Jadi untuk apa aku berbelas kasih saat waktunya sudah tepat." Pria dengan jas biru itu mengatakan hal yang begitu mengerikan itu dengan senyumannya yang lebar.


"Bagaimana denganku, apa alasan kau mengasingkan aku ke negara asing?" Pria jas merah itu sungguh menantikan alasan yang kuat untuk mengurungkan niat membunuhnya pada pria berjas biru itu.


"Karena kau sudah tidak berguna, aku masih berbaik hati membiarkanmu hidup disana. Ide-ide gila mu itu membuatku sedikit resah. Jadi mengasingkan dirimu ke negara lain adalah pilihan terbaik."


"Jadi begitu ya alasanmu membuang ku. Kalau begitu aku akan pulang, sampai jumpa lain waktu. Ketika itu persiapkan kematian mu yang sesungguhnya.


Tunggu kematian mu setelah aku mengurus keluarga yang menyusahkan, di negara ini. Aku harap kau tidak mencampuri urusanku dengannya."


Pria dengan jas merah itu berbalik pergi lebih dulu. Meninggalkan pria dengan setelan jas biru.


"Apa kau akan menyerang keluarga keduaku? Keluarga Gumelar?" Pria jas biru itu kini menampakan sosok aslinya yang sedang kesal dan dendam oleh pria berjas merah itu.


"Aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu, yang pasti cepat atau lambat aku akan menaklukan keluarga itu. Tapi tidak untuk sekarang, aku sedang mencari anak bernama Arya Dirgantara."


Pria dengan jas merah itu pergi setelah mengatakan kata-kata itu dengan mobil berwarna merah miliknya. Sedangkan perasaan tidak tenang akan sesuatu terjadi pada pria dengan setelan berjas biru itu.

__ADS_1


"Kau gila! Bahkan keponakan mu sendiri kau akan membunuhnya. Orang gila psikopat sepertimu seharusnya aku sudah membunuhmu dari sejak dulu."


__ADS_2