Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!

Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!
Pria Aneh


__ADS_3


Pria itu menepikan mobilnya dan berhenti di sisi jalan yang lumayan cukup sepi. Pria itu bersiap melepaskan sabuk pengamannya lalu keluar dari mobilnya dan kembali menutup mobilnya itu.


Pria itu berjalan menuju ke arah belakang bagasi, untuk menanyakan satu hal saja pada Giovanni. Ia pun membukakan bagasi mobilnya dan mengeluarkan Giovanni yang asli dari bagasi itu.


Walaupun tubuh pria itu lebih agak sedikit lebih kecil dari Giovanni namun nampaknya tenaganya lumayan cukup kuat untuk menyeret Giovanni ke dalam mobilnya dengan satu tangan.


Giovanni tampak meronta-ronta, namun semua tubuhnya diikat oleh Pria itu ia tidak bisa melakukan perlawanan. Apa lagi pria dengan berjas merah itu adalah seorang keluarga utama yang memiliki kekuasaan lebih daripada Giovanni yang hidupnya hanya bisa menempel pada Mikael yang merupakan kakak besar dari Mafia keluarga Gumelar.


Giovanni dimasukan secara paksa kedalam mobil bagian belakang oleh pria itu, ia pun kembali ke kursi kemudi dan memasang kenali sabuk pengamannya.


"Oi, bangs*t dimana Mikael sekarang?" Sebelum menyalakan mobilnya kembali, pria itu bertanya pada Giovanni dimana Mikael. Aya tidak menyangka ternyata pria yang ada di sebelahnya adalah pria yang sangat bodoh, bagaimana bisa Giovanni menjawabnya jika mulutnya masih dia ikat.


"Hei, Apakah benar-benar bodoh? Kau tidak membuka ikatan di mulutnya bagaimana bisa dia berbicara." Aya terheran-heran. Apakah benar orang ini adalah orang yang bisa diandalkan. Sifat cerobohnya bahkan melebihi sifat ceroboh Aya, menurut pikiran yang ada di dalam kepala Aya.


"Kau benar, tapi kita tidak perlu itu." Pria itu membalikan badannya, dan meraih kerah pria itu dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan satunya sibuk memeriksa semua kantung saku di Jas, kemeja sampai celananya Giovanni. "Hei, dimana kau menyimpan ponsel mu?" Pria itu membentak Giovanni. "Kau mulai tidak menurut pada kakak ya?" Pria itu mencubit pipi Giovanni, sambil menjahilinya.


Aya benar-benar tidak mengerti dengan orang gila yang ada di sebelahnya ini, Aya benar-benar meragukan bahwa dia adalah seorang mafia keluarga utama. "Apakah kau sudah gila? Ponselnya tentu saja ada di saku bagian dalam jasnya." Aya memegangi keningnya, karena sudah tidak tahu lagi bagaimana ia menghadapi orang yang sangat gila ini.

__ADS_1


Pria itu mendengarkan kata-kata Aya, dan ternyata benar ponsel pria itu ada di saku jas bagian dalam. Pria itu langsung mengambilnya, sedangkan Giovanni terus menerus meronta-ronta agar dilepaskan.


"Hei, dia sepertinya ingin mengatakan sesuatu." Aya penasaran dengan Giovanni yang berteriak namun mulutnya masih di tutup. "Bisakah kau melepaskannya?" Aya merasa sedikit iba melihat Giovanni di perlakukan seperti itu.


Pria itu sibuk membukakan kunci layar ponsel Giovanni. "Hei, wanita gila bisakah kau membukakan ponselnya?" Pria itu benar-benar tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Aya sama sekali, ia hanya sibuk mengotak-atik ponsel yang terkunci itu.


Aya merebut ponselnya, padahal Aya sendiri tidak bisa. Satu-satunya orang yang paling mahir adalah Arka, namun Aya tidak mungkin memanggilnya hanya untuk membukakan ponsel orang, sedangkan pemiliknya ada dihadapannya. "Kau harus menggunakan sidik jari pria ini." Untungnya Aya masih punya akal sehat untuk memikirkan hal yang paling memungkinkan untuk dilakukan sekarang.


"Kalau begitu aku harus memotong jarinya yang mana?" Pikiran ekstrim orang yang benar-benar gila tidak setengah-setengah. Membuat Aya menjadi ngeri sendiri mendengarnya.


"Kau lepaskan saja dia." Aya menyarankan hal yang paling tersingkat yang bisa dilakukan, agar mereka bisa cepat sampai pada tujuan utama mereka.


"Bangs*t!!!!!!!! Apa-apaan kau melakukan ini hah? +##-@&@_@-#&++#&@-" Perkataan umpatan yang secara berturut-turut terlontar dari mulut Giovanni membuat Aya menjadi terdiam kaku.


"Jadi ini maksudmu untuk berhati-hati?" Aya menyalakan pada Pria itu yang hanya bisa tertawa keras setelah melihat Aya yang benar-benar mendengarkan kata-katanya. Juga mendengar umpatan yang dilontarkan Giovanni padanya.


"Hahahahahahahahaha, aduh perutku sakit sumpah!" Pria itu tertawa sangat keras sampai terpingkal-pingkal. Karena berhasil menjahili keduanya.


Wajah merah padam Giovanni benar-benar membara seolah-olah seperti akan meledak. Itu karena ia sangat marah sekali pada Pria yang identitasnya tidak jelas itu. "Bangs*t! Balikin Ponsel ku!" Giovanni meminta ponselnya untuk di kembalikan padanya namun tentu saja pria itu menolak.

__ADS_1


Pria itu langsung mengarahkan jari telunjuknya pada dahi Giovanni. Lalu menyentil dahi Giovanni dengan sangat keras sampai membekas. Giovanni hanya bisa memegangi dahinya yang sangat kesakitan itu.


"Berikan sidik jarimu!" Mata pria itu melotot tajam pada Giovanni, seperti seorang kakak yang tengah mengintrogasi adiknya sendiri yang telah melakukan kesalahan.


"Apakah kalian ini adik-kakak?" Aya penasaran walau wajah mereka agak sedikit berbeda bisa saja dia seperti kakaknya Kai dan Aya yang hanya berbeda Ibu. Karena mereka benar-benar terlihat sangat dekat.


Giovanni menurut begitu saja saat pria itu menatapnya dengan tajam dan dingin. Akhirnya ponselnya bisa terbuka berkat sidik jari yang diberikan oleh Giovanni sendiri. Pria itu segera melihat pesan dan telpon yang masuk berasal dari Mikael yang begitu banyak.


Namun pesan yang diberikan oleh Mikael menunjukan posisinya, pria itu langsung menancap gasnya dengan kecepatan tinggi, skill berkendaranya tidak kalah dari Mikael ia begitu mahir berbelok dan menyalip mobil lain dengan kecepatan monster seperti itu. Namun hal itu membuat Aya merasa sangat pusing seolah-olah sedang menaiki rollercoaster. Aya hampir saja muntah di dalam mobil Dangan kecepatannya seolah-olahyang membelah kota dengan mudah.


...***...


Giovani masih saja belum mengangkat telponnya. Terpaksa Mikael bertindak sendiri, namun ternyata Mikael juga membawa lima buah anak buahnya yang berhasil menyusulnya ke tempat Billiar itu.


Mikael memasukan pistolnya dalam saku celananya sambil bersiap untuk menembakan pistol tersebut dengan peluru yang sudah ia isi dan juga beberapa amunisi cadangan yang sudah ia siapkan untuk ini.


Mikael pun berjalan dengan kaki jenjangnya dengan penuh kewibawaannya sebagai seorang bos mafia yang sangat berkuasa di negara ini. Mikael berjalan dengan tenang dan penuh kharisma yang terpancar membuat orang di sekitarnya terpesona, dengan ketampanan dan pesona kharismanya itu.


Seorang penjaga pintu tempat Billiar itu mencoba menghadang Mikael, namun Mikael tidak bisa menunda amarahnya lagi, ia pun dengan gegabah menembak kepala penjaga pintu itu dengan pistol yang sebelumnya ia simpan di saku celananya.

__ADS_1


Dengan tanpa ekspresi dan merasa bersalah Mikael meninggalkan mayat penjaga pria itu tergeletak begitu saja bahkan anak buahnya yang lain tidak di perintahkan untuk membereskannya. Mikael terus masuk kedalam tempat itu.


__ADS_2