
"Jangan bergerak!" Seru Rio sambil mengacungkan pistolnya pada Reino Gumelar.
"Ouch, Ouch, ouch. Lucu sekali Rio kau mau mengancam Kakek yang sudah membesarkan mu? Kau itu sudah di buang oleh orang tua mu."
"Itu tidak benar!" Teriak Geo.
"Kaulah! Kaulah yang yang kesana kemari menghasut semua keluarga Gumelar untuk melakukan hal yang kau inginkan selama ini." Sambung Geo yang geram dengan keberadaan Reino yang selama ini selalu memecah belah keluarganya sendiri bahkan beberapakali membuat Mikael dalam situasi berbahaya.
"Sudahlah, Geo! Kau serahkan saja semua ini pada Rio." Mikael dengan tenang dan angkuh itu mengatakan hal dengan nada yang sangat menyebalkan di telinga Reino.
"Berisik kau Mikael! Kalian pun para polisi tidak mungkin bisa menangkap ku! Bukti! Kau tidak punya bukti yang kuat bukan?" Reino dengan nada marahnya.
"Bukti yang kuat? Sepertinya bos Phanter ini sedang bermain-main dengan kami ya?" "Untuk Apa kami kemari jika tidak membawa bukti untuk menangkap mu. Aku sudah melihat semuanya di dalam file ini." Mikael mengacungkan sebuah flashdisk yang berisikan salinan dari semua bukti kejahatan Reino di masa lalu.
Bahkan didalam itu terdapat sebuah pengakuan dari salah satu bawahannya, namun sebelum di bunuh ia sempat mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Reino.
Mulai membunuh Andi Gumelar di dalam rumah sakit, bahkan bisnis narkoba yang dilakukannya selama ini dengan menggunakan atas nama adiknya sendiri. Bahkan jumlahnya tidak terhitung, maka dari itu file itu akan di selidiki lebih lanjut oleh kepolisian.
"Hahaha, apa kau berusaha menipuku?"
Reino begitu tidak gentar dengan ancaman yang diberikan oleh Mikael dan Rio. Diam-diam Geo memerhatikan gerak gerik Reino. Tangan kiri Reino diam-diam mengambil sebuah pistol.
"Sudahlah kek akui saja kesalahan mu itu." Ujar Rio.
"Baiklah, sementara waktu aku akan mengalah padamu tetapi jika file itu terbukti bahwa aku tidak bersalah, maka kau akan Kakek hukum."
Reino berpura-pura menyerahkan dirinya pada Rio, namun dalam hatinya lain. Ia memiliki rencana lain untuknya agar ia bisa kabur.
Rio pun mendekat dengan sebuah borgol besi ditangannya. Ia hendak mengikat Reino dengan borgol besi itu. Namun tak di sangka saat Rio mendekat, Reino dengan menggunakan tangan kirinya hendak menembak Rio dan
DOR!!!!
Sebuah peluru melayang kearahnya dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata.
__ADS_1
Brugh ...
Seketika itu juga sebuah tubuh yang ambruk terkena tembakan dari peluru yang di layangkan oleh Reino.
Semuanya terbelalak terkejut dengan aksi yang dilakukan oleh Reino. Akhirnya semua polisipun bertindak dan menembaki pasukan Reino, namun merekapun juga melawan dengan menembak balik para polisi itu.
Situasinya menjadi sangat Kacau, Giovanni yang sedang bersama Arya itu tiba-tiba saja airnya matanya meleleh membasahi seluruh wajahnya.
"Ti..,ti....ti...TIDAAAAAAAK! KAKAK!"
Teriak Giovanni yang melihat tubuh Geo yang bersimbah darah demi melindungi Rio.
Tubuh Mikael bergetar hebat, ia benar-benar lengah. Untuk kesekian kalinya ia lengah lagi dan lagi. Tangannya gemetaran. Untuk kesekian kalinya ia kehilangan orang-orang didekatnya.
"Papa bos!" Teriak Arka dari sudut ruangan.
Mikael pun tertegun, dan menyeka air matanya yang menetes itu.
Dengan gesitnya Mikael menembak seluruh pasukan Reino untuk membantu polisi dan menangkap Reino yang hendak melarikan diri itu.
Rio terduduk membeku. Melihat Geo yang terbaring lemah di hadapannya. Air matanya meleleh tidak karuan. Perasaan campur aduk yang tak bisa ia definisikan.
"Mi..kaa..el...!" Suara lirih dan lemas dari Geo menyuruh Mikael untuk mendekat padanya.
Mikael pun mendekati tubuh Geo yang terbaring lemas itu.
"Ada apa, kak!?"
Giovanni yang berlari mendekat itu pun lalu mengguncang-guncangkan tubuh Geo yang sudah lemas itu.
"GIO! DIAM!" Mikael marah dengan sikap Giovanni yang seperti itu.
"Mikael silahkan gunakan adikku untuk melindungi keluarga kita, tapi sebagai gantinya kau harus melindungi mereka."
__ADS_1
Ambulan tiba-tiba datang, karena salah satu anggota kepolisian sudah menelponnya sejak Geo terkena tembakan itu. Para perawat yang bergerak dengan cepat itupun membawa tubuh Geo keatas tandu.
"Mikael! Aku beritahu satu rahasia lagi.. Kai.. masih hidup-"
Geo pun tidak sadarkan diri saat para perawat itu pergi keluar untuk membawa Geo kedalam ambulan. Rio pergi mengejar para perawat itu untuk menemani Geo pergi untuk mendapatkan pertolongan di rumah sakit
"K, ka..,kak!" Tangis lemas Giovanni.
Mikael yang melihat itu langsung, berusaha mendekati Giovanni. Begitupun dengan Arya dan Arka.
"Mikael, padahal hari ini aku baru saja melihat kakak dengan senyumnya yang tulus untuk pertama kalinya setelah sekian lama. tapi..tapi kenapa..? Kenapa!? KENAPA!? hiks...,hiks.., hiks.."
"Aku yakin kakak mu masih bisa di selamatkan! Sekarang kau harus membalas dendam dulu pada orang itu, sebelum ia pergi terlalu jauh!" Mikael menenangkan Giovanni.
"Jika kau tidak ingin ikut denganku, kau disini saja temani Arya dan Arka." Melihat Gio yang hanya terdiam itu menyuruh Gio untuk tetap diam bersama Arya dan Arka.
"Paman disini saja bersama Aku dan Arya." Ujar Arka sambil mengusap punggung Gio.
"Baiklah aku serahkan balas dendam ku padamu Mikael!"
"Kau adalah tangan kananku selama ini, bagaimana mungkin aku menolak permintaan sederhana dari saudaraku sendiri." Mikael pun langsung bergegas pergi menyusul Reino yang sudah beberapa waktu yang lalu kabur dari tempat itu setelah menembak Geo.
Sebelum Mikael pergi, Arka menyerahkan ponselnya pada Mikael. Disana sudah terdapat Aplikasi Revenge System, yang menunjukan keberadaan kendaraan yang di tumpangi Reino melalui GPS.
Mikael langsung menaiki mobilnya di parkiran itu, sambil terus memerhatikan arah lingkaran biru yang bergerak di Maps ponsel Arka.
Suara decitan ban mobil Mikael terdengar nyaring di parkiran itu. Dengan kecepatan berkendaranya ia langsung meluncur bergerak mengarah lokasi yang di tunjukan oleh ponsel Arka.
Dari maps yang Mikael lihat tampaknya Reino akan segera pergi keluar kota. Mikael harus mencegahnya sebelum hal itu terjadi.
Dengan kecepatan tinggi, Mikael melaju membelah kota dengan mobilnya itu. Mikael yang sudah hafal betul semua jalan pintas di dalam kota, langsung melesat menggunakan jalan pintas- jalan pintas yang membuatnya akan jauh lebih cepat sampai di gerbang perbatasan kota.
Tidak sampai setengah jam Mikael berhasil mengejar mobil yang di gunakan oleh Reino. Reino yang melihat Mikael yang berhasil mengejarnya itu pun menyuruh supirnya untuk menambah kecepatan mobilnya.
__ADS_1
Dengan patuh Supir Reino itupun menambah kecepatannya, sehingga Membuat Mikael dengan mobil Reino memiliki beberapa jarak.