Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!

Anak Jenius : Bos Hebat Jadilah Suami Ibuku!
(Season2) Kau yang mengetahui kelemahan ku


__ADS_3

Mikael tiba di Apartemen, seperti biasanya ia langsung memasukkan jasnya ke dalam tempat sampah untuk dibakar karena sudah terkena cipratan darah.


Namun hal itu diketahui oleh Aya, yang sedang terbelalak kaget melihat Mikael yang pulang dipenuhi darah lagi. Aya menduga pasti Mikael sudah membunuh puluhan nyawa lagi seperti waktu itu.


"Kau! Kau membunuh orang tak berdosa lagi? Dimana anak-anak?" Aya dengan tegas menyatakan keberadaan Arya dan Arka.


"Aya!" Mikael tiba-tiba saja mendekati Aya. Dengan cepat Mikael langsung menarik tangan Aya.


"APA YANG KAU LAKUKAN!? Dimana anak-anak?" Bentak Aya yang meronta-ronta, ketika Mikael yang tiba-tiba saja memeluknya itu.


"Aya.., Ayo kita menikah!" Suara manja Mikael seperti anak kecil yang minta dibelikan sebutir permen.


"Apa kau sudah gila!?" Aya tidak mengerti apa maksud Mikael mengatakan hal itu.


"Hanya kau satu satunya orang yang mengetahui kelemahan ku, dan hanya kau yang bisa menyembunyikan kelemahan ku ini." Mikael membenamkan wajahnya di bahu kiri Aya.


"Apa kau demam lagi?" Suara Aya mulai tenang, ketika merasakan suhu tubuh Mikael yang tiba-tiba saja naik drastis.


"Sepertinya begitu." Suara Mikael melemas, seperti tidak bertenaga.


"Apa yang terjadi? Aku bantu memapah mu ke kamar." Aya memperbaiki posisi tubuh Mikael. Mengaitkan tangan kiri Mikael tepat di bahu kanannya.


Aya pun membantu Mikael berjalan menuju kamarnya dengan memapahnya secara perlahan-lahan. Sudah lama sekali Mikael tidak mengalami demam seperti dulu. Sepertinya ada sesuatu, yang memicu demamnya datang kembali.


Aya membatu Mikael untuk berbaring di kasurnya. lalu segera pergi membawa air kompresan untuk menurunkan panas demamnya Mikael.


Tidak lama Aya kembali dengan membawa air kompresan itu berserta handuk kecil untuk mengompresnya. "Apa yang terjadi lagi pada mu?" Bisik Aya pelan.

__ADS_1


Mikael terbangun dan menarik tangan Aya. Terlihat dengan jelas wajah Mikael yang semu merah karena demamnya. Tepat pada saat itu. Aya lengah dengan melihat wajah Mikael yang lemah namun tetap tampan seperti biasanya, Mikael dengan tenaganya yang masih bersisa.


Menarik Aya mendekat lalu menciumnya. Aya merasakan hawa yang cukup hangat dari nafasnya, bibirnya yang lembut membuat Aya sedikit terbuai dalam ciumannya.


Sekilas Aya pun tersadar dan mendorong pelan Mikael agar menjauh darinya. "Apa yang sebenarnya-" Melihat Mikael yang terlelap itu, mungkin ciuman yang tadi adalah sebuah kesalahan dari Mikael yang sebenarnya keadaannya sedang memburuk.


"K.., ka...i.., ma..s..ih..hid..up.." Setelah mengatakan kata-kata yang tidak begitu jelas ditelinga Aya. Mikael pun tidak sadarkan diri.


Demamnya semakin tinggi, Aya tidak tahu harus melakukan apa lagi. Satu hal yang terpikirkan oleh Aya adalah menelepon Dokter baskoro yang sebelumnya pernah merawat Mikael.


Aya mencari ponselnya di seluruh rumah dengan hati penuh dengan rasa panik dan Akhirnya ia menemukan ponselnya itu berada di dalam kamar Arya dan Arka.


Aya menekan tombol nomor telpon dokter yang merupakan saudara kandung dari Tora itu. Nada sambung telpon berbunyi, namun telponnya tidak kunjung diangkat oleh Dokter itu.


Aya semakin panik. Aya kembali ke dalam kamar Mikael melihat kondisinya yang benar-benar memburuk. Sebelumnya Aya hanya peneliti obat-obatan herbal, lalu melakukan beberapa penelitian tentang hal lainnya.


Aya berpikiran untuk menelpon Arya dan Arka, namun jika mereka masih bersama Giovanni. Itu adalah hal yang sangat buruk. Seperti yang dikatakan oleh Mikael, demamnya tiba ketika ada sesuatu hal yang bersangkutan dengan Kai atau trauma lamanya.


Hal yang mengetahui itu adalah Aya, Mikael, dokter baskoro dan Tora yang merupakan teman dekat Mikael dan Kai saat mereka masih menjadi seorang mahasiswa.


Apa yang harus Aya lakukan ia benar-benar panik akan hal yang terjadi di depannya. Keringat benar-benar membasahi sekujur tubuh Mikael. Dengan terpaksa Aya harus membuka baju kemeja putih yang masih menempel di tubuhnya itu.


Aya hendak membuka kancing baju Mikael. Walaupun sedikit ragu ia harus melakukannya untuk mengelap semua keringat yang membasahi tubuh Mikael itu.


Ketika Aya menyentuh kancing pertamanya. tiba-tiba tangan Mikael menyambar tangan Aya. "Ti, tidak perlu!" Mikael menarik Aya jatuh kedalam pelukannya. "Tidurlah denganku sebentar saja, sampai aku merasa agak baikan".


Aya memilih untuk diam dan menuruti apa yang dikatakan oleh Mikael. Walaupun dalam pelukan Mikael itu ia merasakan keringat tubuh Mikael yang menempel padanya juga ia berusaha menahan agar Mikael bisa tidur nyenyak dan beristirahat.

__ADS_1


***


"Paman Giovanni!" Arka berteriak kesal karena sudah beberapa menit mereka tidak beranjak berpindah tempat. Giovanni sendiri masih terduduk di lantai karena masih syok dengan apa yang terjadi di hadapannya.


"Ayolah, apa dengan berdiam diri Paman Geo akan segera sembuh?" Arya mengeluhkan hal yang sama sudah setengah jam mereka hanya terdiam dan tidak melakukan apa-apa.


"Huaa, aku bisa gila dengan situasi yang perlahan membunuh ini." Arka sekali lagi berteriak kesal hanya berdiam diri tidak melakukan apapun.


"Giovanni!" terdengar seseorang memanggil Gio dari arah pintu masuk ruang bowling VIP itu.


"Pa,Paman Guntur? Paman Alex?" Teriak Arka yang terkejut melihat mereka yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka bertiga.


"Hei, bocah ngapain kau disini?" Guntur meledek Arka setelah apa yang dilakukan Arka yang meracuni Guntur dan mengambil sebagian hartanya.


"Hihihi, Paman Guntur kalau tidak ada Paman Alex disini aku akan menggigit mu." Canda Arka pada Guntur setelah sekian lama mereka tidak bertemu karena kesehatan Guntur setelah terkena racun itu membutuhkan waktu pemulihan yang cukup lama.


"Dasar bocah, ternyata kau seperti anak kecil ya diluar. Padahal kupikir saat itu kau adalah orang yang lebih dewasa dari padaku." Guntur mengacak-acak rambut Arka karena merasa gemas, dengan tingkah laku Arka yang saat ini.


"Kau salah orang aku adalah Arya.. yang periang.." Arka mengakali Guntur dengan mengaku-ngaku sebagai Arya.


"Jika kau kembaran mu, tidak mungkin kau akan mengenaliku dengan cepat bukan?" Guntur meledek Arka karena ia tidak bisa dibohongi oleh kata-kata Arka.


"hehe, akhirnya otakmu sudah sedikit lebih pintar dari waktu itu ya, Paman." Arka meledek Guntur yang saat itu sangat amat mudah Arka bohongi.


"Arka, kau sepertinya merasa bosan bukan? Sebaiknya kau pergi bermain bersama Guntur." Alex buka suara setelah perdebatan antara Guntur dan Arka


"Paman, bagaimana kau mengenaliku. Bahwa aku adalah Arka?" Arka mengeluh Alex juga tidak salah mengiranya.

__ADS_1


"Tentu saja dengan cincin yang ada di tanganmu ini."


__ADS_2