
Sekilas informasi :
Urutan tertinggi dalam bermain poker:
1. Royal Flush
2. Straight Flush
3. For of Kind
4. Flush
5. Straight
6. Three of Kind
7. Two pair
8. Pair
9. High Card
Maaf jika ada yang salah mohon koreksi nya.
“hihihi, bagaimana Oppa~” ejek Rio
Rio senang dengan kemenangan awal yang belum seberapa itu, namun hal itu sudah memecah emosi Dustin yang sudah bermain poker di kasino selama bertahun-tahun. Kini berhasil tertipu dengan permainan Rio yang penuh dengan tipuan itu.
“Tuan Mikael kau dapat berapa?”Ujar Dustin dengan nada sedikit kesal dengan kelakuan Rio yang sangat licik itu.
“Sudah kubilang, aku tidak pernah menang melawan Rio.” Mikael dengan tenang mengatakan perkataannya.
Mikael membuka kartunya, dan ternyata mikael memiliki kartu yang lebih buruk dari Rio. Ia hanya mendapat High Card enam. Aya yang baru saja memperhatikan mereka bermain dengan tipu muslihat seperti itu mulai tertarik dengan cara mereka bermain.
“Tuan muda Rio memang hebat, kupikir Mikael hanya menipuku ternyata aku salah. seharusnya aku tidak perlu ragu dengan kartu yang kumiliki.”
Dustin mengakui penyesalannya yang tidak mau mengambil resiko terlalu besar dengan mengorbankan begitu banyak uang di awal permainan. Karena mereka masih tersisa dua ronde lagi untuk bermain.
“Aku! Aku juga ingin bermain.”
__ADS_1
Tiba-tiba saja Aya angkat suara dan mengajukan dirinya untuk ikut bermain dalam permainan ini.
“Tidak boleh sayang! Kalau aku harus kehilanganmu bagaimana??” Ujar Mikael
Sebenarnya Mikael tidak begitu melarang Aya untuk ikut bermain, ia hanya menunjukan sisi romantis Mikael dengan Aya di hadapan Dustin Dirgantara.
“Sayang biarkan aku ikut sekali bermain denganmu.” Aya merayu Mikael di depan Rio dan Dustin.
Sikapnya berani seperti itu membuat Rio tertarik ingin mengenal Aya.
“Baiklah sayang, tapi bagaimana kau akan membayar uang yang akan kau habiskan malam ini.”
“Masukan saja dalam daftar hutangku sayang, aku akan membayarnya dengan cara apapun.”
“Benarkah dengan apapun?”
“Ya benar.”
“Bagaimana dengan memberikan adik untuk Arya dan Arka?”
“hihihi, itu terlalu kelewatan. Kita belum resmi menikah.”
Percakapan Aya dan Mikael, tidak tahu kenapa membuat telingaku jadi panas juga. Dalam pikiran Rio terus mengkritik Aya dan Mikael, yang sudah berakting terlalu berlebihan menurutnya.
“Kau sepertinya sangat mencintai Aya, ya Mikael.” ujar Dustin. “Tapi kau tidak tahu bukankah Aya sudah menikah dengan musuh bebuyutan mu?” Sambungnya.
Sambil meneguk Wine yang dipesan oleh Rio, Dustin awalnya berniat untuk menghancurkan hubungan Aya dan Mikael dengan memberitahu Mikael bahwa Aya adalah Istri dari Zen Ardinata yaitu musuh bebuyutan Mikael.
“Aku sudah tahu kok, aku sendiri yang berhasil merebutnya dan membuatnya melahirkan anak-anak yang pintar untukku.” Mikael dengan tenang menghadapi Dustin yang awalnya berniat untuk menjatuhkan martabat Aya di depan Mikael.
Namun berbeda dengan reaksi Rio yang baru mengetahui bahwa Aya adalah mantan Istri Zen Ardinata. Bahkan melihat usia Aya yang begitu muda sudah melahirkan dua anak kembar untuk Mikael, belum lagi Aya sudah menyelesaikan studi S2nya di Universitas terkenal didunia. Kapan Aya menikah dengan Zen dalam pikirnya.
“Ternyata kau suka barang bekas ya Mikael.”
Dengan tatapan tajam Mikael emosi dengan perkataan Dustin yang satu ini, beraninya ia mengatakan Aya adalah barang bekas, namun kala itu Aya tiba-tiba membuka mulutnya dan membalas Dustin dengan pedas.
“Duh gimana ya om, aku baru saja menikah dengan nya tetapi sudah ditinggal di malam pertamaku, jadi wajar dong kalau aku memilih pria yang lebih baik darinya. Pria yang bahkan tidak menyentuhku setelah menikah itu malah menyalahkanku dan menyiksaku yang sudah dengan bermain dengan pria yang berhasil memuaskanku. ya kan sayang~”
“Kau pernah disiksa olehnya sayang? Kenapa kau bilang padaku? lain kali kau harus bilang padaku, nanti akan kubalaskan seratus kali lipat untuk mu.”
__ADS_1
“Hihihi, kau selalu saja berlebihan sayang~”
Rio yang merasa menjadi obat nyamuk itu berinisiatif untuk angkat bicara untuk memulai, permainan ronde dua mereka.
“Ehem, kalian masih ingat ada aku bukan? Bagaimana kalau kita bermain ronde ke duanya.”
“Tuan Muda Rio benar, kita harus melanjutkan permainannya.” sahut Dustin.
Dustin pun ikut membela Rio, karena ia rasa perkataannya akan menjadi sia-sia jika ia harus berdebat dengan Mikael dan Aya yang sedang bucin-bucin nya seperti itu.
“Lihat saja sayang! Aku akan mengalahkanmu! Oh iya minumanku kok belum juga dibuat padahal ini sudah satu Ronde berlalu.”
Aya tiba-tiba saja teringat minumannya yang belum kunjung datang itu.
“Kalau begitu kau yang main saja, aku akan mengambil minuman mu sayang~.”
Mikael Pun bangkit dari duduknya dan pergi ke bar untuk mengambil minuman untuk Aya. Setelah Mikael pergi bandar pun membagikan kartunya pada Rio, Dustin dan juga Aya. Pembukaan taruhan awal pun dimulai dari Aya, dengan taruhan awal 100 juta.
Aya tidak menyangka bahwa taruhan pada ronde dua akan meningkat dengan sangat besar dan 100 juta bukanlah uang yang berjumlah sangat sedikit baginya, sehingga membuat Aya ragu untuk menaruh koin taruhannya. namun saat itu Mikael kembali dengan tepat waktu.
“Kau boleh menghabiskan semua uang suami mu ini sayang~.” ujar Mikael sambil menaruh minuman Aya di atas mejanya.
“Baiklah, terimakasih sayang~.” Ujar Aya yang tanpa ragu langsung mengeluarkan koin taruhannya di atas meja. “ 100 juta!!” sambungnya.
Kini Giliran Dustin untuk mengeluarkan taruhannya.
“200 juta!!” Teriak Dustin sambil melihat ke arah Rio.
“Kenapa melihatku Oppa?? Kali ini aku akan mengikutimu, kau tenang saja…” Rio melihat raut wajah Dustin yang begitu percaya diri, semuanya Rio tahu karena Rio merupakan Detektif polisi yang terbiasa mengintrogasi dan menganalisis pelaku pembunuhan dengan sangat profesional.” 200 juta!!.” sambungnya.
Tiga kartu awal langsung dibuka oleh bandar. Begitu melihat tiga angka awal itu, wajah Dustin berubah total. Ia menjadi berseri-seri setelah kehilangan banyak uang di awal permainan.
“Yummy!!” teriak Aya dengan polosnya.
“Ada apa sayang?” Mikael yang duduk disebelah Aya sama sekali tidak melihat kartu apa yang Aya dapatkan itu sangat penasaran apa yang Aya lakukan.
“Aya kau begitu senang padahal kau tidak tahu caranya bermain, Kau itu terlalu di manjakan oleh keluargamu, sehingga kau tidak tahu betapa kejam dan tidak adilnya dunia ini.” Dustin terus menerus menyerang Aya, namun Mikael tidak lagi emosi. Ia lebih penasaran apa yang akan Aya tanggapi untuk melawan Dustin.
“hehe, kau salah Ayahku terlalu baik sehingga anaknya menjadi anak yang nakal.” Aya meneguk minumannya terlebih dahulu kemudian melanjutkan kata-katanya. “Rio aku dengar dari Arya dan Arka bahwa kau adalah detektif hebat. Aku tidak menyangka Arya tiba-tiba mengungkapkan cita-citanya yang ingin menjadi seperti dirimu. Aku sebagai ibunya yang telah mengajari banyak hal itu sangat iri dengan pujian anak-anakku yang ditujukan untukmu. tapi kita lihat saja akhir permainan ini siapa yang harus anak-anakku banggakan, kau atau aku yang merupakan ibunya ini.”
__ADS_1