
Di kantor AnggelTech, semerbak harum mocachino hangat di tambah dengan beberapa camilan manis yang baunya memenuhi seluruh ruangan. Arka dan Arya sibuk bermain-main di kantor Mikael sedangkan Ken sangat kerepotan dengan banyaknya dokumen dan beberapa laporan yang tertunda mulai menumpuk membentuk gunung laporan.
"Arya! Kau itu kakak seharusnya kau mengalah." Terdengar suara Arka yang berteriak pada Arya.
"Hei, dari mana rumus itu muncul. Seorang adik itu tidak boleh tidak mendengarkan kata kakaknya!"
Suara Arya naik sedikit dari suara Arka.
"Eh emangnya kau ini raja apa?" Arka tetap tidak terima dengan pernyataan Arya.
"Iya, aku akan menjadi raja di negeri ini sebentar lagi!" Arya yang selama ini sering mengalah, tiba-tiba memiliki keegoisannya.
Praaak..
Suara cangkir kopi yang berada di sebelah Ken itu pecah, membuat seluruh ruangan menjadi hening mencekam. Jantung mulai berdetak kencang hingga suaranya terdengar ketelinga mereka masing-masing.
"Mikael! Mikael! membunuh semua bangsawan yang mampir di gedung bilard VVIP milik keluarga Wijaya." Pria yang tidak di ketahui itu langsung menutup telpon Ken.
Dalam hati Ken menggerutu. Apa yang sedang dipikirkan oleh Mikael. Walau ia memang selalu senekat ini tetapi membantai semua bangsawan dan pengusaha kaya di negara ini akan menghantarkannya ke lubang masalah yang sangat dalam. Ken menghentakkan mejanya sekali lagi. Segelas kopi yang terjatuh belum kunjung ia bersihkan.
Arka menghampiri Ken sedangkan Arya pergi keluar untuk mencari alat pembersih untuk membereskan kopi yang terjatuh itu.
"Paman, apa kau baik-baik saja?" Arka penasaran melihat wajah kusut yang terpampang jelas di wajah Ken.
"Arka, apa yang harus aku lakukan jika Perbuatan Mikael ini akan mengundang banyak musuh ke dalam dunia mafia yang kejam ini?" Ken gemetaran, matanya tidak berani menatap wajah Arka.
"Sadarlah Paman Ken!" Arka berteriak karena Ken sadar pria yang menelponnya barusan adalah Rafael. Jika Rafael sampai menyebarkan berita tersebut ke Media. Bukan hanya Mikael saja yang akan jatuh Keluarga Gumelar juga akan terseret banyak akan hal itu.
"Kau tidak tahu siapa orang yang menelpon barusan, dia itu..., dia itu.." Awalnya Ken Berteriak keras pada Arka, namun setelah itu ia sadar ia tengah takut hingga menggila di hadapan anak yang berusia lima tahun lebih itu. "Apa yang barusan kulakukan?"
"Paman sepertunya kau lelah, sebaiknya kau istirahat," Arya yang masuk sambil membawakan alat bersih untuk membersihkan kopi yang baru saja Ken jatuhkan tanpa ia sadari.
__ADS_1
"Aku tidak bisa istirahat, sekarang nama keluarga Gumelar sedang-" Ken tiba-tiba terdiam dengan tatapan yang dilontarkan Arya padanya.
Arya langsung melangkah mendekati Ken sambil menatapnya tajam. Ia langsung membersihkan pecahan-pecahan cangkir itu dengan Hati-hati dan membersihkan bekas tumpahan kopi itu dengan kain pel.
"Apakah kau tau Paman siapa yang mengendalikan sistem digital di dunia ini?" Arya berkata dengan tenang sambil membersihkan bekas kopi itu.
"Ya Paman, Aku ada disini Paman dengan Aplikasi ciptaan pamanku aku bisa mengendalikan semua sistem digital. Jika Paman khawatir jika ada suatu berita buruk tentang perusahaan ini aku bisa langsung membersihkannya tanpa sisa." Arka dengan percaya diri, setelah dipancing keahliannya yang sangat luar biasa dan tidak dimiliki oleh siapapun.
"Aku tahu, aku benci mengakui kemampuannya, tapi Arka adalah virus dunia digital ini dan jika sesuatu yang buruk terjadi pada Paman Ken jangan khawatir aku ini ahli dalam pertarungan." Arya berusaha menenangkan Ken.
Arya dan Arka berusaha menenangkan Ken, sedangkan mereka berdua sebenarnya tidak tahu apa yang terjadi pada pamannya itu. Mereka hanya asal berbicara. Namun semua itu berhasil membuat Ken tenang kembali.
"Arka-Arya! Ayo kita temui Mikael sekarang! Aku harus memarahi papa bis kalian karena sudah bertindak seenaknya. Dia tidak tahu kalau ia sangat beruntung memiliki anak-anak seperti kalian." Ken Beranjak dari duduknya dan langsung mengambil jas yang semulanya menggantung di kursinya.
Ia menggenakan jasnya dan langsung mengambil kunci mobil yang ada di atas meja itu. Dengan tergesa-gesa Ken serta Arya dan Arka menuju parkiran. Untuk mengambil mobil. namun sebelum itu Ken hanya ingin memastikan untuk yang kedua kalinya Mencek mobil Mikael yang semula terparkir di tempat favoritnya.
Setelah ia sampai ternyata sudah jelas sekali mobil yang terparkir itu sudah tidak ada lagi. Intinya sekarang Ken harus mencari Mikael terlebih dahulu. Hal yang ia ketahui dari sebelumnya. Mikael selalu berendam setelah membunuh banyak orang.
Artinya tempat tujuan utamanya sekarang adalah Apartemennya. Karena itu merupakan tempat teraman dan paling tenang untuk Mikael berendam selama mungkin.
Sedangkan saat ini Mikael dan Aya sedang saling menggoda satu sama lain di dalam kamar mandi Apartemen.
Aya : "Aku sungguh tidak bisa berpikir jernih lagi. Apa kau memasukan obat di dalam Air itu?"
Aya mencoba menyalahkan Airnya, yang membuat dirinya tidak bisa mengendalikan dirinya.
Mikael : "Sudahlah ikuti saja keinginan tubuhmu, kemarilah, aku akan memuaskan mu."
Aya : "Tidak! Cukup sekali aku merasakan sakit itu."
Mikael : "Sakit? Bukanya kau menikmatinya? Kalau tidak mengapa Arya dan Arka bisa tumbuh?"
__ADS_1
Aya : "Kau ini Kurang Ajar sekali, aku.."
Aya mencoba mengingat kejadian malam itu. Tetapi ia tidak ingat apapun. namun selintas ia mengingat beberapa kilasan ingatan yang sangat memalukan tentang dirinya.
Mikael : "Siapa yang menggoda siapa? Malam itu aku hanya teringat seorang wanita yang menggoda pria mabuk."
Aya : "Ingatanmu buruk sekali mana mungkin aku melakukan hal seperti itu.."
Wajah Aya berubah menjadi merah padam. begitupun dengan telinganya. Semuanya terlihat jelas dengan hanya sekali lihat saja.
Mikael : "Apa kau sedang malu mengakuinya?"
Aya : "T, Tidak. A, aku tidak.."
Mikael : "Kau tidak apa?"
Aya : "Berhenti menggodaku!"
Mikael : "Hahaha, baiklah aku sudah mulai kedinginan ambil handukmu. Aku akan bantu mengeringkan rambutmu!"
Aya : "Sebaiknya kau juga mengambil handukmu."
Mikael : "Aku belum menggosok tubuhku. Makanya bantu aku menggosok tubuhku."
Aya : "Hanya bagian belakangnya, kau jangan bertindak yang lain-lain."
Mikael : "Iya, kau saja yang jangan berpikiran jauh.".
Setelah mengambil Handuk Aya membantu Mikael menggosok punggungnya dengan lembut. Walau rasanya ingin menjahili Aya untuk kedua kalinya. namun ia tahan.
Mikael : "Sudah seharusnya tugas seorang istri untuk membantu suaminya menggosok tubuhnya._
__ADS_1
Aya : "Apa tugas seorang istri seperti itu saja? kurang kerjaan sekali."
Mikael : "Tentu saja tidak, Tugas Istri itu adalah memberikan keturunan untuk suaminya."