
...****************...
"Sebenarnya urusan Reino, aku sudah tidak peduli lagi dengannya, tapi ini soal Kai Gumelar. Aku tahu kau akan menyelidiki tentang Kai setelah atasan mu mendengar bocoran soal Kai dari Reino. Biar kutebak, dia menyuruhmu untuk menyelidikinya disini bukan?"
Rio tertegun dengan apa yang diucapkan oleh kepala kepolisian itu tebakannya sangat tepat, Rio mulai mencurigai sangkut paut kepala kepolisian dengan Kai gumelar yang merupakan orang yang sedang Mikael cari saat ini.
"Aku sudah menduganya, padahal sudah ku katakan untuk tidak membocorkan informasi ini atau aku akan mengulitinya. Tapi sekarang percuma mau aku kuliti dia pun toh dia sudah mati. Jadi menurutmu bagaimana?" Kepala kepolisian itu berdiri dan mendekatkan wajahnya ke hadapan Rio.
"Kau orang yang mengerikan, aku tidak tahu kenapa orang seperti mu bisa menjadi seorang kepala kepolisian." Rio sedikit menjauh untuk memberi jarak antara dia dan kepala polisian itu.
"Rio jujur aku tidak bisa berbuat apa-apa padamu, karena kau adalah saudara Pria iblis itu. Ah, tunggu dia malaikat atau iblis ya?"
Kepala kepolisian itu pun melangkah dan terus melangkah mendekati Rio, namun kepala kepolisian itu ternyata hanya sekadar lewat dan berbicara sambil pergi meninggalkan Rio dan partnernya.
"Kau akan segera tau Pria itu iblis atau malaikat setelah sidang nanti. Sampai jumpa di persidangan nanti. Sekarang Aku harap kau tidak terlalu mencari Kai lebih dalam lagi atau kau akan mati sebelum sidang itu digelar, maaf komputer mu rusak tapi bukan aku yang melakukannya mungkin orang lain. Sampai jumpa~"
Sambil pergi Orang yang disebut kepala kepolisian itu berteriak, sambil berjalan mundur untuk memperingatkan Rio. Setelah mengatakan kata-katanya Kepala kepolisian itu tertawa kecil melihat ekspresi wajah Rio yang kesal itu.
Rio mengepalkan tangannya, ia tidak sedikitpun di beri kesempatan untuk berbicara. Bahkan partner Rio sendiri tidak bisa berkutik apa-apa begitu ia melihat aura negatif yang terpancar dari kepala kepolisian.
"Rio kau tidak apa-apa?"
"Sial"*n Komputer ku rusak. Bagaimana aku akan menyalin data dan melakukan permintaan dari Mikael." Rio bergumam dalam emosi yang meluap itu.
"Rio jika hanya menyalin File itu kau bisa menggunakan komputer milikku. Untuk mengambil beberapa data juga bisa, hanya saja data yang bisa didapatkan mungkin akan terbatas.".
."Benarkah aku boleh meminjam komputer milik mu?"
__ADS_1
"Tentu."
Beruntung rekannya tersebut berada di ruangan sebelahnya, ia tidak perlu memikirkan cara lain. Tapi apa yang di maksudkan oleh kepala polisian agar tidak mengusik orang yang bernama Kai gumelar itu masih membekas di pikirannya.
Ia bertanya-tanya, mengapa Mikael harus mencari orang itu, meskipun sama-sama dari keluarga Gumelar. Rio baru mendengar namanya baru-baru ini sebelumnya ia tidak pernah mendengar sama sekali nama Kai Gumelar.
Mereka berjalan menuju ruangan sebelah dengan Rekan Rio itu memandunya untuk menunjukan dimana meja kerjanya. "Ini Rio meja kerjaku ada disini. Kau bisa menggunakan meja kerjaku sepuasnya. Sekarangkan hari libur jadi tidak ada siapapun disini."
Rio pun mengikuti arahan rekannya itu duduk di kursi milik rekannya, lalu menghidupkan komputernya. Meja kerjanya sedikit berantakan, begitu banyak tempelan stiker kertas tentang kasus kasus, nama tersangka. Sama seperti yang ada di meja kerja Rio.
Hanya saja rekannya itu memiliki satu terpajang Figura, dia dan Ibunya. Rio sebenarnya tidak memperdulikan itu. Tapi demi basa-basi, ia harus memulai percakapan dengan rekannya itu.
"Semenjak kau sudah bukan asistenku lagi, kau memajang foto ibumu ya?"
Setelah Rio berkata demikian, rekannya itu menunduk. seperti ada sesuatu kesedihan yang mendalam didalam hatinya.
"Tidak, kau salah aku dari dulu memang bercita-cita menjadi seorang polisi. Tapi keinginanku berubah ketika kakekku, aku tidak mengingatnya dengan jelas karena ia meninggal saat aku masih sangat kecil.
Tapi saat SMA aku tiba-tiba mengingat kata-kata yang diucapkannya, 'Mencari kebenaran, itu seperti harta karun. petunjuknya sudah ada, tapi kembali pada kita, bagaimana kita mencarinya.'
Aku berpikir dengan menjadi seorang detektif, aku akan bisa menemukan jawaban dari apa yang dikatakannya. Sama seperti apa yang di katakan ibumu padamu."
"Kau masih mengingat apa yang aku katakan mengenai ibuku? Wah, aku tidak menyangka detektif yang dingin dan aura membunuhnya seperti seorang mafia bisa mengingat perkataan ibuku-"
Orang itu pun berhenti berbicara ketika ia melihat Rio menatapnya dengan tajam, disertai dengan aura membunuh seperti yang di katakan olehnya sebelumnya.
"A,aku beli kopi dulu di bawah.." Orang itupun nampaknya sangat ketakutan dengan tatapan Rio yang seperti itu.Ia memilih untuk kabur sambil berpura-pura membeli kopi, untuk menenangkan hati Rio.
__ADS_1
"Amerikano"
"Ah, iya?"
"Belikan aku Amerikano."
"O,okey."
Rekannya itupun segera pergi untuk membeli kopi di toko yang berada di sebrang gedung kepolisian. Sedangkan Rio masih mengotak-ngatik komputer milik rekannya itu.
"Aku sudah memasuki dokumen negara, hanya perlu melihat data kematian dan orang yang pindah kewarganegaraan. Pertama-tama aku akan membukanya di data orang yang tercatat dalam kematian.
Okey,aku berhasil masuk. Sekarang tinggal ketikan nama. Kai Gumelar." Setelah memasukan nama Kai Rio menekan tombol enter di keyboard komputer milik rekannya itu.
Tergantung dengan jelas data kematian dengan orang yang bernama Kai gumelar di layar komputernya itu. Mata dan rambutnya, mirip sekali dengan saudara-saudara Rio yang lain terutama dengan Kakek angkatnya Reino Gumelar.
Namun satu hal yang membuatnya terbelalak kaget adalah fotonya yang mirip sekali dengan Aya, begitupun dengan aura yang ada di fotonya itu.
Rio pun membaca satu-satu tentang biodata pribadi milik Kai Gumelar. " Ayah Indra Dirgantara, Ibu Luna Gumelar?" Rio rasa pernah mendengarnya saat ia menguping pembicaraan seseorang dengan kakeknya tentang Luna Gumelar.
"Sepertinya, Luna Gumelar adalah anak kakek Rei. Itu artinya Kai gumelar adalah cucu Kakek. Itu sebabnya, Kakek Rei tahu keberadaannya. tapi untuk apa Kakek memberitahukannya pada Mikael."
Rio berusaha memahami semuanya, namun ia masih belum mendapatkan satu hal yang paling penting dari itu semua. Iapun kembali membaca biodata pribadi tentang Kai.
"Umurnya sama denganku, Saudara... Angga Dirgantara, Aditya Dirgantara, Aya Dirgantara. Memang benar-benar memiliki hubungan darah dengan Aya, tapi Aya tidak mencari Kai tapi mencari Angga Dirgantara.
Hubungan keluarga Dirgantara lebih rumit dari keluarga gumelar beberapa tradisi, seperti beladiri mereka yang diturunkan turun temurun. Itu sangat mengerikan, ditambah beberapa adat lainnya."
__ADS_1