
Arka langsung dilarikan ke UGD. Ia harus mengalami operasi untuk mengangkat peluru yang ada di tubuhnya. Tubuhnya yang kecil membuatnya mudah kehilangan banyak darah, Arka memerlukan donor darah agar operasinya berjalan dengan baik. Suster yang menangani operasi Arka. Menanyakan orang tua dari Arka untuk meminta darah mereka untuk dicocokkan dengan darah Arka.
"Saya! Saya adalah ibu pasien!"Aya yang walaupun dalam kondisi buruk itu tetap ingin mendonorkan darahnya.
Aya pun di pandu oleh suster itu untuk mengikutinya di ruangan sebelahnya. lalu Suster itu memeriksa kecocokan darah Aya dengan Arka, ternyata darah Aya tidak bisa ditransfusikan pada Arka. Sehingga Aya semakin gelisah dengan keadaan Arka.
Menurut Aya, Mikael adalah Ayah kandung dari Arka. Mikael pun mengajukan dirinya untuk mendonorkan darahnya untuk membuktikan kebenarannya. Mikael juga merasa berhutang nyawa pada Arka. Karena ia telah di selamatkan oleh Arka. "Suster saya akan mendonorkan darah saya." Ucap Mikael dengan tegas.
"Mohon maaf bapak ini siapanya pasien?" Suster itu bertanya pada Mikael yang tiba-tiba ingin mendonorkan darahnya itu.
"Saya Ayahnya pasien."
"Kalau begitu mari ikuti saya." Suster itu memandu Mikael untuk mengikutinya. Namun..
"Tidak! Aku tidak sudi darahnya mengalir pada anakku!" Aya menghentikan Mikael menarik lengan jasnya. Namun Mikael tidak senang melihat keadaan yang mendesak tapi Aya masih mempertahankan ego nya.
"Apa kau bodoh! dari dulu darahku sudah mengalir di tubuh Arka, kau mengerti! Apa kau tidak kasihan melihat Arka yang sedang membutuhkan darahku?" Kata-kata tegas Mikael membuat Aya melemah dan melepaskan genggamannya, membiarkan Mikael untuk mendonorkan darahnya.
Darah Mikael memiliki kecocokan yang sangat kuat sehingga dapat ditransfusikan. Operasi masih berlanjut mereka harus mengangkat peluru yang ada di bahu kiri Arka. Aya tidak berhenti-henti terus menuturkan doa untuk keselamatan Arka.
Akhirnya Mikael tahu yang sebenarnya dan tidak perlu menunggu hal tes DNA dari rumah sakit itu karena saat ia mendonorkan darahnya kecocokannya hampir 99%, sudah jelas jika Mikael adalah ayah kandung dari Arka dan Arya.
__ADS_1
Berjam-jam berlalu dengan penuh keringat yang membanjiri sekujur tubuh untuk menunggu operasi yang di jalani Arka. Walaupun Arka adalah seorang anak pembuat masalah tapi dia adalah anak yang paling mudah disenangi orang-orang disekitarnya.
Aya diluar menunggu keselamatan Arka. Beberapa jam kemudian operasinya selesai dan Arka berhasil diselamatkan. Dokter pun memindahkan Arya ke ruangan pasien. Aya dan Mikael pun diizinkan untuk menjenguk Arka.
Aya menangis haru, melihat kondisi Arka yang terbaring lemah dia atas ranjang rumah sakit itu, tidak lama kemudian kondisinya menurun karena ia baru saja mengalami kecelakaan yang harusnya ia juga harus beristirahat di rumah sakit.
Arya yang tidak mendapatkan kabar dari Arka pun memutuskan untuk menelpon Ibunya, namun ponsel Aya tidak aktif. Terpaksa Arya menelpon ke ponsel Mikael walaupun ia membencinya, namun ia harus mengetahui kabar tentang ibunya.
"Hei, pria jelek dimana ibuku" Sahut Arya dengan nada yang terlihat jelas membenci Mikael.
"Kau sangat tidak sopan nak! Aku ini Ayah kandung mu!" Mikael menjawab Arya walau dengan badan lemas setelah mentransfusikan darahnya pada Arka.
"Apa!? itu tidak mungkin! Jangan bercanda! Dimana ibuku dan Arka?" Arya tidak percaya perkataan Mikael dan menganggapnya hanya sebuah candaan semata.
"Baiklah! paman Tora tidak ada disini aku hanya kesepian. Kau abaikan saja aku. Anggap saja aku tidak pernah menelpon mu" Arya mengungkapkan rasa sepinya tanpa Aya dan Arka dengan cara yang berbeda.
"Mau aku jemput?"
"Tidak usah sepertinya, paman sebentar lagi akan pulang. Kalau begitu tolong jaga ibu dan Arka baik-baik."
Arya pun menutup telponnya. namun Mikael menelponnya Arya kembali dan mengatakan yang sejujurnya. tentang kondisi ibunya dan Arka. Arya pun menjadi panik dan ingin menemui mereka. Namun Mikael menyuruhnya untuk menunggunya dirumah karena Arya masih belum cukup umur untuk menjenguk pasien dirumah sakit.
__ADS_1
Setelah keesokan harinya Aya sudah mulai tersadar dari pingsannya. Ia langsung melihat kondisi Arka yang tepat berada di sebelahnya. Keadaannya mulai membaik, walaupun Arka masih belum sadarkan diri.
Mikael menyerahkan sisa perawatan dan segala obatnya pada Aya, karena Mikael harus pergi ke kantor untuk mengatasi beberapa masalah di perusahaannya. Namun pada kenyataan yang sebenarnya Mikael sedang menyiapkan sesuatu untuk membalas dendam pada Zen yang telah melukai Arka.
Mikael menyiapkan para anggota mafianya untuk bersiap menyerang kediaman keluarga Ardinata. Mikael tidak peduli berapapun resiko yang ia terima, asalkan ia mendapatkan mayat dari Zen ia akan berhenti menghancurkan keluarga Ardinata.
Mikael tidak mau lagi orang yang paling berharga baginya, di hancurkan lagi oleh keluarga Ardinata yang sangat terkenal busuk luar dalam. Bahkan perusahaan dan statusnya di dunia mafia pun sangat buruk. Tidak ada satupun yang ingin bekerja sama dengan keluarga yang seperti itu.
Aya mengusap kepala Arka dengan lembut. Lalu mengecup kening Arka yang kecil itu. Arka adalah segala kekurangannya Aya dan juga kelebihannya Aya. karena Arka tidak mampu menghafal semua gerakan bela diri yang Aya ajarkan. Bahkan sebenarnya Arka tidak dapat menulis dengan baik. Ia bisa membaca semua tulisan tetapi kurang dalam menulis, sebab yang ia gunakan adalah ponsel dan keyboard komputernya.
***
Arya menelpon Tora yang sudah pergi dari sejak kemarin dan masih belum kunjung pulang sampai saat ini. Membuat Arya khawatir jika pamannya itu diserang oleh mafia juga. Berkali-kali Arya menelpon Tora tetapi ponselnya tetap tidak di jawab.
Arya juga tidak bisa pergi ke sekolah jika Tora masih saja belum kunjung datang. Sudah berjam-jam Arya menunggu namun Tora tidak kunjung menampakkan batang hidungnya.
Arya memutuskan untuk pergi sekolah sendiri, tanpa diantar oleh pamannya atau bersama adiknya yang sedang terbaring di rumah sakit. Arya menyiapkan segala sesuatunya sendiri. Mulai dari menyiapkan Air, membuat sarapan, dan menyiapkan bekal yang akan ia bawa ke sekolah.
Ketika Arya hendak pergi sekolah, Tora datang dengan banyak luka di tubuhnya. Arya yang panik langsung membawa Tora ke kamarnya. "Paman apa yang terjadi!?" Arya bertanya karena ia sangat khawatir.
Akhirnya sebelum ia pergi ke sekolah ia membantu Tora untuk membalut lukanya. Arya mengamati luka yang di terima oleh Tora, luka itu bukan luka tembakan atau pun luka kecelakaan. Luka itu seperti luka penyerangan dari jarak dekat.
__ADS_1
Arya sebenarnya ingin bertanya siapa yang melakukannya tetapi Arya melihat Sepertinya Tora membutuhkan istirahat yang cukup atas luka-lukanya itu. Arya memutuskan untuk merahasiakannya dari ibunya kalau tidak ibunya yang sama-sama sedang sakit bisa saja berjalan menemui Tora untuk melihat kondisinya, karena menurut Aya Tora adalah satu-satunya keluarga yang tersisa.
Arya pun pergi ke sekolah sendirian dengan banyak pikiran berkecamuk di otaknya. Begitu banyak masalah yang terjadi menimpanya. Arya yang masih polos itu yakin bahwa penyebab semuanya adalah Mikael.