
Geo segera di bawa kerumah sakit, Rio tidak henti-hentinya menyalahkan dirinya sendiri atas perbuatan yang Geo lakukan untuk melindunginya. Ia benar-benar menyesal sudah lengah diakhir pertarungan dengan orang licik seperti Reino. Tidak lama Bella dan Zaidan datang untuk melihat keadaan Geo.
"Rio! Bagaimana keadaan Kakakmu?" Suara lembut sekaligus khawatir yang keluar dari seorang wanita tua berambut coklat muda itu.
"Kakak sedang operasi pengangkatan peluru yang- hiks.." Rio tidak bisa melanjutkan kata-katanya lagi. Iapun memeluk Bella sambil menangis terisak-isak.
"Kau tenang ya Geo anak yang memiliki banyak kelebihan. Kurasa dia akan selamat." Ucapan yang menenangkan dari Zaidan membuat Rio mulai bisa menenangkan dirinya.
"Permisi-misi." Seorang dokter setengah baya dengan berbadan tinggi itupun terburu hendak memasuki ruangan operasi Geo.
"Dok apakah anak saya bisa diselamatkan?" tanya Bella Chen seorang wanita keturunan Tiongkok itu.
"Maaf saya terburu-buru." Dokter itu tidak menjawab sedikitpun pertanyaan dari wanita tua yang begitu khawatir tentang kondisi anaknya.
"Dokter Rudiantara tolong selamatkan kakakku!" Teriak Rio memanggil dokter itu, namun dokter itu lagi-lagi mengabaikannya dan masuk kedalam ruang operasi itu.
Rio yang benar-benar frustasi dan marah pada Reino itupun memutuskan untuk pergi membalas dendam. Setelah sekian lama Reino memisahkan dirinya dengan dengan keluarganya. Sekarang ia membunuh Geo tepat di depan matanya.
Perbuatan Reino sudah tidak termaafkan lagi dimata Rio, semuanya sudah gelap. Rio tidak bisa lagi melihat satupun kebaikan yang telah di berikan oleh Reino kepadanya.
Rio pun tanpa pamit kepada orang tuanya itu langsung bergegas cepat di lorong rumah sakit menuju pintu keluar. Dengan beberapa mobil teman sesama polisinya iapun meminjam salah satu mobil rekannya itu.
Dan membunyikan sirine polisi agar para pengemudi lain bisa membiarkannya lewat dengan cepat. Tak tahu harus kemana, Rio memutuskan untuk menelpon Arka.
"Hallo! Arka? apa kau tahu keberadaan Mikael dimana?" Teriak Rio sambil mengendarai mobilnya layaknya seorang pembalap mobil. Memang kebiasaan keluarga Gumelar yang sudah di kenal banyak orang adalah cara mengendara mereka yang seperti pembalap mobil sungguhan.
"Rio! Bagaimana keadaan Geo? Ini aku Mikael. Sekarang Si Tua Bangka itu pergi menuju Gerbang Kota Z"
Rio langsung menutup telponnya dan membanting stirnya berbelok di sebuah persimpangan, sebuah decitan ban yang terdengar nyaring itu meninggalkan bekas jejak ban di jalanan.
__ADS_1
Dalam pikirnya, bagaimanapun dirinya harus menemukan Rio dan menangkapnya hidup-hidup agar ia merasakan bagaimana penderitaannya selama ini, namun di suatu jalan Rio dihadang oleh sebuah mobil hitam dengan seseorang berdiri di depannya.
"KAU! APA KAU SUDAH GILA MINGGIR!" Rio berteriak pada orang itu, namun orang itu tahu bahwa setergesa-gesa apapun Rio ia tidak bisa melakukan tindakan kriminal dengan menggunakan mobil seorang polisi.
Akhirnya Rio mengerem mobilnya, decitan suara ban yang meninggalkan jejak ban yang begitu panjang dan jelas. "HEI APAKAH KAU TIDAK MENDENGAR SIRINE KU?"
"Tentu saja aku dengar."
Pria itupun membuka kacamatanya.
"KAK FAREL?" Teriak Rio yang begitu melihat orang itu langsung terbelalak kaget.
"Sudah lama ya Rio? Biar ku tebak kau sedang mengejar kakek bukan?" Farrell dengan angkuhnya meremehkan Rio begitu saja.
"Seharusnya Kakek tidak pernah mengangkat mu sebagai cucunya. Padahal aku jauh lebih pintar darimu bukankah begitu?"
"Kak Farel itu bajingan yang memiliki banyak wanita simpanan dirumahnya!" Rio kesal dengan Farel yang dari semenjak dulu tidak menyukainya.
"Beraninya kau menguji kesabaran ku. Aku yang dulu dimanja oleh Kakek, tiba-tiba saja setelah kedatangan dirimu Kakek jadi jauh lebih memanjakan dirimu daripada aku." Kebencian Farel tiba-tiba meluap begitu saja.
"Hehe" Rio pun membalas tinju dari Farel tepat di wajah Farel. "Dasar orang dengki! Aku pun tidak pernah minta jadi cucunya bahkan SAMPAI KAPANPUN AKU TIDAK AKAN PERNAH MAU MENJADI CUCU PRIA JAHAT ITU!" Teriak Rio yang penuh dengan kekesalan.
"Sepertinya Haris lebih membela kakak tirinya di bandingkan Kakek kandungnya."
Seperti yang di bicarakan oleh Farel dari belakang Rio datang Haris adik tiri Rio. "Kakak! Kau tidak apa-apa?" Teriak Haris
"Haris?" Ujar Rio.
"Tenang saja kak Farel aku akan membantu mu." Ujar Haris yang turun kemudian mengacungkan pistolnya pada Rio.
__ADS_1
"Rio kau ini aib keluarga Gumelar! Dalam sejarah keluarga kita, tidak ada satupun dari kita yang berpihak pada negara. Prinsip keluarga kita adalah memimpin semuanya di bawah kaki kita." Faris yang menatap tajam Rio itu tersenyum puas melihat Rio yang sedang kesulitan menghadapi dua orang sekaligus.
"Yang aib itu adalah Reino dan cucunya." Mulut Rio benar-benar tidak bisa dijaga ia selalu memancing amarah seseorang yang melawannya.
"KAU!" Farel hendak menarik kerah Rio namun tiba-tiba
DOR!!
Suara tembakan dari arah belakang Rio. membuat semuanya melihat ke asal suara tembakan itu.
"KAK ALEX?" Teriak Rio. "Guntur juga? Sedang apa kalian disini?" Ujar Rio.
"Ayah sedang menangani Kak Geo. Tadi aku sempat kerumah sakit dan melihatmu berlari dan menggunakan mobil polisi temanmu ini." Alex menjelaskan singkat bagaimana ia bisa sampai disana untuk menyusul Rio.
"Alex bukankah kau sudah tidak ada hubungannya lagi dengan keluarga kami? kenapa? Kenapa ikut campur?" Farel semakin membenci Rio yang memiliki banyak dukungan dari keluarga utama.
"Kau benar, tapi adikku Guntur masih menjadi salah satu petinggi keluarga kalian."
"Hehe, dasar tukang ngibul!" Farel makin terdesak karena sekarang posisinya sudah berbalik merugikan.
"Sifatmu yang seperti itu mirip sekali dengan kakek, jika bukan karena aku seorang polisi mungkin aku bisa saja membunuhmu kapan saja." Rio memancing emosi Farel kembali.
"Haris sebaiknya kita pulang! Sepertinya Kakek sudah pergi sangat jauh. Fillio pasti sudah mengejar sampah yang satu lagi." Farel pun pergi begitu saja menggunakan mobilnya. Begitupun dengan Haris.
beruntung kejadian tadi berada di jalanan yang sepi sehingga tidak membuat kemacetan di jalanan itu. Rio merasa lega ketika orang itu pergi.
"Sepertinya yang dibicarakan oleh Farel benar, Kakek Reino sudah pergi terlalu jauh kau tidak bisa mengejarnya lagi. Ayo kita pulang, melihat Giovanni tidak ada di rumah sakit sepertinya dia bisa saja pingsan di tempat kejadian."
Rio jadi teringat dengan kakak keduanya itu yang ia tinggalkan ditempat bowling bersama Arya dan Arka. "Kak Alex benar sepertinya ia benar-benar pingsan di tempat itu."
__ADS_1
Rio pun kembali menaiki mobilnya diiringi bersama dengan Alex dan Guntur di belakangnya.